Arsip

Arsip Penulis

Membongkar Jejak Sejarah Korupsi di Indonesia (Diambil dari : www.networkedblogs.com)

Oleh : Herdiansyah Hamzah*

“Bagi saya, korupsi adalah suatu penyakit ganas yang menggerogoti kesehatan masyarakat seperti halnya penyakit kanker yang setapak demi setapak menghabisi daya hidup manusia (Selo Sumardjan dalam pengantarnya untuk buku ‘Membasmi Korupsi’ karya Robert Klitgaard, 1998.)”

Persoalan “korupsi”[2] belakangan ini, telah menjadi materi perbincangan umum di tengah masyarakat kita. Semakin meluasnya praktek korupsi, terutama dikalangan pejabat pemerintahan, menjadikan masyarakat mencoba meraba-raba dan mencari akar persoalan sesungguhnya, betulkah korupsi sudah menjadi budaya yang tidak mampu dihilangkan dalam kehidupan sehari-hari?.

Terlebih lagi, kasus-kasus korupsi yang menghambur-hamburkan uang Negara tersebut, tidak mampu diselesaikan secara tuntas oleh aparatur hukum kita. Wajar saja kemudian jika proses hukum yang cenderung lemah tersebut, semakin membuat masyarakat kita tidak percaya dengan penegakan hukum terhadap praktek korupsi.. Jika kita merujuk kepada kamus Indonesia-Inggris maupun Inggris-Indonesia, maka akan kita dapati arti korupsi sebagai sesuatu yang busuk, buruk, bejat, dapat disogok, suka disuap. Jadi pada mulanya, pengertian korupsi dalam delik, terbatas hanya kepada penyuapan saja, yang kemudian menjadi luas dalam Encylopedia Amerikana, yang menyebutkan bahwa korupsi itu bermacam-macam. Ada korupsi dalam bidang politik dan keuangan materiil. Read more…

Categories: HUKUM DAN HAM, POLITIK

Tetap Oposisi: Lawan Reformasi Neoliberal

(Tulisan ini adalah Pidato Politik Pimpinan Komite Pusat PRP pada Peringatan Hari Hak Asasi Manusia Sedunia dan Kongres Hari Ibu)

Jakarta, 10 Desember 2009

Pipa-pipa menancap di tubuh pertiwi kita

Asap-asap dari pabrik-pabrik

Mengotori pertiwi kita, Pak!

Limbah-limbah membuat sungai-sungai

dan kali-kali tercemar…. ……..

Kami terpaksa tutup hidung, Pak!

Pertiwi kita menangis

Pertiwi kita butuh kamu, Pak!

(Fitri Nganti Wani, putri Wiji Thukul, “Pulanglah, Pak!”)

Kawan-kawan seperjuangan,

Hari ini kita memperingati Hari Hak Asasi Manusia 10 Desember, hari kemarin kita memperingati Hari Anti-Korupsi Sedunia 9 Desember, dua minggu yang akan datang kita memperingati Hari Kongres Ibu 22 Desember, dan dua minggu yang lalu pula kita telah memperingati Hari Internasional Kekerasan terhadap Perempuan 24 Nopember. Hari-hari yang kami sebutkan itu berbeda dalam perspektif waktu dan ruang, namun mempunyai pertautan pada ujung yang sama di Indonesia, yakni kebrutalan mafia kekuasaan yang dipimpin oleh seorang patron ekonomi-politik untuk merepresi gerakan oposisi. Soeharto adalah patron ekonomi-politik yang berhasil menyusun mafia kekuasaan Orde Baru, yang melakukan pelanggaran HAM sejak Tragedi 1965 sampai dengan penembakan mahasiswa tahun 1999, melakukan korupsi secara sistemik, membiarkan brutalitas militer merajalela terhadap perempuan dalam situasi konflik di Papua, Aceh, Jawa, Timor Leste, dan mengukuhkan ideologi koncowingking (peran domestik) untuk depolitisasi perempuan Indonesia. Presiden SBY maupun presiden sebelumnya ternyata tidak ada yang secara tuntas menyelesaikan pelanggaran HAM di masa Soeharto. Sekali pun membentuk KPK untuk memberantas korupsi dan membuka akses perempuan ke ranah politik, namun pada dasarnya membiarkan berbagai macam pelanggaran HAM di masa Orde Baru, korupsi, dan kekerasan terhadap perempuan hanya tersentuh secara tebang pilih lalu kasusnya mengambang tanpa kabar. Read more…

Categories: PERNYATAAN SIKAP KAMI

Satu Hari di dalam Imaginasi Rakyat Pekerja (4)

oleh: Ruth Indiah Rahayu*

(sambungan)

Menyingkap imaginasi jamaah bokep?

 

Apa kurang kerjaan? Di tengah melawan “Buaya” dan “Dinosaurus”, ngapain nyingkap-nyingkap imaginasi jamaah bokep? Di tengah kita harus menangapi krisis politik ini, ngapain masih bermain imaginasi?? Huh, kamu sungguh tidak progresif -revolusioner! Kamu hanya membuang waktu untuk mengetik kata-kata yang –yakinlah– tak akan ada yang membaca. Karena di negeri ini, sedang ada persoalan yang lebih urgent dianalisa ketimbang berurusan dengan imaginasi!!

Kau benar, kawan! Negeri ini sedang krisis dan rakyat pekerja sedang membangun kekuatan oposisi. Mobilisasi massa, deklarasi, diskusi sedang memenuhi buku harian perlawanan rakyat. Kau selalu beanr, kawan!! Tetapi kali ini izinkanlah bagiku untuk ngeyel, untuk tetap bermain dengan imaginasi. Jika kemarin kalian telah berimaginasi dengan ogol-ogol buaya yang diarak dan dibakar dalam mobilisasi massa kaum cicak, lain kali juga dapat mengusung ogol-ogol CD atau baliho merek “Crocodile” . Sebab, politik para koruptor (yang pada umumnya laki-laki) secara simbolis berpusat pada organ kelaminnya yang lantas di beri pakaian celana dalam. Ini bukan porno. Ini ilmiah, menurut teori psikoanalisa. Nah, jika organ kelaminnya itu yang kita lecehkan, disadari atau ditolak, akan menyinggung aspek yang paling sensitif, yakni martabat penis sebagai simbol kekuasaan serasa diruntuhkan. Dalam sejarah, perang simbolis ini seringkali berhasil menyengat kemarahan baik pada tingkatan mafia kekuasaan maupun massa.

Jadi membincang bokep itu juga membahas politik. Tetapi bukan bokep untuk propaganda politik rakyat pekerja. Apa coba? Inilah yang hendak kuceriterakan, tentang seorang rakyat bekerja bernama Wiratno. Hahaha….nama itu jadul banget, pasti bahasa Indonesianya medok Jawa! Husy… reseh! Ya sudah, namanya kuganti dengan Simon, sebuah nama trans-nasional, yang tak lagi mengenal batas-batas teritorial negara. Eh, itu nama kawanku kau catut, bagaimana kalau dia tahu lalu marah? Ya, biarlah, itu konsekeusni trans-nasional di bidang nama. Rakyat pekerja di Sidoarjo, Jawa Timur, bisa saja pakai nama dari Venezuela, misal, Hugo Chavez, Marguerita. Pun rakyat pekerja di Inggris bisa pakai nama Wiratno, Siti Masyitoh, dan seterusnya. Jadi tak ada lagi pemilikan teritorial terhadap nama, akrena nama-nama telah mengglobal.

Read more…

Categories: UMUM

Melawan Imaginasi Loyo (3)

Oleh :  Ruth Indiah Rahayu

(sambungan)

Ah, pusing. Membahas imaginasi hanya semacam orang kentut. Ouw, bukankah kentut itu sesuatu yang diproduksi oleh tubuh kita, kawan? Sehingga apabila imaginasi digambarkan semacam kentut, itu berarti kita mengakui bahwa imaginasi merupakan sesuatu yang diproduksi dari dalam diri kita.
Masalahnya kita telah berhasil ditipu oleh konstruksi budaya yang membungkam daya imaginasi buruh/rakyat pekerja. Sudah barang tentu pembungkaman daya imaginasi itu berlangsung dalam mekanisme politik produksi dan ingatan kolektif tentang represi/kekerasan. Pembungkaman imaginasi kaum budak Afro-American terjadi dalam mekanisme penghambaan kepada tuan tanah. Sedangkan repetisi penaklukan melalui alat-alat kekerasan kepada kaum budak merekamkan ingatan kolektif kejamnya perbudakan. Ingatan kolektif buruh tak terlalu jauh dari deru mesin yang setiap saat dapat melumat tubuhnya hingga koyak. Dalam kebungkaman imaginasi, kaum buruh menyimpan ingatan kolektifnya sampai ke dasar sumur tak berbatas. Lalu seperti mesin pula membebek imaginasi yang disebut milik kaum borjuasi. Kita hendak menyerupai diri seperti kaum borjuasi namun karakter kita adalah buruh/kelas pekerja. Oh, sungguh, ibarat tubuh ini mesin-mesin yang kita balut pakaian dari bahan satin. Adapun yang tak sanggup membebek imaginasi kaum borjuasi –karena satu dan lain hal– membenci segala yang bernuansa imaginatif. Menjadi rakyat pekerja yang bijaksana untuk sementara waktu sebelum –pada akhirnya– menjadi pembebek borjuasi yang lebih setia.
Lho, jangan mencibir, saudara. Saya hendak menegaskan bahwa yang kita lawan bukanlah imaginasi borjuasi, tetapi konstruksi berpikir kita terhadap yang selama ini kita pandang sebagai imaginasi (konstruksi borjuasi). Karena imginasi itu mempunyai kekuasaan, maka pungut dan tegakkan imaginasi kita sebagai identitas rakyat pekerja. Dengan identitas itu kita lawan secara berhadap-hadapan atau kucing-kucingan imaginasi penguasa kebudayaan -pemonopoli imaginasi!, Read more…

Categories: UMUM