Wawancara dengan aktivis sosialis Iran: “Kecurangan Pemilu” dan Gerakan di Iran Hari Ini (Diambil dari www.marxist.com)

2009/07/16

oleh : Ted Sprague

Jutaan rakyat Iran turun ke jalan menuntut perubahan rejim di Iran. Gerakan yang semula dipercikkan oleh “kecurangan pemilu” telah berubah menjadi gerakan menuntut hak-hak demokrasi sepenuhnya dan turunnya kediktaturan Republik Islam Iran. Berikut ini adalah wawancara (yang dilakukan pada tanggal 2 Juli 2009) dengan Arash Azizi, seorang aktivis sosialis dari Iran.

Ted Sprague (TS): Dapatkah anda jelaskan ke para pembaca mengenai kecurangan pemilu di Iran dan gerakan yang lahir dari situ?

Arash Azizi (AZ): Politik bekerja dengan cara yang misterius! Bila anda melihat semuanya dari permukaan saja, maka anda harus percaya kalau jutaan rakyat turun ke jalan, berhadapan dengan kekuatan brutal dari rejim yang opresif ini, hanya karena “kecurangan pemilu” di antara kandidat yang tidak memiliki perbedaan di dalam platform mereka! Tetapi bukan ini yang terjadi. Kita tidak bisa menganalisa peristiwa tanpa melihat konteks dan latar belakangnya.

Kenyataannya adalah rakyat berpartisipasi di dalam pemilu ini dan memilih Mousavi bukan karena platform dia atau apapun. Rakyat melihat sebuah perpecahan yang jelas di dalam klik penguasa Republik Islam dan mereka ingin menggunakan perpecahan ini. Mereka ingin memainkan sayap-sayap rejim ini untuk berseteru satu sama lain guna menyingkirkan mereka semua pada akhirnya. Sayap Mousavi mendukung sedikit pelonggaran atmosfir opresi untuk mencegah atau menunda kebangkitan rakyat melawan seluruh rejim ini. Tetapi sayap Khamenei dan Ahmadinejad tidak ingin memberikan kelonggaran ini. Mereka tahu bila mereka memberikan sedikit kebebasan, maka rakyat akan menuntut lebih dan tidak akan berhenti sampai mereka menumbangkan seluruh rejim ini. Inilah mengapa mereka [Ahmadinejad dan Khamenie] mengadakan kudeta, sebuah kudeta “velvet” [kudeta tak berdarah]. Baca entri selengkapnya »


SELAMAT DATANG PEMILU PRESIDEN BORJUIS 2009 (diambil dari buletin SADAR)

2009/07/03

Oleh Achmad R. Hamzah*

Pertarungan memperebutkan kursi nomor satu untuk periode 2009-2014 di negeri yang bernama indonesia baru saja dimulai. Dipastikan tiga calon akan bertarung untuk memperebutkan kurang lebih 170 juta suara yang tersebar di seluruh Nusantara. Adalah pasangan JK-Wiranto, SBY-Boediono dan Mega-Prabowo berlomba demi sebuah pasangan kursi. Kursi yang akan membawa mereka untuk menahkodai sekitar 240 juta rakyat yang bernaung di bawah payung Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Janji-janji manis ditebarkan dengan romantisme ibarat orang pacaran. Senjata beserta pelurunya telah mulai diluncurkan. Perang isu tak terelakkan lagi. Meskipun masih berkutat dengan isu-isu konservatif yang tidak menyentuh persoalan mendasar yang dialami oleh rakyat semisal isu Sipil-Militer, Jawa -Luar Jawa, primordialisme suku, agama dan isu-isu basi lainnya. Namun isu ini mampu menyihir dan mengilusi rakyat. Bayangkan saja, beberapa hari yang lalu, ribuan rakyat Sulsel, tak terkecuali bagi mereka yang termasuk rakyat pekerja ikut mendeklarasikan diri untuk mendukung salah satu pasangan calon, hanya karena termakan isu “Sikampotta, Saribattang, Sibola” (jika diartikan kira-kira artinya sekampung, sahabat, dan serumah).

Pada pemilihan presiden kali ini, kemunafikan kaum borjuis memang terlihat jelas. Dengan membawa isu ekonomi kerakyatan, mereka bermaksud memperlihatkan dan mencoba meyakinkan kepada rakyat bahwa keberpihakan mereka ada pada wong cilik seperti buruh, tani, nelayan dan kaum miskin kota. Padahal entah sadar atau tidak sadar sampai kapanpun, kaum borjuis tidak mungkin akan meletakkan keperbihakannya pada kelas rakyat pekerja.
Baca entri selengkapnya »


PERNYATAAN SIKAP PERHIMPUNAN RAKYAT PEKERJA

2009/07/03

No : 098/PS/KP-PRP/ e/VII/09

Tentang Tindakan Anti Serikat PT Plasindo Lestari Terhadap Pekerjanya

Berserikat adalah hak seluruh rakyat pekerja!

PT Plasindo menghalangi keberadaan serikat pekerja!

Salam rakyat pekerja,
Dalam berbagai materi dan pengalaman, telah terbukti bahwa serikat buruh atau serikat pekerja menjadi alat kekuatan buruh yang sangat nyata dalam melawan segala bentuk kesewenang-wenangan dan penindasan yang dilakukan oleh para kapitalis terhadap mereka. Untuk itu, upaya untuk menghancurkan atau meminimalisir peranan serikat buruh sering kali dilakukan oleh para kapitalis dan pemerintah kapitalis yang tunduk kepada kepentingan kaum modal tersebut.
Kasus upaya pemberangusan serikat buruh atau tindakan anti serikat juga telah terjadi di PT Plasindo Lestari, Karawang. Endang Saprudin, pengurus Serikat Pekerja Karawang (SPEK/anggota KASBI) di perusahaan tersebut telah mengalami intimidasi dari perusahaan. Hal tersebut dilakukan agar aktivitas Endang Saprudin di serikat buruh dapat dikurangi atau bahkan mengabaikan kegiatan-kegiatan dalam serikat buruh.

Sebelum kasus yang dialami Endang Saprudin ini, hal serupa juga dilakukan oleh PT Plasindo dengan memberhentikan Wahyu Kristiadi, Sekretaris SPEK di pabrik tersebut. Wahyu Kristiadi telah menjadi target manajemen untuk diberhentikan oleh perusahaan karena keaktifannya dalam kegiatan-kegiatan serikat buruh. Setelah itu target berikutnya adalah Endang Saprudin, dimana ia adalah juga anggota PRP.
Awalnya Endang Saprudin menanyakan permasalahan adanya beda warna pada order Teh Sisri Gula Batu. Ternyata diketahui perbedaan warna tersebut dikarenakan menggunakan jenis tinta yang berbeda. Hal ini kemudian menjadi pemasalahan yang panjang hingga pemaksaan pengunduran diri yang dilakukan oleh pihak manajemen perusahaan. Hal tersebut menjadi aneh, karena jika Endang Saprudin dinyatakan melakukan kesalahan, maka seharusnya dia cukup hanya mendapatkan Surat Peringatan. Namun pihak manajemen hanya menyatakan penawaran pengunduran diri tersebut merupakan permintaan dari manajemen.

Baca entri selengkapnya »