Tinggalkan komentar

Jangan Takut Menjadi Teoritik!


oleh : Ken Buda Kusumandaru*

Pada acara Rakor DPP regional Jawa lalu, ada acara penutupan berupa saling memberi kesan yang melibatkan baik peserta maupun panitia. Kebanyakan memberi kesan yang lucu-lucu pada sesama hadirin. Kesan-kesan yang dialamatkan padaku juga sudah biasa aku dengar.

Walau begitu, ada beberapa pernyataan yang bagiku sangat mengganggu—pernyataan yang menyebut aku sebagai “terlalu teoritik”. Memang acara ini diadakan sebagai penutup yang ringan, sehingga tidak ada pembahasan lagi mengenai hasil-hasilnya. Tapi aku merasa perlu untuk memberi komentar khusus pada pernyataan “terlalu teoritik” ini.

Apa yang dimaksud dengan “teoritik”?

Orang melekatkan segala macam makna pada kata “teoritik”. Karena aku ini seorang yang rewel, aku sering mengejar makna di balik pernyataan orang. Dari kerewelan inilah aku menemukan bahwa ada beberapa makna yang sering secara salah kaprah ditempelkan orang pada kata ini:

  1. Mungkin yang dimaksud adalah “bertele-tele dan rumit”—ini menyangkut metode penyampaian yang keliru sehingga apa yang dimaksudkan si pembicara tidak dipahami oleh pemirsa (audience)-nya;
  2. Mungkin juga yang dimaksud adalah “tingkat abstraksinya terlalu tinggi”—ini menyangkut perbedaan tingkat pengetahuan antara pembicara dan pemirsa;
  3. Kemungkinan lain, yang dimaksud adalah “istilah yang dipakai tidak dimengerti”—sesuatu yang seringkali tidak terhindarkan karena dua hal:
    1. Kemungkinan bahwa si pembicara ingin memberi kesan pandai dengan membumbui pembicaraannya dengan istilah-istilah dari bahasa asing, atau
    2. Kesulitan yang ditemui si pembicara untuk menemukan padanan kata yang pas dalam Bahasa Indonesia yang, karena tingkat peradabannya belum maju, tidak memiliki kata-kata yang bisa secara tepat menjadi penyampai makna yang dimaksud si pembicara.

Ketiga makna ini meleset dari apa yang sesungguhnya dimaksudkan dengan istilah “teoritik”. Dalam makna keilmuan (science), kerja teoritik adalah bagian yang sangat penting karena kerja teoritik ini “mengumpulkan pengetahuan dan menyusunnya ke dalam sebuah gambaran umum, yang memungkinkan orang menemukan hukum-hukum yang mengatur gejala-gejala yang nampaknya tidak berhubungan.”

Apakah kedengarannya “bertele-tele”, “terlalu abstrak” atau “penuh istilah yang tidak dimengerti”? Tidak lebih dari yang seharusnya. Mari aku jelaskan.

Sudah lama orang tahu bahwa kalau kita melempar sebuah benda ke atas, benda itu akan melayang sebentar lalu jatuh lagi ke bumi. Orang juga tahu bahwa air menetes ke bawah. Lama orang melihat dengan iri hati dan dengki pada burung-burung yang bisa terbang melayang dengan bebas, tidak terikat di bumi sebagaimana sebagian besar mahluk lainnya. Semua ini adalah pengetahuan manusia tapi, selama tidak disusun menjadi satu gambaran yang runut, pengetahuan ini tidak menghasilkan sebuah ilmu.

Kumpulan pengetahuan ini berubah menjadi ilmu setelah melalui proses teoritik di tangan Isaac Newton, yang menyusun pengetahuan ini menjadi sebuah gambaran umum bahwa “setiap benda yang melayang bebas akan jatuh ke bumi”. Dari gambaran umum inilah Newton menyusun Hukum Gravitasi yang terkenal itu. Setelah Hukum Gravitasi ditemukan, orang pun dengan relatif mudah mendapat tahu bagaimana burung-burung mengatasi tarikan gravitasi bumi. Dan, setelah orang mendapat tahu hal ini, langkah selanjutnya adalah merancang alat yang meniru prinsip kerja yang dipakai burung-burung untuk terbang mengudara.

Teori gravitasi adalah teori yang sangat rumit. Rumus sederhana dari Hukum ini (F=GMm/d2) mengandung nilai konstan (konstanta) G yang nilainya baru dapat ditentukan seratus tahun kemudian oleh Henry Cavendish, yakni 6,754 x 10-11 N-m2/kg2. Penjelasan mengapa nilai G sebesar itu baru ditemukan seratus tahun setelah Cavendish, yakni melalui kerja-kerja teoritik Albert Einstein, yang menemukan bahwa Gravitasi ternyata bukanlah sekedar “gaya tarik” melainkan sebuah “penyimpangan dalam lengkung ruang-waktu”. Makin rumit, bukan? Tapi kerumitan teori Gravitasi inilah yang memungkinkan orang untuk membuat alat untuk bukan saja terbang, melainkan untuk pergi ke luar angkasa. Yang lebih menakjubkan adalah bahwa Hukum Gravitasi ini berlaku di seluruh alam semesta, bukan hanya di bumi. Betapa dahsyatnya hasil kerja teoritik manusia!

Proses keilmuan mencakup beberapa langkah pokok:

  1. Mengamati gejala;
  2. Menyusun gejala-gejala menjadi gambar umum;
  3. Merumuskan pertanyaan;
  4. Merumuskan dugaan-dugaan awal;
  5. Menguji dugaan dalam percobaan-percobaan ;
  6. Merangkai hasil-hasil percobaan ke dalam rumusan-rumusan hukum umum;
  7. Menguji kembali rumusan ini dalam gejala-gejala teramati.

Dalam proses yang digambarkan secara sederhana ini, terdapat kesatuan yang intim antara teori dan praktek, antara kenyataan dan abstraksi (proses menyusun gambar umum). Sebagai kumpulan orang yang mengaku berpikir ilmiah, kita harus memeluk proses teoritik dan melatih diri untuk menjalankan proses ini sejauh apapun yang diperlukan. Praktek bisa menjadi sangat rumit. Proses penguasaan mesin saja bisa sangat sulit dan membutuhkan waktu bertahun-tahun agar seseorang dapat menguasai praktek menjalankan sebuah mesin yang canggih. Demikian pula sebuah proses teoritik dapat menjadi sangat rumit. Dibutuhkan waktu bertahun-tahun agar seseorang dapat menguasai teknik-teknik perumusan teori yang canggih.

Kerja sama yang rapat antara mereka yang berteori dan mereka yang berpraktek adalah kunci bagi pengembangan semua jenis ilmu. Tidak jarang kemampuan berteori dan berpraktek yang sama canggihnya menyatu dalam diri seseorang. Tapi keadaan yang umum didapati adalah di mana seseorang lebih ahli dalam berpraktek, sementara yang lain lebih ahli dalam menarik kesimpulan teoritik. Isaac Newton, contohnya,  adalah seorang yang terkenal memiliki kemampuan berpraktek dan berteori yang sama canggihnya. Henry Cavendish, di pihak lain, adalah seorang ahli dalam merancang dan melaksanakan percobaan yang sangat teliti untuk ukuran jamannya. Albert Einstein, sebaliknya, adalah seorang pemikir teoritik yang nyaris tidak pernah melakukan percobaan—bahkan untuk menguji teorinya sendiri.

Ketika mereka yang berteori tidak memperhatikan apa yang ditemukan dalam praktek, dan menyusun teorinya berdasarkan pemikiran semata, hasilnya adalah teori yang melenceng dari kenyataan. Sebaliknya, jika mereka yang berpraktek tidak mau menghargai proses teoritik, praktek itu sendiri tidak akan mengalami kemajuan. Hanya melalui kerja sama yang rapat antara teori dan prakteklah peradaban manusia mendapatkan jalan ke arah perkembangan.

Jadi, larangan memisahkan teori dan praktek bukanlah berarti setiap orang harus bisa sama canggihnya dalam berteori dan berpraktek, melainkan bahwa segi-segi teori dan praktek harus terus disatukan dan diperkembangkan secara sejalan. Bisa saja segi teori dan segi praktek dijalankan oleh orang yang berbeda namun, selama teori dan praktek itu terus diselaraskan, kemajuan niscaya akan tercapai.

Bagaimana kita harus menerapkan kesatuan teori dan praktek?

Aku seringkali mendengar pernyataan meremehkan “Ah, kamu cuma bisa berteori….” Pernyataan ini hanya bisa dibenarkan apabila si penyaji teori sama sekali tidak memperhatikan temuan dalam praktek dalam menyusun teorinya.

Karl Marx, contohnya, menyusun teorinya bukan terutama dari praktek yang dilakoninya sendiri, melainkan dari pengamatannya yang tajam terhadap praktek kaum buruh sejamannya, ditambah catatan tentang sejarah perjuangan kaum buruh yang dapat diperolehnya. Das Capital yang dahsyat itu ditulisnya dengan duduk di belakang meja, bertahun-tahun dihabiskannya di perpustakaan. Jika dipandang dengan pengetahuan kita saat ini, Marx tidak akan sanggup menulis Das Capital jika masih terus mengorganisir di pabrik-pabrik. Bukan bekerja di pabrik tidak perlu, tapi harus ada yang mengabdikan waktu untuk menyatukan temuan-temuan dari kerja-kerja lapangan itu menjadi satu panduan teoritik. Tanpa panduan teoritik dari Karl Marx, kita tidak akan mendapati revolusi-revolusi besar dunia. Bahkan, apa yang saat ini terjadi di Amerika Latin juga tidak mungkin terjadi—karena, tanpa panduan dari Marx, pengalaman gerakan buruh Eropa akan tetap dipandang sebagai satu hal yang terisolasi dari pengalaman gerakan buruh Amerika Latin.

Di pihak lain, Karl Marx juga akan gagal merumuskan teorinya jika dia tidak mendahului proses penulisan teori itu dengan praktek panjang pengalaman revolusioner. Marx terlibat dalam terbitan-terbitan radikal, menjadi pengurus Komunis Internasional, terlibat dalam pengorganisiran dan kepemimpinan Internasional Pertama, dll. Akibat dari aktivitas revolusionernya ini, Marx dan keluarganya terlunta-lunta, dikejar sana-sini—bahkan beberapa anaknya meninggal karena kekurangan gizi.

Jadi, tiap penyusun teori haruslah menguasai praktek sampai tingkat minimum tertentu. Jika dia tidak memiliki latar belakang pengalaman praktek, nyaris dapat dipastikan bahwa dia tidak akan menyadari makna penting tiap potongan fakta—dan, dengan demikian, tidak akan sanggup menyusun gambar besarnya.

Pada sisi yang berkebalikan, tentu saja tiap praktisi haruslah menguasai teori sampai tingkat minimum tertentu. Tanpa penguasaan teori, dia akan menjadi sebuah robot, yang tidak mampu berpikir mandiri. Sebagai akibatnya, dia tidak akan mampu memecahkan masalah secara mandiri. Dan, pada gilirannya, dia akan tergantung pada para “pemikir” atau “atasan”—melestarikan pola patron-klien yang justru hendak didobraknya sendiri.

Dengan demikian, kita harus mampu mengelola kedua sumberdaya ini dengan baik: kemampuan berteori dan kemampuan berpraktek—dengan syarat minimum penguasaan teori dan penguasaan praktek yang berlaku bagi semua anggota. Misalnya: tiap anggota harus mampu mengorganisir pertemuan-pertemuan , memimpin rapat-rapat dan melakukan lobby/negosiasi; tiap anggota juga wajib memiliki kemampuan merekrut anggota baru dan melakukan infiltrasi pada organisasi-organisa si yang telah dibangun orang lain. Di pihak lain, kita juga harus mewajibkan tiap anggota mampu menuliskan laporan dengan terstruktur, mampu memahami arahan politik, mampu membaca makna tersembunyi dalam berita-berita media massa dan mampu menjelaskan secara ringkas tentang hakikat sosialisme. Sampai di mana tingkat penguasaan minimum ini, Komite Pusat-lah yang harus menetapkannya.

Semua tingkatan kepemimpinan organisasi juga harus menjaga keharmonisan antara kerja teori dengan kerja praktek. Kepemimpinan organisasi harus mencegah terjadinya kesombongan teoritik (di mana mereka yang berteori melecehkan kerja praktek) maupun kesombongan praktek (di mana mereka yang kerja di lapangan melecehkan kerja-kerja teoritik). Antara mereka yang bekerja teori maupun praktek menanggung beban yang sama—ini harus dicamkan dalam-dalam—dan memiliki tanggung-jawab yang setara dalam memajukan perjuangan revolusioner. Kawan-kawan yang lebih ahli dalam berpraktek harus membimbing kawan-kawan yang berteori untuk memahami realitas; sebaliknya, kawan-kawan yang lebih ahli dalam berteori harus membimbing kawan-kawan yang berpraktek agar dapat menarik kesimpulan-kesimpul an yang lebih maju dari praktek mereka. Dan, sekali lagi, kedua pihak harus memiliki tingkat minimum pemahaman teoritik maupun praktek tertentu, yang berlaku untuk semua anggota tanpa kecuali.

Penutup

Jadi, lain kali, kalau mau mengritik seorang pembicara, jangan mengatakan dia terlalu teoritik. Kritiklah metode penyampaiannya, atau istilah-istilah asing yang digunakannya, atau minta dia menurunkan tingkat abstraksinya bila dimungkinkan.

Tapi, ingatlah: teori akan semakin rumit jika prakteknya juga semakin rumit. Teori yang dibutuhkan untuk pengorganisiran sebuah pabrik tentu jauh lebih sederhana daripada teori yang dibutuhkan untuk perlawanan satu kota . Teori yang dibutuhkan di tingkat kota tentu jauh lebih sederhana daripada teori yang dibutuhkan untuk sebuah perlawanan nasional. Semakin kita maju dalam praktek, akan semakin rumit kemampuan teoritik yang dituntut dari kita.

Jangan takut menjadi teoritik! Tapi takutlah jika kemampuan teoritik kita tidak memadai untuk melancarkan sebuah perlawanan revolusioner yang berhasil di seluruh wilayah Republik Indonesia !

Jakarta, 30 Juli 2009

* penulis adalah anggota PRP Komite Kota Jakarta

Iklan

Tinggalkan Komentar, Komentar anda akan kami moderasi terlebih dahulu. Harap jangan mengirimkan link yang tidak perlu, khususnya link yang mengandung iklan dan spam

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: