Tinggalkan komentar

Satu Hari di dalam Imaginasi Rakyat Pekerja (1)


Oleh: Ruth Indah Rahayu*

(Kawan-kawan, izinkan saya menggunakan ruang ini untuk belajar menulis ‘esai’ tentang imaginasi. Sumber idenya saya peroleh dari kegemaran saya menonton film dan mendengarkan ceritera ‘rahasia hati’ dari Facebook. Namanya saja imaginasi, jangan dipikirkan menyinggung sana sini ya!)

Oh, tentu imaginasi yang saya peroleh sebatas sebagai penonton, karena saya bukan filmmaker dan tidak mempunya Facebook. Tetapi, kedua medium teknologi ini luar biasa mampu menembus batas ruang privat/publik, mampu meniadakan jarak spasial (tempat), mampu menghadirkan yang imaginer menjadi nyata dan yang nyata menjadi imaginer. Konon menurut ceritera, teknologi itu telah berhasil menggelontor imaginasi anggota PRP yang beku dalam kenyataan tetapi menyala-nyala hidup (penuh militansi) dalam FB. Ouw, itu tidak buruk, apalagi saya berburuk sangka. Mungkin saya sedikit cemburu dengan alat teknologi yang berhasil menciptakan ruang berimaginasi rakyat pekerja sebebas ekspresi. Sedangkan di dalam organisasi, sepertinya telah kehilangan daya menciptakan ruang imaginasi. Ah, saya bisa salah, mungkin organisasi telah ditinggalkan sebagai ruang berimaginasi karena daya pikat yang mempesona dari FB dan film.

 

Kalau begitu, kenapa kita tidak berimaginasi merebut film dan FB untuk mendongkrak daya imaginasi kita membangun PRP (baik organisasi maupun orang-orangnya) sebagai ruang berimaginasi yang empirik?

Wah, apa perlunya mendongkrak daya imaginasi kita untuk membangun PRP sebagai ruang imaginasi empirik? Pernah saya dengar sayup-sayup suara:”Imaginasi itu milik kaum borjuis!”. Olala…malangnya rakyat pekerja menolak imaginasi yang sejatinya hidup di dalam dirinya! Pantas, arak-arakan mobilisasi massa yang bergerak di bawah terik matahari itu tak diimaginasikan sebagai suara mesin yang berderap-derap, ber(nada) tempo Mars –yang bergerak gagah dan penuh gempita– yang diiringi bunyi genderang, sehingga kaki rakyat pekerja berbaris drap….drap. ..drap seirama dengan bunyi mesin yang akrap dengan telinganya. Sehingga tak biarkan kaki ini jadi gemulai loyo karena sebagai barisan massa kehilangan nada derap mesin yang menjadi kultur kita. Oh, maaf, saya berimaginasi atas cara orang berpikir terhadap imaginasi, seperti halnya tumbuh imaginasi saya ketika membaca status FB “bayang-bayangmu tak mau pergi”…. Imaginasi saya berbisik pastilah penulis status FB itu sedang jatuh cinta/kasmaran (alamak bahagianya yang dijatuhcintai! ).

Di dalam diskusi terdahulu kita mengakui pentingnya teori dan praktik, yang saya yakini daya imaginasi merupakan perekatnya. Pernahkan kita berimaginasi membangun sebuah partai kelas itu seperti apa? Pernahkan kita berimaginasi membangun ormas pemuda, mahasiswa, perempuan, tani, nelayan, itu seperti apa? Pernahkah kita membayangkan perjuangan kelas itu seperti apa? Pernahkah kita berimaginasi tentang sosialisme itu tata kehidupan seperti apa?

Aduh, kalau besok makan hendak nebeng siapa saja belum jelas, bagaimana berimaginasi yang serba besar bin berat itu! Ya, sudah kalau bermaginasi yang besar bin berat belum mampu, bagaimana belajar berimaginasi dari yang sehari-hari (untuk menuju yang besar)? Oo….maksudnya kita belajar berimaginasi: bagaimana sehari-hari bisa nebeng makan hingga bertahun-tahun lamanya? Husy! Makan itu rezeki dari Tuhan, apa salahnya bersedekah barang sepiring dua piring kepada kawan? Oh, maaf, ini contoh imaginasi yang tidak menarik dan bukan yang saya maksudkan.

Jadi?

Pernahkan kita berimaginasi bagaimana caranya membuat BH dan celana dalam laki-laki? Astaga itu contoh yang vulgar alias saru! Lho? Sejak kapan BH dan celana dalam laki-laki dikebiri dengan pisau normatif? Ketika BH dan celana dalam laki-laki dibuat di pabrik, digeluti oleh buruh-buruh perempuan/laki, apa barang itu bernilai saru? Dengar, untuk sebuah BH yang saya kenakan ini, memerlukan proses 40 tahapan.! Hah? Serius. Ini ceritera seorang buruh perempuan pembuat BH “Triumph” di Thailand. Tahukah, apa tahapan pertama? Tidak lain adalah menggunakan imaginasi tentang berbagai ukuran-ukuran payudara. Sama halnya dengan celana dalam laki-laki, tahapan pertamanya adalah berimaginasi tentang ukuran-ukuran panggul laki-laki berikut buah zakarnya. Tahapan berikutnya mencipta model, mengukur pola, dan sebagainya dan sebagainya. Cobalah, yang merupakan pekerjaan sehari-hari di dalam pabrik itu pun menggunakan imaginasi kaum buruh.

(bersambung)

*Penulis Adalah Ketua Departemen Pendidikan dan Propaganda Komite Kusat PRP

Iklan

Tinggalkan Komentar, Komentar anda akan kami moderasi terlebih dahulu. Harap jangan mengirimkan link yang tidak perlu, khususnya link yang mengandung iklan dan spam

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: