Oleh: Muhammad Ridha (Pengurus Komite Pusat PRP)
Dalam komentar pada bulan November 2008, pihak IMF, melalui direktur pelaksananya Dominique Strauss-Kahn, menyebutkan bahwa kita hidup dalam masa krisis finansial terbesar di AS semenjak depresi 1930-an. Namun sayangnya, pernyataan ini mengabaikan dua hal penting. Pertama, krisis ini tidak lagi hanya menyentuh masalah AS semata. Krisis pada saat itu juga menyentuh wilayah lain seperti Eropa, Jepang, dan berbagai negara yang dikenal sebagai negara “emerging market”. Sebuah gelombang penghancuran yang besar dan massif telah menghantam banyak negara di dunia seperti Islandia, Hungaria, Ukraina dan Pakistan. Kedua, kondisi itu tidak lagi dapat dilihat hanya sebatas sebagai krisis finansial; kejatuhan ekonomi saat itu juga menerpa bagian lain yang sering kali disebut sebagai “ekonomi riil.” Terpaan ini sangat terasa sekali pada sektor-sektor seperti konstruksi, otomotif dan konsumsi barang-barang publik. Output manufaktur turun drastis di negara-negara seperti Amerika Serikat, Zona Eropa, Jepang, dan bahkan Cina. Tiga besar industri otomotif Detroit (Chrysler, Ford dan General Motor) mencatat kerugian pada pelaporan keuangan mereka di pertengahan tahun 2008 hingga mencapai $28,6 miliar yang tentu saja mengancam mereka menuju kebangkrutan. Perdagangan bebas terbayang-bayangi jurang kehancuran mereka sendiri.[1] Lanjut membaca




