Tinggalkan komentar

Satu Hari di dalam Imaginasi Rakyat Pekerja (2)


Oleh : Ruth Indiah Rahayu

(sambungan)

Jelas kan, sesuatu hal yang disembunyikan di balik pakaian kita ini ternyata melampaui proses panjang, bertahap-tahap dan harus tekun dikerjakan. Hmm…jadi imaginasi itu punya sistematika ya? Tentu. Kalau amburadul namanya ngawur! Juga semangat ketekunan? Lho, tekun itu kan karakter buruh, tani, rakyat pekerja keseluruhannya, jangan dinafikkan. Kalau malas? Imaginasikan sendiri, itu bukan karakter (watak) rakyat pekerja!

Ternyata saudara, kita dapat belajar berimaginasi pada cara membuat BH dan celana dalam. Berimaginasi tentang sebuah proses produksi yang sehari-hari, yang menghasilkan citra “Triumph”, “Swan”, “Crocodile”, atau yang tak bernama. Ada banyak ceritera sehari-hari yang dapat kita pungut sebagai bahan berimaginasi untuk membangun organisasi, memperdalam kualitas anggota dan mematerialkan cita-cita yang besar (“sosialisme jalan pembebasan sejati”. Imaginasikan, untuk membangun sebuah partai kader kelas pekerja atau ormas-ormasnya,  tak ubahnya sedang membuat BH dan celana dalam –yang melampaui sekian puluh tahapan-tahapan. Membangun sosialisme pun seperti membuat BH dan celana dalam memiliki daya imaginasi yang tersistematika.

Lantas, mengapa ada sayup-sayup suara yang mengatakan berimaginasi adalah milik kaum borjuasi? Anggapan itu memang tidak salah, jika yang kita maksudkan “berimaginasi” adalah kesempatan untuk mengisi waktu luang dengan bersenang-senang sambil menghadirkan hiburan. Hiburan? Ya, itu manifestasi imaginasi yang kemudian disebut “seni bermutu tinggi”.

Coba kita pergunakan BH dan celana dalam –yang diproduksi buruh– untuk memahami imaginasi borjuasi bertalian dengan hiburan dan seni bermutu tinggi. Ketika mbak-mbak dan mas-mas rakyat pekerja profesional membeli BH dan celana di mal, sebelumnya pasti memilah-milah, memandang-mandang, meraba-raba, menjerang sekian sentimeter di depan mata, menempelkan di tubuh, dan sebagainya sepenuh tindakan. Saat demikian, sejatinya, sedang mengimaginasikan kecantikan tubuh sendiri saat dibalut oleh BH/celana dalam dengan model yang telah di-imaginatifkan oleh merek dagang seperti “Triumph” (payudaraku serasa mahkota seorang maharani, anggun dan agung), “Swan” (penisku serasa angsa jantan berenang-renang di air telaga, tenang menghanyutkan) dan “Crcodile” (penisku serasa buaya jantan yang penuh kesabaran ‘revolusioner’ menanti mangsa dari dalam sungai). Maka membeli BH dan celana dalam bukan sekedar untuk membeli penutup alat seksual (aurat) tetapi membeli seni di dalam BH dan celana dalam sebagaimana mitos kecantikan atas seksualitas. Tidak percaya? Cobalah, mengapa payudara yang cantik dimitoskan sebesar buah pepaya bangkok ? Mengapa penis yang cantik dimitoskan sebesar buah mentimun? Sehingga disain BH dan celana dalam pun diimaginasikan menurut mitos seksualitas. Wah, kamu vulgar! Mungkin. Tapi ada basis  materialnya.

Taruhlah basis materialnya berasal pada suatu masa, yang menurut sejarah perkembangan seni di Eropa disebut zaman Barouqe (abad 16 – awal 18), yang memproduksi imaginasi tentang keindahan tubuh manusia. Keindahan tubuh manusia diekspresikan sebagai mitos “yang suci sekaligus pendosa” dan “yang berkuasa”. Yang suci sekaligus pendosa diwujudkan sebagai eksisten perempuan dalam bentuk patung atau lukisan berwajah suci tak bernoda dengan busana yang tersingkap — dan dari balik singkapan itu menyembuh payudara yang montok sebesar pepaya bangkok. Sedangkan eksisten laki-laki diimaginasikan berwajah seperti Dewa Zeus yang penuh otoritas/power, dengan wajah garang (tak bersenyum), tubuhnya penuh otot dan penisnya sebesar mentimun. Lho, mengapa perempuan diimaginasikan sebagai eksisten yang ambigu (suci sekaligus pendosa) dan laki-laki sebagai eksisten yang berkekuasaan? Saya tegaskan saja, itu merupakan buah imaginasi tradisi patriarki Katolik Roma dan raja-raja di Eropa Barat pada masa itu. Kesenian bermakna sebagai hiburan yang terkandung privilese sekaligus kekudusan (persembahan kepada gereja) yang bertumbuh pada abad-abad kekayaan imperium melimpah ruah di sana. Kaum bangsawan membayar seniman-seniman begitu mahal untuk menciptakan  apa yang disebut “seni bermutu tinggi”, yang warisannya harus saya akui sangat luar biasa sampai sekarang.

Sudah barang tentu, kepemilikan atas kekayaan bersambungan dengan penciptaan atas kelas-kelas citarasa (taste) seni musik, patung, lukisan, arsitektur, pakaian, rambut, dan sebagainya. Ningrat di Nusantara juga demikian. Tentu, pada akhirnya seni itu berkekuasaan seperti Dewa Zeus yang menguasai dunia. Seni bermutu tinggi dari zaman Barouqe (dilanjutkan zaman Rococo –dekoratif atas tubuh manusia, Gothic –arsitektur perkasa nan megah, .danseterusnya,  merambah ke disain penciptaan pakaian, termasuk BH dan celana dalam. Di sini keambiguan “yang suci sekaligus pendosa” juga berlaku dalam kreativitas membalut ketelanjangan tubuh perempuan, disatu pihak, atas nama moralitas kesucian maka tubuh harus dibalut, tetapi di lain pihak sebagai hiburan “yang pendosa” harus ditampilkan sebagai keindahan. Adapun ketelanjangan tubuh laki-laki cukup dibalut pada “pusat kekuassan”, yakni penis, dan selebihnya adalah busana yang menampilkan kekuatan otot-otot di seluruh tubuh dan wajahnya. Karena kaum laki-laki pada akhirnya dominan sebagai pelaku utama di dalam ruang-ruang hiburan berseni tinggi yang berharga mahal untuk mengisi waktu luangnya.

Perihal itulah yang mewariskan suatu anggapan bahwa ‘berimaginasi’ itu milik borjuasi –yang secara historis memang demikian adanya. Tetapi jangan lupa, kaum borjuasi sejatinya bukan pemilik imaginasi melainkan sebagai pembeli dan yang kemudian menguasai atas imaginasi krrator seni maupun para penonton di luar hubungan pemilik uang dan kreator seni. Imaginasi (sebagai kata benda) pada prosesnya tumbuh sebagai istilah (tepatnya diskursus) yang diyakinkan kepada kelas pekerja sebagai property kekuasaan kelas borjuasi. Sayangnya, kita –rakyat pekerja– meyakininya sampai saat ini.

(bersambung)

*Penulis Adalah Ketua Departemen Pendidikan dan Propaganda Komite    Kusat PRP

Iklan

Tinggalkan Komentar, Komentar anda akan kami moderasi terlebih dahulu. Harap jangan mengirimkan link yang tidak perlu, khususnya link yang mengandung iklan dan spam

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: