Implementasi Sistem Kesehatan: Belajar dari Sistem Kesehatan Kuba*

Oleh: Ede Surya Darmawan**

Pengantar

Makalah ini diawali dengan pertanyaan yang masih relevan dengan situasi yang dihadapi bangsa Indonesia saat ini yaitu: Mungkinkan sebuah negara miskin (seperti  Indonesia) mampu memberikan pendidikan yang bermutu dan pelayanan kesehatan berkualitas tinggi bagi warga negaranya? Adakah satu negara yang begitu tinggi memberikan perhatian bagi pengembangan sumber daya manusianya, walaupun secara ekonomi negara itu menghadapi kesulitan?

Pertanyaan-pertanyaan itu seolah mendapat  jawaban ketika kami (Delegasi Indonesia) melakukan kunjungan ke Kuba pada bulan Juni 2004 lalu. Tulisan  ini dibuat khusus untuk  seminar yang dilaksanakn FIKES UHAMKA dan sebagai pelengkapnya dapat merujuk pada opini bertajuk  Pendidikan di Negara Miskin yang telah dimuat di Republika pada tanggal 3 Juli 2004 lalu yang ditulis bersama dengan Prof. Samsuridjal Djauzi (Dosen FKUI) dan tulisan bertajuk Memperkuat Layanan Puskesmas diterbitkan dalam Harian Suara Pembaruan 11 Juli 2004. Lebih jauh, tulisan ini diharapkan dapat memberikan gambaran tentang alternatif dalam pilihan kebijakan publik bidang kesehatan bagi bangsa Indonesia yang saat ini sedang berbenah karena telah memiliki pemimpin baru, pemerintahan baru, dan tentu saja harapan baru.  Lanjut membaca

Menuntut Pembebasan Aktivis Koalisi Bersih 2.0!, Neoliberalisme Telah Mempersempit Ruang Demokrasi bagi Rakyat!

(Tulisan ini merupakan Pernyataan Sikap KP-PRP)

Salam rakyat pekerja,

Pada tanggal 9 Juli 2011, puluhan ribu rakyat pekerja di Malaysia melakukan aksi unjuk rasa terbesar untuk menuntut reformasi pemilu di Malaysia. Ini merupakan unjuk rasa terbesar yang kedua di Malaysia sejak Barisan Nasional memegang tampuk kekuasaan selepas negara tersebut merdeka dari Inggris pada tahun 1957. Pada tahun 2007, para oposisi di Malaysia juga sempat melakukan unjuk rasa dan mengalami tindakan represi dari rezim neoliberal di negara itu.

Pada aksi unjuk rasa kali ini, tindakan represi juga kembali dilakukan oleh rezim neoliberal di Malaysia. Sebelum pelaksanaan aksi unjuk rasa dilakukan, sudah sekitar 200 orang aktivis telah ditahan di seluruh wilayah Malaysia. Sebanyak 6 orang diantaranya, ditahan berdasarkan aturan hukum yang membolehkan penahanan tanpa melalui pengadilan. Banyak di antara aktivis oposisi yang kemudian dilepaskan, namun beberapa diantaranya menerima tuntutan melakukan aksi melawan hukum, karena berhimpun secara ilegal. Jika gugatan tersebut dikabulkan, para aktivis tersebut akan terancam penahanan puluhan tahun. Lanjut membaca

Mendukung Gerakan Perlawanan Rakyat di Kawasan Arab!!!, Neoliberalisme Menyebabkan Kemiskinan dan Pengangguran!!!

(Tulisan ini merupakan Pernyataan Sikap KP-PRP)

Salam rakyat pekerja,

Kawasan Arab hingga saat ini masih bergolak akibat “kemarahan” rakyat terhadap rezim Neoliberal yang berkuasa di negara-negara tersebut. Gerakan perlawanan rakyat yang bermula dari Tunisia dan akhirnya berhasil menumbangkan rezim Ben Ali, yang telah 23 tahun berkuasa, akhirnya mulai bergerak ke negara-negara tetangganya, seperti Mesir, Yaman, Aljazair, Jordania dan negara-negara lainnya. “Kemarahan” rakyat yang dipicu oleh kemiskinan, pengangguran, korupsi dan pemberangusan hak-hak rakyat, akhirnya mampu membuat panik rezim yang berkuasa, bahkan mampu menumbangkannya.

Angka kemiskinan dan pengangguran yang melonjak tajam di negera-negara kawasan Arab tentu saja disebabkan oleh rezim berkuasa yang menerapkan sistem ekonomi Neoliberalisme. Krisis ekonomi yang melanda dunia sekitar tahun 2008, akibat praktek Neoliberalisme, dicoba diatasi oleh para pendukung Neoliberalisme dengan upaya menyelematkan para pemilik modal. Alhasil, pemecahan masalah yang diterapkan oleh para pendukung Neoliberalisme tersebut malah menyebabkan krisis baru, yaitu krisis minyak dan krisis pangan. Lanjut membaca

Stop the Violence! Fight Zionism and Imperialism!

(This paper is a Solidarity Statement People Worker Association For Palestine)

The Working People Association condemned the Zionist Israel brutal attack at the humanitarian aid, which is known as Freedom Flotilla. The humanitarian aid was composed of six ships which were carrying 10,000 tones of aid. The plan is to bring the aid to Gaza which has been blockaded since 2007 by the Zionist Israel. The blockade has caused misery to the 1.5 million Palestinians in Gaza. In those ships were also dozens of journalists and volunteers from Indonesia. The raid itself has caused dozens of people die and tens of others injured. Israel has also put in prison other volunteers.

This crime against humanity is one of many crimes which have been perpetrated by the Zionist Israel, which Israel hasn’t yet been held responsible. This is also because of the support from the US ruling regime, even from Obama who recently received Nobel peace prize. This support is clearly seen from US veto against all UN Security Council resolutions that can put Israel into disadvantage, and how easy Israel can break all the resolutions from the UN Security Council. US has also provided 3 billion dollar support every year since 1985, this is excluding billions of dollars of military aid which the US provides every year. Lanjut membaca

Revolusi dan Konter Revolusi di Thailand (Diambil dari www.marxist.com)

Oleh : Alan Woods

Gejolak sosial dan politik di Thailand mencapai klimaksnya dengan pembentukan barikade di Bangkok pada awal Maret 2010, dimana puluhan ribu demonstran kaos-merah menduduki area pusat Bangkok. Dua bulan perjuangan yang sengit berakhir dengan serangan militer pada tanggal 19 Mei yang akhirnya berhasil menghancurkan basis kamp Kaos Merah. 85 orang mati dan ribuan lainnya terluka. Ofensif konter revolusioner meraih kemenangan, tetapi Thailand tidak akan pernah sama lagi. Sebuah perang kelas telah dimulai. Di Rajprasong, mereka bernyanyi: “Ini adalah perang kelas yang akan menyapu otokrasi”. Berikut ini adalah analisa yang ditulis pada hari penyerangan militer terhadap kamp kaos merah (19/5).

Di Rajprasong, mereka bernyanyi: “Ini adalah perang kelas yang akan menyapu otokrasi” Lanjut membaca

Demokrasi dan Kemanusiaan Untuk Rakyat Thailand!

(Tulisan ini merupakan pernyataan bersama Solidaritas Aksi Demokrasi dan Kemanusiaan untuk Rakyat Thailand)

Sejak bulan Maret lalu, Front Persatuan untuk Demokrasi melawan Kediktatoran (UDD) atau lebih dikenal dengan Kaus Merah, telah kembali melakukan demonstrasi besar-besaran melawan Pemerintahan Abhisit. Pemerintahan yang berkuasa bukan dari pemilihan demokratis namun bentukan militer dan direstui oleh Monarki. Tuntutan utama mereka adalah agar PM Abhisit mundur dan mengadakan pemilihan umum yang demokratis. Setelah beberapa kali mendapatkan ancaman pembubaran dengan paksa. Sejak hari Jumat kemarin, Abhisit menggunakan pasukan bersenjata lengkap untuk membubarkan Kaus Merah dengan kekerasan. Zona Peluru Tajam dibuat oleh militer untuk melegalkan kekerasan yang mereka lakukan. Pertarungan tidak imbang berlangsung di jalan-jalan kota Bangkok, pusat demonstrasi Kaus Merah. Lanjut membaca

SOSIALISME KOMUNITARIAN DI BOLIVIA (Diambil dari : Buletin SADAR)

Oleh: Roger Burbach *

Ketika presiden Bolivia, Evo Morales, diambil sumpahnya untuk masa jabatan kedua bulan Januari silam, ia menyatakan bahwa Bolivia adalah negara plurinational* yang akan membentuk “sosialisme komuniter.” Pada pidatonya, Wakil Presiden Álvaro Garcia Linare, membayangkan sebuah “cakrawala sosialisme” untuk Bolivia, dengan bercirikan “kesejahteraan, mewujudkan kemakmuran komunal, dengan menarik akar budaya lokal…” Proses tersebut “tak akan mudah, dapat memakan waktu puluhan—bahkan ratusan—tahun, namun jelas bahwa gerakan sosial tidak dapat mencapai kekuatan sejati tanpa menanamkan cakrawala sosialisme dan komunitarian.” [1] Lanjut membaca

“Menggugat Kedatangan Obama” Lawan Imperialisme !!

(Tulisan ini Merupakan Pernyataan SikapFront Oposisi Rakyat Indonesia)

Presiden Obama direncanakan akan datang ke Indonesia pada pertengahan Maret ini, sebagai rangkaian kunjungan ke Australia dan Guam. Kunjungan ini memiliki kepentingan ekonomi politik karena di tengah krisis ekonomi kapitalis global, terutama dalam rangka memperkuat kebijakan  properang dan promodal AS.

Kami telah mempelajari kesepakatan Obama dengan SBY tertuju pada sektor energi, pendidikan, bantuan militer, dan sebagainya, yang membuktikan tekanan neoliberalisme terhadap negara dunia ketiga semakin mencengkeram kehidupan rakyat di Indonesia yang mayoritas adalah buruh, tani dan nelayan. Lanjut membaca

Asean-China Free Trade Agreement Merugikan Rakyat Pekerja, Tolak kesepakatan pasar bebas antara ASEAN dan Cina!

(Tulisan ini Merupakan Pernyataan Sikap Komite Pusat Perhimpunan Rakyat Pekerja)

Salam rakyat pekerja.

Kesepakatan pasar bebas antara ASEAN dan Cina akan segera berlangsung pada tanggal 1 Januari 2010. Polemik mengenai berjalannya kesepakatan pasar bebas ini telah mengemuka di media massa. Dikatakan bahwa akibat kesepakatan pasar bebas yang akan segera berjalan di awal tahun 2010, menyebabkan hancurnya industri nasional akibat dibanjiri oleh produk dari Cina.

Promosi yang selalu digaungkan oleh rezim kapitalis SBY adalah dengan adanya kesepakatan pasar bebas ini tentunya akan menekan harga produk di pasar dalam negeri. Hal ini menurut rezim kapitalis SBY akan menguntungkan bagi rakyat Indonesia. Namun jelas pernyataan rezim kapitalis SBY tersebut merupakan penipuan terhadap rakyat Indonesia. Dengan berjalannya kesepakatan pasar bebas antara Cina dan ASEAN, termasuk Indonesia, maka rezim kapitalis SBY akan menghilangkan bea masuk bagi produk-produk dari Cina. Akibatnya adalah produk-produk Cina akan segera membanjiri pasar di Indonesia. Pada kenyataannya harga produk Cina lebih murah daripada produk-produk lainnya termasuk produk dari industri nasional. Namun hal ini nantinya akan berdampak pada hancurnya industri nasional dan berdampak pada PHK besar-besaran terhadap buruh. Lanjut membaca

Working People’s Association Solidarity Message for Malaysian People Struggle to Demand the Abolition of ISA (Internal Security Act) Pernyataan Solidaritas Perhimpunan Rakyat Pekerja untuk Perjuangan Rakyat Malaysia Menuntut Penghapusan ISA (Internal Security Act)

No.: 108/PS/KP-PRP/ e/VIII/09

supposing a flower

we are a flower that you don’t want to grow
you rather build

houses and grab lands

supposing a flower

we are a flower that you don’t want to exist
you rather build
highways and fences

supposing a flower
we are a flower that shed in our own earth

if we are flower
you are wall
but in those wall we spread seeds
that one day will arise together

with a conviction: you must destroy!
in our conviction
everywhere – tyranny must fall down!

(Wiji Thukul, Flower and Wall, 1988-1989)

On August 1st, 40,000-strong people march in Kuala Lumpur and the thousands who did not make it because of police roadblocks gave a very clear and precise message to Malaysia’s Prime Minister Datuk Seri Najib Razak: repeal the draconian Internal Security Act (ISA). The pro-ISA gathering fizzled out or was drowned by the immense anti-ISA gathering led by the Abolish ISA Movement (a coalition of 83 organisation) .This has been the biggest ever gathering organised against the ISA since the draconian law was enacted 49 years ago. The police used chemical-laced tear gas on the peaceful and well organised crowd. More than 400 people were arrested, including scores of PSM supporters. The gathering, spearheaded by the Parti Islam Se-Malaysia (PAS, Islamic Party of Malaysia) and other opposition parties, was the biggest opposition rally since the 2008 general election. The PSM and JERIT played prominent roles with the other parties in organising this huge gathering. It was a victory for the democratic movement and a blow to the government and the pro-ISA group. The detainees at the anti-ISA rally in Kuala Lumpur are detained at Markas Pasukan Gerakan Am Cheras and a small group detained in Bukit Jalil Police Station. From 2.30pm onwards, the police have been shooting tear gas and spraying chemical-laced water cannons towards the 10,000-strong crowd near Sogo shopping complex in Jalan Tuanku Abdul Rahman to force them to disperse. Another 2,000-strong crowd that marched from Masjid Negara to Pasar Seni was surrounded by FRU and police at Dataran Merdeka. Tear gas and chemical-laced water cannons were also used during aggressive attempts at dispersing the crowd. 49 years ago in August 1st 1960, Internal Security Act was legalized by the Malaysian Parliament. That was dominated by UMNO (United Malays National Organization) , MCA (Malaysian Chinese Association) and MIC (Malaysian Indian Congress). Since then this law has been used to suppress the democratic movement and freedom of expression.

Working People Association, calls and demand the following:

  1. Fully supports the struggle of Malaysia people to abolish ISA for a true democracy
  2. Urging Malaysian government to release all the pro democracy activists immediately and unconditionally
  3. Stop harassing the protestors from exercising their rights to assembly and stop this assult on their freedom of expression

Lanjut membaca