Tinggalkan komentar

Fundamentalisme dan Apatisme punya akar yang sama


oleh : Ken Budha Kusumandaru

Fundamentalisme dan apatisme berakar pada cara berpikir yang sama: penerimaan tanpa sikap kritis terhadap pernyataan-pernyata an dari mereka yang dianggap “orang benar”. Entah dalam kehidupan politik, dalam kehidupan sosial (termasuk dalam pekerjaan) maupun dalam kehidupan pribadi, sikap tidak kritis dan anti-nalar ini sudah demikian merasuk.

Dalam kehidupan politik, misalnya, sikap menerima bulat-bulat apa yang dikatakan para pemimpin bisa menyebabkan orang buta akan kebohongan-kebohong an para pemimpin itu. Di sisi yang satu, sikap apatisme yang muncul: begitu melihat SBY bagi-bagi beras buat orang miskin atau bagi-bagi amplop BLT, orang lantas terima percaya begitu saja kalau SBY adalah orang yang “pro-rakyat”. Di sisi ekstrim lainnya, banyak orang percaya begitu seorang seperti Noerdin M Top mengatakan: kalau kamu melakukan bom bunuh diri, itu artinya jihad dan kamu dijamin masuk surga. Noerdin M Top hanyalah contoh yang terekspos. Aku sudah pernah mendengar kotbah di mesjid dekat rumah yang menyerukan agar semua “orang kafir” dibunuh.

Dalam kehidupan professional, kita juga melihat bagaimana begitu banyak orang menjadi ABS, yang mengiyakan begitu saja semua yang dikatakan bos. Di ujung ekstrim lainnya, kita melihat juga banyak orang yang tidak dapat menyesuaikan diri terhadap hirarki dan menjadi “trouble-maker”—apapun kata bos adalah salah.

Dalam kehidupan pribadi, kita juga melihat banyak orang terkiwir-kiwir begitu pasangannya mengatakan “Aku sayang kamu”; lantas bersedia melakukan berbagai hal demi “sayang” itu. Belakangan, si perempuan hamil dan si laki-laki melarikan diri. Begitu didatangi ke alamat yang diberikan, ternyata si laki-laki tidak tinggal di situ. Kita dapat membaca banyak berita semacam ini di Koran-koran kuning semacam Lampu Merah. Di ujung ekstrim yang lain, banyak jomblo-ers sejati yang tidak bisa percaya pada lawan jenis, yang anti pada komitmen dan yang menganggap semua laki-laki (atau semua perempuan, dalam kasus lain) sebagai pengkhianat.

Sikap ekstrim ini tidak akan terjadi jika kita terlatih dalam berpikir ilmiah. Berpikir ilmiah bukanlah mengenai rumus-rumus atau persamaan-persamaan matematika atau pembagian mahluk hidup berdasarkan ciri-cirinya. Justru rumus, persamaan atau takson itu merupakan turunan dari cara berpikir yang ilmiah. Cara berpikir ilmiah adalah satu himpunan teknik penelusuran fakta dan pemecahan masalah yang berdasarkan pada fakta.

Kenapa cara berpikir ilmiah yang harus kita pakai? Karena cara berpikir ilmiah sudah memberi kita begitu banyak kemajuan dalam kehidupan kita sebagai manusia. Cara berpikir ilmiah sudah memberi kita berbagai jenis kendaraan yang memudahkan kita bepergian, AC untuk membuat kita sejuk di kala kepanasan, pemurni air yang membuat kita bisa minum air dengan sehat, komputer dan berbagai peralatan untuk membantu kita bekerja; masih banyak lagi. Sedangkan cara berpikir yang tidak kritis dan tidak ilmiah telah memberi kita Abad Pertengahan yang Gelap, Inkuisisi dan Pembakaran Hidup-hidup atas mereka yang dituduh penyihir; juga memberi kita terorisme dan Taliban, berbagai kerusuhan antar agama dan suku yang dilandasi oleh sikap saling membenci antar manusia.

Tentu saja ilmu pengetahuan juga memberi kita bom atom dan senjata-senjata pemusnah massal. Tapi ini semua adalah ketika teknologi berada di tangan mereka yang tidak bertanggung jawab dan masyarakat tidak bersikap kritis terhadap para pemegang teknologi ini. Tapi, sejauh contoh yang kita lihat, tidak ada hal baik yang dibawa oleh cara berpikir yang tidak ilmiah dan tidak kritis.

Jadi, pilihan kita adalah (1) cara berpikir yang mampu memberi kita kemajuan, walau kemajuan itu tentu mengandung resiko; atau (2) cara berpikir yang akan membuat kita berkhayal tentang masa lalu dan sudah pasti membawa permusuhan antar manusia dan kebiadaban yang membuat manusia tidak lagi ada bedanya dengan binatang.

Kita tidak bisa menghindari fundamentalisme ketika kita mempertahankan apatisme—karena keduanya bersumber dari cara berpikir yang sama: cara berpikir yang tidak kritis dan tidak ilmiah.

Bagaimana kita berpikir ilmiah?

Butuh waktu bertahun-tahun untuk melatih diri berpikir ilmiah, terutama karena pemikiran ilmiah seringkali memberi kita kesimpulan yang counter-intuitive—artinya: bertentangan dengan apa yang kita lihat dengan mata telanjang. “Bumi itu bulat”, itu jelas bertentangan dengan kenyataan yang kita lihat bahwa setiap kali seorang tukang membuat rumah dia akan mengukur kerataan lantai. “Bumi bergerak mengelilingi matahari”, jelas bertentangan dengan apa yang kita lihat bahwa kita “diam” sedangkan matahari yang “bergerak” terbit dari timur dan tenggelam di barat. Bahkan ketika banyak di antara kita yang mengenyam pendidikan tinggi, masih sedikit saja yang berhasil menjadikan cara berpikir ilmiah sebagai cara berpikirnya, yang digunakan secara konsisten dalam tiap ruang dan waktu.

Tapi ada beberapa patokan sederhana yang dapat dipakai untuk membantu kita melatih diri berpikir ilmiah. Aku mengambil patokan ini dari buku Carl Sagan, “A Demon Haunted World” (New York: Random House, 1995). Aku senang sekali dengan buku ini dan aku menganjurkan semua orang yang bisa berbahasa Inggris dengan baik untuk membacanya. Buku yang luar biasa. Dia menggunakan istilah “skeptik” untuk menyebut cara dia berpikir. Tapi, istilah itu dapat dipertukarkan dengan “kritis” karena pada dasarnya memang demikian.

Sagan menyebutkan beberapa langkah yang harus ditempuh seseorang ketika menghadapi satu pernyataan (aku telah melakukan beberapa adaptasi atas isi bukunya):

  1. Harus ada konfirmasi dari pihak independen atas “fakta”;
  2. Harus ada perdebatan yang seimbang—dan menyangkut substansi–antar para pendukung dari berbagai pandangan;
  3. Jika pernyataan itu dibuat semata-mata berdasarkan “otoritas”, jangan dipertimbangkan sama sekali;
  4. Jika berhadapan dengan satu gejala, pikirkanlah penjelasan lain atas gejala tersebut, penjelasan yang berbeda dari “penjelasan resmi”;
  5. Jangan membenarkan satu pernyataan hanya karena anda menyukai pernyataan tersebut;
  6. Cobalah sejauh mungkin mengadakan pengukuran (sedapat mungkin kuantitatif) terhadap pernyataan tersebut;
  7. Jika pernyataan itu berantai, seluruh rantai pernyataan haruslah dapat dibuktikan kebenarannya—bukan cuma awal dan akhir saja yang dilihat;
  8. Tanyakanlah pada diri anda apakah ada cara untuk membuktikan apakah pernyataan itu benar atau salah—pernyataan yang tidak terbuka untuk dibuktikan kebenarannya harus dianggap sebagai pernyataan yang keliru.

(Aku menghilangkan aturan “Gunting Occam” atau “Occam Razor”– jika dua pernyataan sama-sama dapat menjelaskan satu keadaan, pilih yang paling sederhana—karena prinsip ini hanya dapat dipakai dalam keadaan kita mendapati dua penjelasan yang sama-sama sahih. Keadaan ini jarang sekali kita temui dalam politik Indonesia maupun dalam kehidupan pribadi sehari-hari. )

Bersikap kritis tidak sama dengan berprasangka. Prasangka malah sama sekali tidak kritis, tidak diuji lagi dengan pertanyaan-pertanya an. Sikap kritis adalah menolak membenarkan satu pernyataan sebelum pernyataan itu terbukti kebenarannya. Itu saja.

Menguji pemikiran ilmiah kita

Mari kita ambil dua contoh: pernyataan bahwa SBY-Budiono “pro-rakyat” (sebagai contoh dari dunia politik) dan pernyataan “aku sayang kamu” yang banyak dilontarkan laki-laki maupun perempuan pada pasangannya.

  1. (-) Pernyataan SBY dan Budiono bahwa diri mereka “pro-rakyat” hanya dibenarkan oleh orang-orang mereka sendiri. Tidak ada pihak lain yang membenarkan pernyataan itu. (-) Laki-laki dan perempuan yang mendengar “aku sayang kamu” juga harus mendapatkan konfirmasi dari pihak independent bahwa si pasangan memang benar-benar menunjukkan rasa sayang itu. Tanpa konfirmasi independent, jangan percaya begitu saja.
  2. (-) Perdebatan yang terjadi antara SBY dengan capres lainnya tidak ada yang menyangkut substansi, semuanya bicara tentang keadaan ideal tapi tidak ada yang menunjukkan diri mampu memahami di mana kunci permasalahannya. Ada perdebatan, tapi tidak mencakup substansi. (-) Laki-laki dan perempuan harus terus membicarakan substansi dari “sayang” itu, apakah “sayang” itu ternyata hanyalah perasaan berdebar-debar dan menggebu-gebu ataukah sebuah kerelaan berkorban bagi mereka yang kita sayangi? Jika tidak ada kejelasan mengenai apa makna “sayang”, jangan dulu dipercaya pernyataan itu.
  3. (-) Untuk mendukung pernyataan-pernyata annya yang membenarkan SBY, LSI memuat iklan di Koran-koran yang menyatakan betapa mereka memiliki rekor ini atau rekor itu. Ini adalah pernyataan bahwa mereka punya otoritas—tapi dengan tetap menghindari membuka data mereka pada publik. Pernyataan yang semata berdasarkan otoritas ini harus diabaikan. (-)Seorang laki-laki (atau perempuan) yang sedang merayu pasti bercerita banyak tentang dirinya, cerita-cerita yang menumbuhkan simpati. Simpati ini kemudian berubah menjadi sebuah otoritas. Maka, begitu anda simpati pada lawan jenis, segera pertanyakan pernyataannya “aku sayang kamu”.
  1. (-) Ketika SBY mengatakan bahwa BLT dan Raskin adalah bukti bahwa dirinya “pro-rakyat”, pikirkan penjelasan lain. Pertimbangkanlah bahwa BLT dan Raskin (juga gaji ke-13 bagi pegawai negeri) itu dibagikan beberapa saat menjelang pilpres. Apakah tidak mungkin bahwa BLT dan Raskin adalah politik uang yang terselubung (dan pakai uang Negara lagi, bukan uang sendiri)? (-) Ketika seseorang berkata “aku sayang kamu”, mungkinkah dia sedang merayu? Mungkinkah dia memang terbiasa mengucapkan kata ini pada setiap lawan jenis yang dijumpai? Adakah maksud lain di belakang pernyataan ini?
  2. (-) Banyak orang yang mengatakan bahwa mereka memilih SBY karena suka dengan kegantengannya. Jadi, karena mereka suka “SBY ganteng” mereka kemudian membenarkan semua pernyataan yang dibuat SBY. Tidak ada sikap yang lebih tidak ilmiah daripada membenarkan satu pernyataan hanya karena yang membuat pernyataan itu ganteng. (-) Jelas bahwa seorang perempuan (juga laki-laki) akan suka jika pasangannya yang ganteng (atau cantik) mengatakan “aku sayang padamu”. Apalagi pernyataan itu dibuat dengan sikap manis dan suasana mesra. Tapi, tiap orang harus bisa membedakan: suka dengan orangnya tidak lantas membuat pernyataan orang itu benar.
  3. (-) Cobalah mengadakan pengukuran kuantitatif yang sederhana terhadap pernyataan bahwa SBY pro rakyat. Dari sekian banyak keputusan yang dibuatnya, berapa banyak yang memberi keuntungan lebih besar pada rakyat kecil daripada kepada pengusaha besar? (-) Cobalah menghitung berapa sering “sayang” itu dibuktikan—ketika keberpihakan dituntut, ketika kondisi sulit dihadapi, berapa sering “sayang” itu membuat orang itu mau ikut menanggung beban kita; bukan sekedar menebar kata-kata manis?
  4. (-) Ketika orang mengatakan bahwa “Budiono hidup sederhana MAKA dia bukan penganut neolib”, kita berhadapan dengan kasus di mana hanya pernyataan pertama dan terakhir dari penalaran itu yang disajikan pada kita. “Bukan penganut neolib” adalah kesimpulan dari sebuah pernyataan “tidak pernah menerapkan kebijakan neolib” dan “Budiono hidup sederhana” seharusnya berujung pada kesimpulan bahwa kesimpulan bahwa “dia tidak mengambil keuntungan dari posisinya yang dekat dengan badan-badan neolib dunia seperti IMF atau Bank Dunia”. Seluruh unsur dari pernyataan ini harus diperiksa lebih jauh. Apa benar Budiono hidup sederhana? Bagaimana dengan kekayaannya yang berjumlah Rp22,07 miliar dan 15.000 dolar AS (hasil verifikasi KPK)? Apakah benar Budiono tidak mengambil keuntungan dari posisinya? Apakah benar Budiono tidak pernah mengambil keputusan yang menjadi landasan penerapan neolib di Indonesia ? (-)“Aku sayang kamu” haruslah dipandang sebagai satu kesimpulan dari sekian banyak penalaran yang mendahuluinya. Temukanlah rantai penalaran yang membuat pasangan anda mengatakan “aku sayang padamu”—dan uji satu persatu kebenaran dari pernyataan pendahulu tersebut.
  5. (-) Ketika SBY menyatakan bahwa dirinya tengah dijadikan sasaran “revolusi sosial”, kita harus bertanya apakah bukti-bukti yang diajukannya dapat diuji? Jika tidak ada jalan bagi sebuah penyelidikan independent atas pernyataan itu, maka pernyataan itu harus diabaikan. (-) Ketika seorang laki-laki (atau perempuan) mengatakan “aku sayang kamu” adakah jalan bagi sahabat-sahabat kita untuk ikut menguji pernyataan itu? Jika tidak ada, pernyataan “aku sayang kamu” itu tidak ada artinya dan harus diabaikan.

Beratkah menjalankan kebiasaan berpikir kritis ini? Tentu saja berat. Karena kita telah bertahun-tahun tidak pernah terlatih untuk berpikir kritis—bahkan dilarang dan dipenjara ketika mencoba berpikir kritis. Tapi, jika anda tidak membiasakan diri untuk berpikir kritis, berarti anda tengah menerapkan cara berpikir yang, pada dasarnya, sama dengan cara berpikir seorang teroris.

Catatan:

Carl Sagan adalah ilmuwan antariksa Amerika Serikat yang lahir di New York City (9 November 1934) dan wafat di Seattle (20 Desember 1996). Dia menjadi pengajar di University of California at Berkeley , Harvard University , the Smithsonian Astrophysical Observatory, dan Stanford University . Dia juga menjadi direktur Cornell University ‘s Laboratory for Planetary Studies dan konsultan NASA untuk proyek wahana antariksa tak berawak AS.

Dia seorang penggiat penulisan ilmu pengetahuan bagi awam dan aktivis perdamaian. Di tahun 1983, dia ikut menulis sebuah dokumen penting “Nuclear Winter: Global Consequences of Multiple Nuclear Explosions.” Dokumen inilah salah satu landasan ilmiah bagi tekanan aktivis sedunia untuk mengakhiri era senjata nuklir. Sagan berkeliling dunia untuk mendapatkan dukungan dunia ilmu pengetahuan bagi dokumen ini.

* penulis adalah anggota PRP Komite Kota Jakarta

Iklan

Tinggalkan Komentar, Komentar anda akan kami moderasi terlebih dahulu. Harap jangan mengirimkan link yang tidak perlu, khususnya link yang mengandung iklan dan spam

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: