Tinggalkan komentar

Kontrol Buruh dan Nasionalisasi – Bagian II


Oleh : Rob Lyon
Pengalaman Soviet

Kontrol dan perencanaan ekonomi hanya bisa dilakukan dalam batas-batas tertentu yang ditentukan oleh level teknik (industri dan ekonomi) disaat sebuah tatanan sosial yang baru mengambil alih.

Di Rusia tahun 1917, karena keterbelakangan Rusia yang parah, tingkat kultural yang rendah, dan kaum buruh dan tani yang masih banyak buta hurup, tingkat teknik industri dan ekonomi Rusia sangatlah rendah. Bahkan setelah Revolusi Oktober, pengelolaan industri masih diserahkan ke tangan para kapitalis, menunggu sampai kaum buruh memiliki cukup keahlian untuk mengambil alih pegelolaan industri ke tangan mereka sendiri.

Pada akhir tahun 1917, Trotsky ditanya apakah ini merupakan tujuan dari pemerintah Soviet untuk menyita para pemilik perusahaan-perusahaan industri di Rusia. Jawaban Trotsky sangat panjang, dan saya minta maaf karena saya harus mengutip semuanya, tapi ini sangat penting karena kutipan ini menyoroti perencanaan ekonomi secara umum dari pemerintahan Soviet.

“Tidak, kita belum siap untuk mengambil alih semua industri. Akan tiba saatnya, tapi tak satu orang pun yang bisa mengatakan kapan. Untuk saat ini, dari laba perusahaan kita akan membayar kepada pemilik 5% atau 6% per tahun dari investasi riilnya. Tujuan kita saat ini adalah kontrol, bukan kepemilikan….”

“[Dengan kontrol] saya mengartikan bahwa kita akan memastikan bahwa pabrik-pabrik tidak akan dijalankan dari sudut pandang profit, tetapi dari sudut pandang kesejahteraan sosial yang dijalankan dengan demokratis. Misalnya, kita tidak akan membiarkan para kapitalis menutup pabriknya untuk membuat pekerja kelaparan hingga mereka bertekuk lutut atau karena perusahaan tersebut tidak bisa menghasilkan profit. Bila pabrik tersebut secara ekonomi menghasilkan produk-produk yang dibutuhkan, maka pabrik tersebut harus tetap dibuka. Jika para kapitalis menelantarkan perusahaannya, ia akan kehilangan semuanya, karena dewan direksi yang dipilih oleh buruh akan mengambil alih ….”

“Sekali lagi, ‘kontrol’ berarti bahwa semua pembukuan dan korespondensi perusahaan akan dibuka untuk publik, sehingga untuk selanjutnya tidak akan ada lagi rahasia bisnis. Jika perusahaan ini menemukan sebuah proses atau cara yang lebih baik dalam produksi, hal ini akan dikomunikasikan ke seluruh perusahaan lain dalam cabang industri yang sama, sehingga dengan cepat publik akan merealisasikan sepenuhnya manfaat dari penemuan tersebut. Pada saat ini, hal seperti ini disembunyikan dari perusahaan-perusahaan lain karena alasan profit, dan selama bertahun-tahun produk baru dibuat langka dan mahal untuk publik konsumen …

“ ’Kontrol’ juga berarti bahwa bahan-bahan baku utama yang terbatas jumlahnya, seperti batubara, minyak, besi, baja, dll., akan dibagikan ke pabrik-pabrik yang membutuhkannya untuk kepentingan sosial….”

“[Ini tidak akan dilakukan] menurut keinginan para kapitalis yang bersaing satu sama lain, tetapi berdasarkan data statistik yang dikumpulkan dengan lengkap dan hati-hati.” (In Defence of the Russian Revolution, Workers’ Control and Nationalisation oleh Leon Trotsky).

Karakter kontrol buruh selama Revolusi Rusia sangatlah eksplosif. Slogan kontrol atas industri diserukan pertamakalinya dalam skala yang luas oleh Partai Bolshevik pada tahun 1917, akan tetapi, slogan ini bukan diciptakan oleh Partai Bolshevik. Sama halnya dengan Soviet-soviet, kontrol buruh dan dewan-dewan pabrik adalah hasil dari sebuah gerakan spontan kelas buruh, sebagai sebuah metode perjuangan yang lahir dari perjuangan kelas itu sendiri.

Tentu, kontrol buruh sebenarnya dimulai sebagai sebuah perjuangan defensif untuk melawan sabotase dari para bos. Banyak pabrik-pabrik yang ditutup dan dikunci (lock-out), atau dibiarkan begitu saja. Dalam banyak kasus, kaum buruh, yang sedang mempertahankan pekerjaannya dan revolusi, menduduki pabrik-pabrik mereka. Dalam periode ini, gerakan kontrol buruh adalah gerakan yang pasif.

Tentu, setelah kemenangan Revolusi Oktober, pemerintahan Soviet mengeluarkan sebuah dekrit mengenai kontrol buruh yang didasarkan atas draf Lenin (Draf Regulasi Atas Kontrol Buruh, 1917). Dekrit ini mengakui komite-komite pabrik sebagai organ kontrol di tiap-tiap perusahaan, dan berusaha untuk mengorganisir mereka kembali pada tingkat wilayah, dan dalam Dewan Kontrol Buruh Seluruh Rusia.

Bolshevik, yang sadar bahwa adalah mustahil bagi Rusia yang masih terbelakang untuk mencapai sosialisme, dan sadar akan kurangnya pengalaman buruh Rusia dalam soal administrasi, ingin mendirikan suatu rejim kontrol buruh hingga bantuan datang dari revolusi di Barat, yakni dari Jerman yang memiliki kelas buruh yang kuat dan terdidik.

Meskipun demikian, Bolshevik menasionalisasi bank-bank – ini merupakan salah satu langkah yang paling penting yang diambil oleh negara Soviet yang masih muda ini. Nasionalisasi bank ini merampas salah satu alat yang paling efektif dari para pemilik bisnis-bisnis besar, baik pemilik asing ataupun Rusia, untuk mengorganisir sabotase, dan memberikan kepada negara Soviet sebuah perkakas ekonomi yang kuat, dan juga sebuah pusat statistik dan akuntansi yang penting dan efektif bagi seluruh ekonomi.

Salah satu masalah penting yang dihadapi oleh Bolshevik adalah perlunya mengorganisir kembali industri Rusia dan meningkatkan produktifitas buruh. Jika ini tidak bisa dilakukan, maka negara Soviet yang muda ini akan mati.

Setelah dekrit kontrol buruh dikeluarkan, kontrol buruh mengambil satu karakter yang penuh gemuruh dan kacau. Sebagaimana Paul Avrich menulis: “Efek dari dekrit ini memberikan dorongan kuat bagi munculnya sindikalisme dimana buruh dengan serta merta melampaui seluruh apparatus serikat buruh dalam mengontrol instrumen-instrumen produksi – sebuah sindikalisme yang hampir menghasilkan kekacauan yang parah.” (Paul Avrich, The Russian Anarchists, hal 162). Semakin banyak para bos yang meninggalkan Rusia, dan para buruh semakin didorong untuk mengambil kendali manajemen. Ekonomi Rusia hancur setelah empat tahun peperangan dan revolusi. Rusia ada di ambang keambrukan.

Para bos, secara alamiah, menolak kontrol buruh. Kontrol buruh, selanjutnya, dihadapkan dengan sabotase dan penutupan pabrik (lock-out). Hal ini kemudian dijawab dengan nasionalisasi sebagai hukuman. Sebagaimana yang telah dijelaskan oleh Trotsky, jika para bos mencoba untuk menyabotase atau menelantarkan pabrik, mereka kehilangan perusahaannya.

Kaum Bolshevik juga dihadapkan dengan disintegrasi dari otoritas pusat. Antara bulan November 1917 dan Juni 1918, banyak perusahaan dan pabrik yang dijalankan dibawah “swa-manajemen buruh”, yakni ide swa-manajemen dari kaum sindikalis. Partikularisme dan kepicikan ini merefleksikan keterbelakangan Rusia, tingkat perkembangannya yang rendah, dan ekonomi yang sebagian besar berdasarkan borjuis kecil pedesaan.

Banyak kaum Bolshevik dan para pimpinan buruh yang lain mengakui bahwa kecongkakan lokal dari tiap-tiap komite-komite pabrik dapat merusak ekonomi nasional sampai ia tidak dapat diperbaiki lagi, dan banyak dari komite-komite pabrik ini yang hanya memikirkan kepentingan mereka sendiri. Seperti yang dikatakan oleh seorang pemimpin buruh, “ini dapat menghasilkan atomisasi yang sama di bawah sistem kapitalisme.” (Avrich, The Russian Anarchists, hal 164).

Pemimpin buruh yang lain menulis, “kontrol buruh telah berubah menjadi sebuah usaha anarkistik untuk mencapai sosialisme di satu perusahaan, tetapi ini sebenarnya menyebabkan bentrokan-bentrokan diantara para buruh sendiri, dan menyebabkan kaum buruh menolak untuk menyediakan bahan bakar, metal, dll kepada satu sama lain” (Avrich, The Russian Anarchists, hal 164).

Trotsky sudah menjelaskan beberapa bahaya yang melekat di dalam sususan ini pada akhir tahun 1917. Ketika ditanya apakah komite-komite buruh atau manajer-manajer pabrik yang terpilih boleh bebas menjalankan pabrik sesuai dengan apa yang mereka ingini, dia menjawab, “Tidak, mereka akan tunduk terhadap kebijakan-kebijakan yang diturunkan oleh dewan lokal dari deputi buruh…[dan] kebijakan mereka akan dibatasi oleh regulasi-regulasi yang dibuat untuk tiap-tiap cabang industri oleh suatu badan atau lembaga dari pemerintah pusat.” (In Defence of the Russian Revolution, Workers’ Control and Nationalisation oleh Leon Trotsky)

Selanjutnya dia ditanya mengenai gagasan Kroptkin dan beberapa kaum anarkis, yang mana bahwa masing-masing pusat industri berdiri sendiri berkenaan dengan masalah pengendalian industri mereka.

“Komunalisme Kroptkin dapat bekerja hanya di dalam sebuah masyarakat yang sederhana yang berdasarkan pada pertanian dan industri rumah tangga, tetapi ini tidak sesuai dengan keadaan di dalam masyarakat industrial modern. Batubara dari lembah Donets dikirim ke seluruh Rusia dan sangat diperlukan dalam semua jenis industri. Sekarang, tidakkah anda melihat jika rakyat dari wilayah tersebut bisa melakukan apa saja yang mereka inginkan dengan batubara miliknya, mereka bisa menghentikan seluruh Rusia? Independensi penuh dari masing-masing wilayah atas industrinya akan menghasilkan perselisihan yang tak ada habisnya dan kesulitan-kesulitan dalam masyarakat yang telah mencapai tahapan spesialisasi industri di daerah lokal. Ini bahkan mungkin akan menyebabkan perang sipil. Kroptkin berpikir mengenai Rusia 60 tahun yang lalu, yakni Rusia di saat dia masih muda.” (In Defence of the Russian Revolution, Workers’ Control and Nationalization, oleh Leon Trotsky)

Paul Avrich (di dalam buku The Russian Anarchists) dan EH. Carr (di dalam buku The Bolshevik Rvolution vol 2), mencatat bahwa beberapa komite pabrik mencoba beraliansi dengan para pemilik pabrik. Kadang-kadang komite pabrik memohon kepada para pemilik pabrik untuk kembali guna membantu mendapatkan laba yang besar. Dalam beberapa kasus, komite-komite pabrik merampas dana pabrik untuk kepentingan sendiri atau menjual saham pabrik atau pabrik itu sendiri untuk kepentingan pribadi mereka, dan lalu membagi rampasan tersebut diantara mereka sendiri.

Sebuah laporan dari serikat buruh Inggris mengatakan bahwa dalam sekejap kaum buruh berubah menjadi “pemegang saham yang baru”. Paul Avrich menulis:

“Tiap-tiap pabrik mengirim “utusan” mereka ke propinsi-propinsi untuk membeli bahan bakar dan bahan baku, terkadang dengan harga yang sangat tinggi. Seringkali mereka menolak untuk berbagi barang-barang yang ada dengan pabrik-pabrik lain yang membutuhkannya. Komite-komite lokal menaikkan gaji dan harga asal-asalan, dan kadang-kadang bekerjasama dengan para pemilik sebagai imbal balik dari bonus-bonus khusus yang mereka terima.” (Paul Avrich, The Russian Anarchists, hal 163).

Banyak dari komite-komite hanya peduli dengan perusahaan mereka sendiri, bukan kepentingan ekonomi nasional secara umum. A.M. Pankratova menulis:

“Kita sedang membangun, bukan sebuah Republik Soviet, tetapi sebuah republik masyarakat kelas buruh yang berdasarkan perusahaan-perusahaan dan pabrik-pabrik kapitalis. Daripada sebuah pengorganisiran produksi dan distribusi sosial yang tegas, daripada kebijakan-kebijakan pengorganisiran masyarakat Sosialis, keadaan sekarang ini mengingatkan kita kepada komune-komune produsen yang otonom yang dimimpikan oleh kaum anarkis. ” (seperti dikutip oleh Victor Serge in Year One of the Russian Revolution dari The Factory Committees of Russia in the struggle for the Socialist Factory oleh A.M. Pankratova).

Tentu ada beberapa kisah sukses (seperti pabrik tekstil Moskow), tetapi kecenderungan seluruh perekonomian adalah menurun dan semakin semrawut. Ekonomi Rusia sedang menuju pada kehancuran total. Jelas situasi ini tidak kondusif untuk mengorganisasir produksi, untuk mengeliminasi kompetisi, atau untuk perencanaan ekonomi

Republik Soviet yang masih muda ini juga menghadapi problem-problem lain, seperti sabotase dari para ahli dan teknisi. Para ahli dan teknisi ini berharap bahwa pemerintah Soviet akan jatuh dalam hitungan minggu. Akibatnya mereka meninggalkan Rusia atau menolak untuk bekerja. Para ahli di Rusia 1917 tidak seperti para ahli dan teknisi sekarang ini. Kita akan kembali ke topik ini nanti ketika kita membicarakan Venezuela. Tetapi para ahli dan teknisi, para manajer level rendah dan pekerja kerah putih sekarang ini telah menjadi semakin proletariat. Mereka menghadapi serangan yang sama, pemotongan dan penurunan upah seperti yang dihadapi oleh kaum buruh. Adalah mungkin membawa mereka ke pihak kita, untuk meyakinkan mereka mengenai ide-ide kita dan selanjutnya memenangkan mereka ke pihak kita, seperti yang terjadi dalam beberapa kasus di Venezuela hari ini.

Namun, di Rusia tahun 1917, para ahli dan teknisi tersebut sangat diistimewakan. Mereka adalah putra putri dari kaum bangsawan dan borjuis. Mereka juga berpendidikan, yang sudah barang tentu merupakan keistimewaan tersendiri. Mereka bergaji tinggi dan memiliki posisi kuat. Mereka merasa terhina oleh gagasan negara buruh dan kontrol buruh. Mereka serentak menolak untuk bekerja, dan sebagai akibatnya melumpuhkan industri Soviet.

Oleh karena itu, pemerintahan Uni Soviet terpaksa membuat serangkaian kompromi, diawali oleh membayar para teknisi lebih tinggi daripada buruh biasa. Tentu saja, komisar politik ditempatkan untuk mendampingi mereka guna memastikan loyalitas mereka selama mereka dikirim ke pabrik-pabrik untuk membantu dalam pengoperasian pabrik. Ini sendiri adalah sebuah kebijakan kontrol buruh yang brilian, tetapi, meskipun begitu, ini tetaplah sebuah kompromi. Negara Soviet tidak punya pilihan lain – tanpa para ahli tersebut, industri tidak akan berjalan.

Seiring dengan perang saudara yang semakin menyelimuti Rusia di musim panas 1918, sabotase dari kelas penguasa semakin menajam. Rusia menghadapi kelaparan karena para petani kaya menimbun gandum mereka. Ketika pemerintah Soviet sangat kekurangan bahan bakar untuk persiapan perang, para bos minyak mengancam menutup pabrik mereka karena mereka yakin bahwa para buruh tidak dapat menjalankan industri tersebut. Semua kekuatan reaksioner di seluruh dunia dengan antusias sedang menunggu jatuhnya negara Uni Soviet yang masih muda ini.

Akibatnya, pemerintah Uni Soviet menasionalisasi cabang-cabang ekonomi utama pada bulan Juni 1918. Semua industri tambang, teknik, tekstil, barang listrik, kayu dan potongan kayu, tembakau, kaca, keramik, kulit, semen, karet, transportasi dan bahan bakar dinasionalisasi. Ini adalah industri-industri vital, dan perlu dilindungi dari sabotase kaum borjuis dan mengorganisir mereka kembali untuk keperluan perang sipil.

Kongres Dewan Ekonomi, yang dibentuk pada bulan Desember 1917, memutuskan untuk membentuk badan manajemen dari seluruh industri-industri yang dinasionalisasi yang tersusun sebagai berikut: 1/3 datang dari Dewan Ekonomi Daerah atau Supreme Economic Soviet, 1/3 datang dari serikat buruh, dan 1/3 lagi dari para buruh perusahaan itu sendiri. Komite pabrik diubah menjadi sel-sel inti dari serikat buruh, dan mulai mengelola dan mengatur industri. Langkah ini diambil untuk menjamin perencanaan ekonomi yang demokratis dan karakter sosial yang terkandung dalam ekonomi tersebut. Ia memastikan kontrol yang demokratis atas ekonomi oleh kelas buruh secara keseluruhan dan bukan hanya para buruh di tiap-tiap pabrik. Bentuk sindikalisme dan “swa-manajemen lokal”, yang mendominasi dari sebelum Oktober 1917 hingga musim panas 1918, telah menyebabkan pertentangan dan persaingan antara pabrik-pabrik, dan juga penimbunan barang-barang serta pencarian profit, dan pada akhirnya melumpuhkan perekonomian. Langkah-langkah baru dari negara Uni Soviet ini telah mengubah kecenderungan yang kacau di dalam ekonomi dan merupakan sebuah faktor utama mengapa Soviet mampu memenangkan Perang Sipil.

Sekarang saya tidak ingin masuk ke dalam masalah mengenai Stalinisme dan degenerasi Uni Soviet, karena ini bukan poin atau topik diskusi hari ini, tetapi cukup untuk mengatakan: bahwa demokrasi buruh, yaitu kontrol buruh dan pengelolaan industri oleh buruh tidak berkembang di bawah kondisi yang ideal di Rusia. Tetapi meskipun demikian, di negara yang berhadapan dengan keterbelakangan yang parah, yang sedang menghadapi sabotase secara umum tidak hanya dari borjuasi Rusia tetapi juga dari para ahli dan kaum imperialis, kaum proletar Rusia yang muda dan yang tidak berpengalaman ini, yang dikelilingi oleh musuh-musuh di semua sisi, mampu mengorganisir pengelolaan industri. Ini merupakan bukti kreativitas kelas buruh dan kemampuannya untuk mentransformasi masyarakat.

Namun, setelah selesainya Perang Sipil, Uni Soviet benar-benar hancur. Pada tahun 1921, produksi pertanian dan industri hanya 13% dari level sebelum perang. Tujuh tahun peperangan, revolusi, dan perang sipil telah memukul secara keras ekonomi dan negara Rusia secara keseluruhan. Semua yang ada digunakan untuk memenangkan Perang Sipil. Sebagaimana yang dikatakan Lenin, Kaum buruh muncul dari Perang Sipil menjadi “de-classed” (kehilangan kelasnya). Sebagian besar buruh yang paling maju telah menyerahkan nyawanya di garis depan peperangan. Kaum tani, yang membenci kota-kota besar dan pabrik-pabrik, dan murka karena pengalaman perang, dibawa ke kota-kota untuk mengisi pabrik-pabrik. Dalam banyak hal, adalah birokrasi dan bukan kaum buruh yang memenangkan Perang Sipil.

Dengan implementasi NEP (New Economic Policy; Kebijakan Ekonomi Baru) dan pertumbuhan birokrasi, demokrasi buruh diganti dengan kehendak kaum birokrasi yang semakin tumbuh dan menjadi semakin sadar akan dirinya sendiri. Pengelolaan industri oleh buruh digantikan dengan pengelolaan industri yang keliru oleh birokrasi.

Bersambung ke Bagian 3

(Diterjemahkan oleh Syaiful dan diedit oleh Ted S. Sumber: Workers’ Control and Nationalization – Part One oleh Rob Lyon, 23 Januari 2006)

Iklan

Tinggalkan Komentar, Komentar anda akan kami moderasi terlebih dahulu. Harap jangan mengirimkan link yang tidak perlu, khususnya link yang mengandung iklan dan spam

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: