Tinggalkan komentar

Organipónico de Alama


Havana , Cuba

Artikel ini diterbitkan dalam edisi khusus terkait dengan naiknya harga minyak oleh Permaculture Activist, Musim Semi 2006. Penulis, Megan Quinn, adalah direktur program luar (outreach director) dari The Community Solution, suatu organisasi non-profit di Yellow Springs, Ohio . Sumber : The Power of Community: How Cuba Survived Peak Oil, 25 Feb 2006, http://www.globalpu blicmedia. com/

Organipónico de Alamar merupakan proyek pertanian berbasis ketetanggaan, suatu kolektif pekerja yang menjalankan pertanian perkotaan skala besar, menghasilkan komoditi bagi pasar dan restoran-restoran. Perkakas tangan pertanian dan tenaga kerja menggantikan mesin-mesin pertanian yang digerakkan oleh BBM. Cacing-caing tanah dibudidayakan dan produksi kompos telah menciptakan tanah yang subur. Irigasi yang tertata membantu menghemar air untuk pertanian. Beragam aktivitas produktif makin mewarnai jajaran warna makanan sehat bak pelangi. Dibagian lain dari kehidupan ketetanggaan di Havana , karena sempitnya lahan untuk proyek pertanian yang sedemikian besar, para penghuninya secara kreatif mendirikan serangkaian taman sederhana yang dibangun mengelilingi lahan-lahan parkir dan menanam taman sayuran di beranda-beranda dan atap-atap rumah.

Sejak awal 1990-an, suatu gerakan pertanian perkotaan menyapu seluruh Kuba dan menempatkan 2,2 juta warga kota ke dalam jalur program pertanian berkelanjutan (sustainable urban agriculture). Sekelompok orang Australia yang datang sejak tahun 1993 telah ikut membantu usaha pembangunan gerakan akar-rumput itu untuk mengajarkan permakultur (permaculture), suatu sistem yang dibangun berdasarkan pertanian berkelanjutan yang jauh lebih sedikit mengkonsumsi energi karbon BBM.

Kebutuhan untuk membawa pertanian yang terintegrasi dengan kehidupan kota dimulai sejak kejatuhan Uni Soviet yang disusul dengan hilangnya lebih dari 50% impor minyak Kuba, makanan, dan 85% kehidupan perdagangan. Sektor transportasi mandek, rakyat Kuba mendekati bahaya kelaparan dan rata-rata berat badan orang Kuba turun hingga 30 pound. “Sejak semua itu terjadi dan semua upaya ini dimulai (pertanian permakultur. pen), rakyat kemudian mulai menanam apapun yang dapat mereka tanam,” ujar pemandu wisata pada kru film yang tahun 2004 mendokumentasikan bagaimana Kuba dapat bertahan hidup dari minimnya konsumsi BBM. Kru film itu merupakan sebagian staf The Community Solution, suatu organisasi non-profit dari Yellow Springs-Ohio. Kedatangan mereka adalah untuk menginformasikan tentang krisis minyak dimana ketika produksi minyak dunia sudah sedemikian tinggi hingga mencapai ambang batas situasi kelangkaan yang tidak mungkin dapat dibalik kembali. Beberapa analis memperkirakan bahwa situasi yang akan terus terjadi sepanjang dekade ini membuat model pertanian Kuba menjadi model yang layak untuk diikuti.

“Kami ingin melihat apa yang dapat kami pelajari dari masyarakat Kuba dan kebudayaannya yang membuat mereka mampu melampaui masa-masa sulit,” ujar Pat Murphy, direktur eksekutif  The Community Solution. “Kuba mempunyai sesuatu yang layak ditunjukkan kepada dunia bagaimana berhadapan dengan kesengsaraan yang timbul dari kelangkaan energi.”

Kelangkaan pasokan BBM tidak hanya telah mengubah secara mendasar atau mentransformasi pertanian Kuba secara mendasar. Bangsa itu juga secara perlahan bergerak menuju pemanfaatan energi terbarukan (renewable energy) dalam skala kecil dan mengembangkan suatu sistem transportasi massa hemat energi. Gerak itu dilakukan sambil mempertahankan sistem kesehatan preventif yang dijamin pemerintah, sistem pengobatan berbasis pendekatan konservasi sumber daya-sumber daya alam yang langka.

Situasi di Kuba pasca keruntuhan Uni Soviet dikenal oleh masyarakat Kuba sebagai Periode Khusus. Kuba kehilangan 80% pasar ekspornya dan impor jatuh hingga 80%. Kontribusi produk-produk yang dihasilkan  Kuba terhadap pendapatan dalam negerinya turun lebih dari sepertiganya. “Bayangkanlah pesawat yang tiba-tiba kehilangan mesinnya. Situasi itu benar-benar memukul,” ujar Jorge Mario, ekonom Kuba, pada kru film. Kehancuran yang menempatkan Kuba ke dalam suatu kondisi yang benar-benar terpukul. Bahkan sering terjadi pemadaman pasokan listrik dari pembangkit listrik berbasis BBM hingga 16 jam tiap harinya. Tingkat rata-rata konsumsi kalori di Kuba jatuh hingga sepertiganya.

Menurut laporan Oxfam,”di tiap kota , bis-bis berhenti bergerak, generator menghentikan produksi listriknya, pabrik-pabrik sunyi seperti kuburan. Mencari kecukupan pangan tiap hari menjadi aktivitas utama bagi sebagian besar orang Kuba.” Selain situasi kelangkaan pangan karena embargo Amerika Serikat, hilangnya pasar luar negeri membuat kebutuhan pangan Kuba dari impor tidak mencukupi. Terlebih lagi, tanpa pengganti model pertanian skala besar berbasis BBM, produksi pertanian turun drastis.

Kuba kemudian mulai menumbuhkan tanaman lokal organik yang dibutuhkan, mengembangkan pestisida alami, penyubur tanah alami sebagai pengganti pupuk kimia, dan mengintegrasikan buah-buahan dan sayuran ke dalam program diet mereka. Karena mereka tidak mendapatkan BBM untuk mobil-mobil tuanya, maka mereka berjalan kaki, naik sepeda, menumpang bis-bis, dan mengorganisasikan aktivitas menumpang pada kendaraan-kendaraan pribadi yang masih mampu membeli BBM. “kami mencapai solusi-solusi kecil yang tak terhingga banyaknya,” ujar Roberto Sanchez dari Yayasan Konservasi Alam bagi Kemanusiaan Kuba. “Krisis, perubahan, atau pun permasalahan yang timbul darinya dapat memicu itu semua (solusi-solusi kecil yang tak terhingga.pen) yang pada dasarnya bersifat adaptif. Kami sekarang ini sedang mengadaptasi diri.”

Sebuah Revolusi Pertanian Baru

Rakyat Kuba juga mengganti mesin-mesin yang berbasis BBM dengan tenaga sapi, dan model pertanian ketetanggaan mereka telah mengurangi biaya transportasi bahan pangan. Saat ini diperkirakan 50% sayuran di Havana dihasilkan dari dalam kota itu sendiri, sementara di kota-kota lainnya, baik kota besar maupun kecil, taman-taman kota menghasilkan lebih dari 80% hingga 100% dari seluruh kebutuhan pangan yang mereka perlukan. Dengan mengubah aktivitas bertaman sebagai pengisi waktu luang menjadi suatu kegiatan produksi, para individu dan organisasi-organisa si ketetanggaan memulai inisiatifnya dengan mengidentifikasi lahan-lahan tidur di kota yang tidak dimanfaatkan, menyiangi rumput dan gulma, lalu menanaminya.

Ketika orang-orang Australia itu datang ke Kuba mereka langsung mendemonstrasikan sistem permakultur dengan dana hibah bantuan sebesar $26,000 dari pemerintah Kuba. Dari situlah kemudian lahir Yayasan Konservasi Alam bagi Kemanusiaan Kuba yang berpusat di Havana . “Lewat demonstrasi permakultur, para penghuni kota mulai melihat banyaknya kemungkinan yang dapat mereka lakukan terhadap atap-atap rumah dan beranda-beranda mereka,” ujar Carmen Lopez, direktur pusat permakultur perkotaan, sambil berdiri di atas atap ditengah-tengah tanaman anggur, pot-pot tanaman dan unit-unit pengolahan kompos dari ban-ban bekas.

Sejak saat itu gerakan tersebut menyebar luas ke seluruh perkampungan di Havana . Sejauh ini pusat permakultur perkotaan telah melatih hingga lebih dari 400 orang di tiap lingkungan ketetanggaan dan mendistribusikan media publikasi bulanan El Permacultor. “Komunitas bukan hanya telah belajar tentang permakultur” kata Lopez, “tetapi kita juga telah belajar tentang komunitas, membantu sesama tetangga dimanapun mereka diperlukan.”

Salah satu pelajar permakultur yaitu Nelson Aguila, seorang insinyur yang kemudian menjadi petani, menumbuhkembangkan tanaman pangan terintegrasi di atap rumahnya. Hanya sekian ratus meter persegi ia juga beternak kelinci, ayam, dan banyak lagi tanaman dalam pot-pot besar. Sementara itu dilantainya berlarian marmut-marmut yang memakan sisa-sisa makanan kelinci, dan menjadi sumber protein penting bagi para tetangganya. “Banyak hal telah berubah,” kata Sanchez. “Inilah ekonomi lokal. Di tempat lain, orang tidak saling kenal dengan tetangga-tetanggany a. Mereka tidak tahu nama tetangga-tetanggany a. Orang tidak saling menyampaikan salam satu sama lain. Tetapi di sini tidak”

Sejak berpindah dari model pertanian intensif berbasis kimia ke model pertamanan dan pertanian organik, Kuba sekarang telah mengurangi penggunaan pestisida sebesar 21 kali lipat dibanding pada masa Periode Khusus. Mereka kini telah menuntaskan produksi pestisida dan pupuk alami berskala besar, mengekspor sebagian dari produksi itu ke berbagai negara Amerika Latin.

Meskipun mengalami situasi penuh ketegangan dalam proses transisi menuju produksi pertanian dan peternakan organik, masyarakat Kuba kini merasakan dan dapat melihat  keuntungan-keuntung an yang dihasilkan dari situasi itu. “Salah satu bagian terbaik dari krisis adalah kita kembali mengunakan tenaga-tenaga sapi,” kata Miguel Coyula, seorang spesialis pemberdayaan komunitas. “Mereka kini bukan hanya telah menghemat BBM, mereka juga tidak mengolah tanah dengan cara yang sama seperti ketika menggunakan traktor, dan kaki-kaki para sapi telah turut memuliakan tanah dengan terus menerus menginjak-injak bumi.”

“Pertanian Kuba yang sebelumnya dilakukan lewat Revolusi Hijau tidak pernah mampu memberi makan rakyat,” ujar Sanchez. “Memang model eksploitasi alam pertanian semacam itu memberi hasil yang tinggi, tetapi model itu diorientasikan pada model industri perkebunan. Kami mengekspor jeruk, tembakau, gula dan kami mengimpor kebutuhan-kebutuhan dasar. Jadi sistem itu, bahkan dalam situasi yang normal sekalipun, tidak pernah dapat memenuhi kebutuhan dasar anggota masyarakat kami.”

Belajar dari pengetahuan tentang permakultur, Sanchez berkata,“Kau harus mengikuti irama alam sehingga kau bisa mendapat manfaat darinya, bukan dengan bekerja melawan alam. Dengan bekerja melawan alam, kau akan menghamburkan sejumlah besar energi.”

Solusi-solusi Energi

Karena sebagian besar kelistrikan Kuba sebelumnya digerakkan oleh impor minyak, maka kelangkaan mempengaruhi hampir setiap orang di pulau itu. Pemadaman rutin selama beberap hari berlangsung selama beberapa tahun. Tanpa lemari es, makanan akan busuk. Tanpa kipas angin, cuaca panas hingga 80-90 derajat Fahrenheit jadi tidak tertanggungkan di negara itu

Jalan keluar permasalahan krisis energi di Kuba tidak tempuh dengan mudah. Tanpa uang, Kuba tidak dapat membangun tenaga nuklir, pembangkit listrik baru yang berbahan bakar minyak, atau bahkan sistim listrik kincir angin dan pembangkit listrik tenaga surya berskala besar. Jadi negara itu beralih fokus pada pengurangan konsumsi energi dan mengimplementasikan proyek-proyek pembangkit energi terbarukan dalam skala yang kecil-kecil.

Organisasi Ecosol Solar dan Cuba Solar adalah dua organisasi yang kini memimpin jalan produksi dan pendayagunaan energi terbarukan di Kuba. Mereka membantu mengembangkan pasar bagi konsumsi energi terbarukan, menjual dan merakit sistem-sistemnya, melakukan penelitian, mempublikasikan berita-berita informatif, dan melakukan studi-studi tentang  efisiensi bagi penggunaan energi dalam skala besar.

Ecosol Solar telah merakit 1,2 megawat daya listrik sel matahari (solar photovoltaic panels) baik untuk keperluan tiap rumah tangga dengan kapasitas 200 watt dan keperluan sistem yang lebih besar dengan kapasitas 15-50 kilowat. Di Amerika Serikat, daya 1,2 megawat mencukupi sekitar 1000 rumah tangga, tetapi lebih dari cukup untuk menyediakan rakyat Kuba dimana alat-alat listrik rumah tangga sangatlah sedikit, dimana konservasi alam merupakan cara hidup, dengan bentuk rumah-rumah yang lebih kecil. Sekitar 60% hasil instalasi listrik Ecosol Solar diperuntukkan bagi program-program sosial seperti perumahan, sekolah-sekolah, fasilitas-fasilitas kesehatan, dan pusat-pusat kegiatan komunitas di pedesaan Kuba. Saat ini sistim daya listrik sel matahari telah menerangi 2.364 sekolah dasar di seluruh Kuba dimana tidak ditarik bayaran. Selain itu, Ecosol Solar juga mengembangkan model pemanas air berbentuk ringkas, yang bisa dipasang ditiap pompa dengan listrik sel matahari, dan mesin-mesin pengering berbasis energi matahari.

Sebuah kunjungan ke Los Tumbos, suatu komunitas pedesaan pengguna energi matahari di sebelah barat-daya Havana memperlihatkan dampak positif dari strategi solusi energi tersebut. Jadi ketika tidak ada listrik, tiap rumah tangga sekarang mempunyai panel matahari yang memberi tenaga untuk radio dan lampu penerangan mereka. Sistem daya kelistrikan yang lebih besar bagi sekolah dan rumah sakit, juga disediakan bagi pusat kegiatan komunitas dimana para anggota komunitas berkumpul bersama menonton program-program berita yang disebut “Meja Bundar”. Selain membuat para penghuninya melek informasi, televisi mempunyai manfaat tambahan menjadi perekat anggota-anggota komunitas secara bersama-sama.

“Matahari telah mencukupi kami untuk mempertahankan hidup di bumi hingga jutaan tahun ke depan, “ujar Bruno Beres, direktur Cuba Solar. “Hanya ketika manusia hadir dan mengubah cara memanfaatkan energi maka matahari tidak lagi dianggap mencukupi. Jadi masalahnya terletak pada diri masyarakat kita sendiri, bukan pada (ketersediaan) energi.”

Transportasi—Suatu Sistem Berkendara dengan Berbagi (A System of Ride Sharing)

Masyarakat Kuba juga menghadapi persoalan ketersediaan sarana transportasi dalam upaya pelaksanaan program diet energinya. Solusinya kemudian muncul dari kecemerlangan nenek moyang orang Kuba, yang kini sering dikutip oleh rakyat Kuba, “Kebutuhan adalah ibu dari penemuan.” Dengan hanya sedikit uang atau BBM, sejumlah besar massa rakyat Kuba bergerak beraktivitas tiap hari menuju Havana untuk bekerja. Melalui suatu pendekatan yang inventif, tiap kendaraan besar maupun kecil digunakan untuk membangun sistem sarana transportasi massal tersebut. Para penglaju itu berkendara dengan gerobak, bis-bis, dan kendaraan transportasi lainnya, baik yang bermotor maupun yang ditarik oleh binatang.

Salah satu kendaraan transit Havana yang istimewa diberi nama “unta”, yaitu sejenis kendaraan setengah-trailer, ditarik oleh traktor dan dapat memuat 300 penumpang. Sepeda kayuh dan sepeda motor yang hilir mudik di Havana juga didayagunakan menjadi becak sehingga dapat memuat lebih dari dua orang. Sementara kuda-kuda digunakan untuk menarik kereta, truk-truk tua yang besar didayagunakan oleh kota-kota kecil di Kuba.

Pejabat-pejabat pemerintah mendayagunakan hampir seluruh kendaraan dan truk-truk pengangkutnya di jalan-jalan Havana bagi orang-orang yang hendak bepergian. Kendaran pick-up jenis Chevrolet tahun 1950-an yang melaju diisi oleh 4 orang di depan bersama supir, dan empat lagi dibelakang. Kereta keledai yang berlisensi sebagai taksi tertambat di pinggir-pinggir jalan kota-kota di Kuba. Banyak truk yang dialih-fungsikan menjadi kendaraan penumpang dengan cara membuat tangga naik turun dibagian belakang untuk memudahkan penumpang masuk-keluar.

Perawatan Kesehatan dan Pendidikan—Prioritas Nasional

Meskipun Kuba adalah negara miskin dengan jumlah pendapatan kotor perkapita hanya sebesar $3,000 per tahun, hingga menempatkannya diurutan ketiga terbawah dari seluruh kekayaan perkapita masing-masing bangsa di muka bumi, tingkat harapan hidup sama tingginya dengan yang di Amerika Serikat. Tetapi tingkat kematian bayi ada di bawah Amerika Serikat. Dan hampir sama dengan Amerika Serikat, tingkat melek hurufnya mencapai 97% dari seluruh populasi. Sama seperti sistem kesehatannya, sistem pendidikan bagi seluruh populasi di Kuba gratis.  Ketika Cuba mengalami masa-masa penderitaan akibat dari puncak krisis minyak, mereka tetap mempertahankan sistem kesehatan yang digratiskan sebagai salah satu faktor utama mengapa mereka tetap mampu bertahan. Orang-orang Kuba sering menekankan berulang-ulang betapa bangganya mereka terhadap sistem yang mereka miliki.

Sebelum Revolusi Kuba tahun 1959, hanya ada satu dokter untuk tiap 2.000 penduduk. Sekarang ada satu doktor bagi tiap 167 orang. Kuba juga telah mempunyai sekolah kedokteran berskala internasional dan melakukan pelatihan-pelatihan bagi dokter-dokter dari berbagai negara miskin lainnya. Tiap tahun terdapat 20.000 dokter Kuba yang ada di luar negeri melakukan pekerjaannya. Dengan langkanya daging dan berlimpahnya sayuran lokal segar sejak 1995, orang-orang Kuba sekarang mengkonsumsi makanan sehat, rendah lemak, dan melakukan diet hingga hampir bisa dikatakan jadi vegetarian. Mereka juga mempunyai gaya hidup sehat di alam terbuka, berjalan kaki dan mengendarai sepeda telah menjadi suatu hal yang umum. “Sebelumnya, Kuba tidak mengkonsonsumsi sedemikian banyak sayuran. Nasi dan kacang serta daging babi adalah menu dasarnya,” ujar Sanchez dari Yayasan Konservasi Alam bagi Kemanusiaan Kuba.”Pada titik tertentu, kebutuhan yang mendesak telah mengajari mereka, dan sekarang mereka meminta sayuran.”

Dokter-dokter dan perawat-perawat hidup bersama di dalam komunitas dimana mereka bekerja dan biasanya tinggal di lantai atas klinik. Di daerah terpencil, bangunan tiga lantai dibangun dimana ruang praktek dokter ada di lantai paling bawah dan lantai dua dan tiganya digunakan sebagai tempat tinggal, satu untuk dokter dan satu untuk perawat.

Di kota-kota,  dokter-dokter dan perawat-perawat selalu hidup bersama dengan tetangga-tetangga yang mereka layani. Mereka mengenal masing-masing keluarga pasien dan berusaha merawat pasien di rumahnya masing-masing. “Pengobatan adalah suatu keterampilan, bukan pekerjaan,”tutur salah satu dokter perempuan di Havana sebagai penunjuk motivasinya yang kuat untuk melayani. Di Kuba, 60% dokter adalah kaum perempuan.

Pendidikan adalah aktivitas sosial yang paling penting di Kuba, Sebelum Revolusi 1959, hanya ada satu guru untuk 3.000 orang. Sekarang rasio itu mengecil jadi satu guru untuk 42 orang dengan rasio guru-murid 1:16. Kuba menyumbangkan persentase kaum profesional yang sangat besar dari sebagian besar negara berkembang. Dengan jumlah penduduk hanya 2% dari seluruh populasi di Amerika Latin, Kuba mengisi proporsi 11% dari seluruh jumlah ilmuwan di kawasan itu.

Dalam upaya untuk menghambat migrasi dari desa ke kota sepanjang Periode Khusus, pendidikan tinggi telah disebarluaskan ke tiap-tiap propinsi, memperluas kesempatan belajar sambil menguatkan komunitas pedesaan. Sebelum Periode Khusus, hanya ada 3 lembaga pendidikan tinggi di Kuba. Sekarang telah berdiri 50 kolese dan universitas di seluruh negeri dimana hanya 7 ada di Havana .

Kekuatan dan Kekuasaan Komunitas (The Power of Community)

Sepanjang perjalanannya, kru film dokumenter melihat dan mengalami determinasi, optimisme, dan perasaan berkelimpahan yang dimiliki oleh masyarakat Kuba. Seringkali terdengar pernyataan, “Sí, se puede” atau ”Ya, itu/ini dapat dilakukan.”

Rakyat Kuba bicara tentang nilai-nilai perlawanan untuk menunjukkan determinasi mereka melampaui berbagai macam tantangan. Mereka telah hidup di bawah blokade ekonomi Amerika Serikat selama puluhan tahun sejak 1960 sebagai ujian terbesar kemampuan orang Kuba untuk bertahan dan melawan.

Ada banyak pelajaran dari bagaimana Kuba menanggapi hilangnya BBM murah dan berlimpah. Staf dari The Community Solution memandang pelajaran sperti itu sangatlah penting, khususnya bagi rakyat merdeka di negara-negara berkembang yang mengisi 82% populasi di muka bumi yang hidupnya di ujung tanduk. Tetapi negara maju pun sebenarnya juga rentan terhadap kelangkaan energi. Dan dengan datangnya gelombang kelangkaan minyak, seluruh negara harus beradaptasi dengan realitas dunia konsumsi energi yang rendah.

Bersama dengan realitas baru itu, pemerintah Kuba mengubah moto 30 tahun perjuangannya dari “Sosialisme atau Mati” menjadi “Suatu dunia yang lebih baik adalah mungkin.” Pejabat-pejabat pemerintah pun memperkenankan para petani pengusaha dan organisasi-organisa si ketetanggaan untuk menggunakan tanah publik guna menanam dan menjual hasil produksi pertaniannya. Mereka mendorong terjadinya proses pembuatan keputusan hingga ke tingkat akar-rumput dan menyemangati inisiatif yang tumbuh dari hidup ketetanggaan rakyatnya. Mereka menciptakan tumbuhnya propinsi-propinsi. Mereka mendorong migrasi kembali ke area-area pertanian dan pedesaan serta mengorganisasikan kembali pemekaran propinsi yang segaris dengan kebutuhan pertanian.

Dari sudut pandang The Community Solution, Kuba telah melakukan apa yang diperlukan untuk bertahan, terlepas dari ideologi ekonomi yang tersentralisasi. Berhadapan dengan puncak kenaikan harga dan penurunan produksi minyak dunia, akankah Amerika Serikat mengambil jalan yang diperlukan untuk tetap selamat, lepas dari ideologi individualisme dan konsumerismenya? Akankah orang-orang Amerika Serikat akan bersatu menjadi komunitas, seperti yang orang-orang Kuba lakukan, dalam semangat berkorban dan saling mendukung? “Perubahan iklim, naiknya harga minyak, dan krisis energi…” ujar Beres dari Cuba Solar, menambah daftar tantangan yang dihadapi oleh manusia beserta kemanusiaannya. “Yang harus kita ketahui adalah bahwa dunia terus berubah dan kita juga harus mengubah cara kita memandang dunia.”

———— -&&&&&&&&&&———— –

Diterjemahkan oleh     : Kopka Wiratno, aspri Muh BIJIyanto.

Untuk                                : Perhimpunan Rakyat Pekerja

Artikel ini diterbitkan dalam edisi khusus terkait dengan naiknya harga minyak oleh Permaculture Activist, Musim Semi 2006. Penulis, Megan Quinn, adalah direktur program luar (outreach director) dari The Community Solution, suatu organisasi non-profit di Yellow Springs, Ohio . Sumber : The Power of Community: How Cuba Survived Peak Oil, 25 Feb 2006, http://www.globalpu blicmedia. com/

Iklan

Tinggalkan Komentar, Komentar anda akan kami moderasi terlebih dahulu. Harap jangan mengirimkan link yang tidak perlu, khususnya link yang mengandung iklan dan spam

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: