Jadikan 8 Mei sebagai Hari Perjuangan Buruh Perempuan Indonesia dan Marsinah sebagai Pahlawan Buruh Indonesia!

(Tulisan ini Merupakan Pidato Politik PRP Dalam Rangka Peringatan Hari Perjuangan Buruh Perempuan Indonesia)

Tangerang, 8 Mei 2012

hari-hari makin rawan

sia-sia kau mencari ketentraman

di hari-hari penuh ancaman

sia-sia kau cari aman

mari kita bangun jalan perlawanan

(Puisi Wiji Thukul, Nyanyian Kesesakan)

Aksi FORI di Makassar saat Memperingati Hari Perjuangan Buruh Perempuan

Kawan-kawan seperjuangan,

Setiap tanggal 8 Mei kita peringati hari gugurnya Marsinah, namun masih banyak buruh-buruh generasi baru yang tak tahu siapa Marsinah. Barangkali buruh-buruh saat ini lebih mengenal Ayu Ting Ting ketimbang Marsinah. Coba kami bertanya: apakah kawan-kawan tahu Ayu Ting Ting? Sekarang kami bertanya lagi: apakah kawan-kawan tahu Marsinah? Hanya sedikit yang tahu Marsinah sekali pun setiap tahun kita memperingatinya. Tetapi ada banyak yang tahu Ayu Ting Ting karena setiap menit suaranya terdengar di radio, di televisi, dan berkumandang dari mulut buruh di sela-sela rumah kontrakan. Kita lebih mudah mengingat “Alamat Palsu” sesuatu yang tak ada, sesuatu kebohongan ketimbang sesuatu yang nyata dari Marsinah, yakni suatu jalan perlawanan ketika hari-hari di pabrik makin rawan dan sia-sia mencari ketenteraman sehingga Marsinah pun berlawan. Tetapi barangkali juga kesalahan kami yang hampir tak pernah memperkenalkan Marsinah di sela-sela rumah kontrakan, di tengah-tengah kita bekerja di pabrik, di rapat-ratpat serikat kita atau pun di dalam pelatihan-pelatihan. Lanjut membaca

Kerja Perempuan dari Perspektif Teori Nilai Kerja: Suatu Kajian Teoritis Dani Radja

Oleh: Dani Radja

The labour of women and children was, therefore, the first thing sought by capitalist who used machinary – Karl Marx (1867)

Hubungan kelas proletariat dan perempuan sangat erat, setidak-setidaknya demikianlah yang dinyatakan oleh Karl Marx dalam karyanya Kapital, Jilid I. Marx lah yang mengatakan bahwa ketika revolusi industri pertama kali dilansir di Inggris pada abad ke-19, perempuan (dan anak) adalah target pertama kapitalis untuk dijadikan operator-operator mesin. Dan sampai sekarang hal ini masih berlangsung!

Tulisan ini bermaksud untuk meletakan fondasi teoritis kerja perempuan berdasarkan teori nilai kerja sebagaimana yang diuraikan Marx dalam Kapital, Jilid I. Feminisasi proletariat sebagai proses peningkatkan rasio perempuan dalam kelas pekerja merupakan  suatu tuntutan logis, keniscayaan, yang inheren dalam kapitalisme. Lanjut membaca

Perempuan Indonesia Saat Ini, Hidup Berlanjut dalam Kehancuran

(Tulisan ini Merupakan Pernyataan Sikap: Barisan Perempuan Indonesia, Gerakan Perempuan Anti Diskriminasi (GADIS) – Komunitas Indonesia yang Adil dan Sejahtera (KIAS) dalam Memperingati Hari Perempuan Internasional))

Berawal pada 8 Maret 1857, para buruh perempuan di pabrik pakaian dan tekstil di New York, Amerika Serikat, mengadakan sebuah aksi protes. Mereka menentang kondisi tempat kerja yang tidak manusiawi dan upah yang rendah. Polisi menyerang para pemrotes dan membubarkan mereka.

Dua tahun kemudian, juga di bulan Maret, untuk pertama kalinya para perempuan itu mendirikan serikat buruh sebagai upaya melindungi diri mereka dan memperjuangkan beberapa hak dasar di tempat kerja.

Berapa puluh tahun kemudian, 8 Maret 1908, sejarah mencatat, sebanyak 15 ribu perempuan turun ke jalan sepanjang kota New York menuntut diberlakukannya jam kerja yang lebih pendek, menuntut hak politik, dan menghentikan adanya pekerja di bawah umur. Mereka menyerukan slogan “Roti dan Bunga”, roti adalah sebagai simbol jaminan ekonomi dan bunga melambangkan kesejahteraan hidup. Kemudian pada 8 Maret 1910, diselenggarakan sebuah konperensi perempuan di Konpenhaden, Denmark, yang mengundang organisasi perempuan dan serikat buruh terutama dari negara-negara Eropa untuk membahas tentang krisis ekonomi-politik saat itu dan mencari solusinya. Lanjut membaca

Kartini Telah Dipecundangi Rezim Neoliberal

(Tulisan ini merupakan Pernyataan Sikap FOR-Indonesia dalam rangka perayaan Hari Kartini)

Ganti Rezim, Ganti Sistem!

Peringatan hari kelahiran Kartini yang jatuh pada 21 April telah menjadi komoditi fesyen yang diselenggarakan oleh sekolah-sekolah atau organisasi yang merayakannya. Rezim Neoliberal dan antek-anteknya telah mereduksi pemikiran Kartini sehingga yang tertinggal hanya atributnya—busana dan perlengkapan pesta peringatan. Hal ini menambah ekonomi biaya tinggi bagi perempuan ibu rumah tangga. Akibatnya, ingatan kolektif rakyat terhadap Kartini hanya terbatas pada busana dan bukan pada gagasan pembebasannya terhadap perempuan. Sedangkan aspek terpenting dari penggugatannya terhadap rezim kolonial dan feodal diasingkan dari pemikiran massa rakyat.

Pemikiran Kartini mengenai pembebasan perempuan dari kemelaratan, feodalisme dan penjajahan telah coba diwujudkan dalam perjuangan pergerakan perempuan sepanjang satu abad ini di Indonesia. Namun fakta ini tidak diperkenalkan di sekolah-sekolah atau organisasi apapun yang merayakan kartinian. Oleh sebab itu, dalam kesempatan Hari Kartini ini, kami menyampaikan pesan peringatan kepada publik tentang kondisi kritis yang dialami perempuan Indonesia saat ini. Lanjut membaca

PEREMPUAN ABAD 21

(Tulisan ini Dibuat Untuk Memperingati Hari Perempuan Internasional pada Tanggal 8 Maret 2010)

Oleh: Videlya Esmerella*

Persoalan mendesak kaum perempuan saat ini diseluruh dunia adalah “kemiskinan” (neoliberalisme) dan perang terhadap terorisme (militerisme) — yang jalin menjalin dengan bertahannya sisa-sisa feodalisme demi keberlangsungan kapitalisme. Capaian positif gerakan perempuan gelombang kedua yang seharusnya semakin sulit ditarik mundur oleh pemerintah neoliberal, seperti hak formal untuk upah dan kesempatan bekerja yang sama; serta kebebasan dari diskriminasi seakan mati langkah dihadapan neoliberalisme. Sejak Program Peyesuaian Struktural (SAP) diterapkan, hak-hak kaum perempuan yang sudah dimenangkan sebelumnya dipreteli. Pemotongan besar-besaran jaminan sosial–pendidikan dan tunjangan kesehatan–dinegara-negara berkembang, menghancurkan kaum perempuan. Lewat pembenaran hukum-hukum ideologi patriarki, persoalan ekonomi yang menindas kaum perempuan, seperti mendorong perempuan pada peranan isteri yang baik/patuh dan buruh yang murah. Ketiadaan akses terhadap kesehatan (khususnya reproduksi) ini membuat setiap tahun tingkat produktivitas kaum perempuan diseluruh dunia berkurang. Lanjut membaca

Seabad Hari Perempuan Internasional (8 Maret 1910 – 8 Maret 2010)

Clara Zetkin

Feminist Sosialis dalam Revolusi Komunis

Alles durch die Revolution!! Alles fur die Revolution!!

(propaganda Clara Zetkin pada 1921 untuk mendukung Revolusi perempuan Komunis)

Oleh : Ruth Indiah Rahayu*

Siapa yang belum mengenal Clara Zetkin?

Di kalangan aktivis gerakan sosialis di Indonesia ia tampak kurang sepopuler Rosa Luxemburg –sahabatnya sesama aktivis dari Jerman. Di kalangan aktivis gerakan perempuan dan buruh, tampak pula kurang dikenal. Sekali pun para aktivis merayakan Hari Perempuan Internasional setiap “8 Maret”, namun belum berarti mengenal penggagasnya. Lanjut membaca

Asal-usul Penindasan Perempuan (diambil dari www.prp-indonesia.org)

Perempuan berderajat lebih rendah daripada laki-laki – inilah anggapan umum yang berlaku sekarang ini tentang kedudukan kaum perempuan dalam masyarakat. Anggapan ini tercermin dalam prasangka-prasangka umum, seperti “seorang istri harus melayani suami”, “perempuan itu turut ke surga atau ke neraka bersama suaminya”, dll. Prasangka-prasangka ini mendapat penguatan dari struktur moral masyarakat yang terwujud dalam peraturan-peraturan agama dan adat. Lagipula, sepanjang ingatan kita, bahkan nenek-moyang kita, keadaannya memang sudah begini.

Tapi anggapan ini adalah anggapan yang keliru. Para ahli antropologi sudah menemukan bahwa keadaannya tidaklah selalu demikian.

Dalam masyarakat Indian Iroquis, misalnya, kedudukan perempuan dan laki-laki benar-benar setara. Bahkan, semua laki-laki dan perempuan dewasa otomatis menjadi anggota dari Dewan Suku, yang berhak memilih dan mencopot ketua suku. Jabatan ketua suku dalam masyarakat Indian Iroquis tidaklah diwariskan, melainkan merupakan penunjukan dari warga suku melalui sebuah pemilihan langsung yang melibatkan semua laki-laki dan perempuan secara setara. Keadaan ini berlangsung sampai jauh ke abad ke 19.

Dalam masyarakat Jermania, ketika mereka masih mengembara di luar perbatasan dengan Romawi, berlaku juga keadaan yang sama. Kaum perempuan mereka memiliki hak dan kewajiban yang setara dengan kaum laki-lakinya. Peran yang mereka ambil dalam pengambilan keputusanpun setara karena setiap perempuan dewasa adalah juga anggota dari Dewan Suku.

Demikian pula yang berlaku di tengah suku-suku Schytia dari Asia Tengah. Di tengah mereka, bahkan perempuan dapat diangkat menjadi prajurit dan pemimpin perang.

Namun jika kita cermati lebih lanjut, masyarakat-masyarakat di mana kedudukan perempuan dan laki-laki benar-benar setara ini adalah masyarakat nomaden, yang mengandalkan perburuan dan pengumpulan bahan makanan sebagai sumber penghidupan utama mereka. Suku-suku Indian Iroquis sudah mulai bertanam jagung, namun masih dalam bentuk sangat sederhana. Demikian pula yang berlaku di tengah masyarakat Jermania dan Schytia. Pertanian, bagi mereka, hanyalah pengisi waktu ketika hewan-hewan buruan mereka sedang menetap di satu tempat. Data-data arkeologi bahkan menunjukkan bahwa pertanian primitif ini hanya dikerjakan oleh kaum perempuan sebagai pengisi waktu senggang, dan tidak dianggap sebagai satu hal yang terlalu penting untuk dapat dikerjakan oleh seluruh suku secara bersama-sama.
Lanjut membaca