Tinggalkan komentar

Satu Hari di dalam Imaginasi Rakyat Pekerja (4)


oleh: Ruth Indiah Rahayu*

(sambungan)

Menyingkap imaginasi jamaah bokep?

 

Apa kurang kerjaan? Di tengah melawan “Buaya” dan “Dinosaurus”, ngapain nyingkap-nyingkap imaginasi jamaah bokep? Di tengah kita harus menangapi krisis politik ini, ngapain masih bermain imaginasi?? Huh, kamu sungguh tidak progresif -revolusioner! Kamu hanya membuang waktu untuk mengetik kata-kata yang –yakinlah– tak akan ada yang membaca. Karena di negeri ini, sedang ada persoalan yang lebih urgent dianalisa ketimbang berurusan dengan imaginasi!!

Kau benar, kawan! Negeri ini sedang krisis dan rakyat pekerja sedang membangun kekuatan oposisi. Mobilisasi massa, deklarasi, diskusi sedang memenuhi buku harian perlawanan rakyat. Kau selalu beanr, kawan!! Tetapi kali ini izinkanlah bagiku untuk ngeyel, untuk tetap bermain dengan imaginasi. Jika kemarin kalian telah berimaginasi dengan ogol-ogol buaya yang diarak dan dibakar dalam mobilisasi massa kaum cicak, lain kali juga dapat mengusung ogol-ogol CD atau baliho merek “Crocodile” . Sebab, politik para koruptor (yang pada umumnya laki-laki) secara simbolis berpusat pada organ kelaminnya yang lantas di beri pakaian celana dalam. Ini bukan porno. Ini ilmiah, menurut teori psikoanalisa. Nah, jika organ kelaminnya itu yang kita lecehkan, disadari atau ditolak, akan menyinggung aspek yang paling sensitif, yakni martabat penis sebagai simbol kekuasaan serasa diruntuhkan. Dalam sejarah, perang simbolis ini seringkali berhasil menyengat kemarahan baik pada tingkatan mafia kekuasaan maupun massa.

Jadi membincang bokep itu juga membahas politik. Tetapi bukan bokep untuk propaganda politik rakyat pekerja. Apa coba? Inilah yang hendak kuceriterakan, tentang seorang rakyat bekerja bernama Wiratno. Hahaha….nama itu jadul banget, pasti bahasa Indonesianya medok Jawa! Husy… reseh! Ya sudah, namanya kuganti dengan Simon, sebuah nama trans-nasional, yang tak lagi mengenal batas-batas teritorial negara. Eh, itu nama kawanku kau catut, bagaimana kalau dia tahu lalu marah? Ya, biarlah, itu konsekeusni trans-nasional di bidang nama. Rakyat pekerja di Sidoarjo, Jawa Timur, bisa saja pakai nama dari Venezuela, misal, Hugo Chavez, Marguerita. Pun rakyat pekerja di Inggris bisa pakai nama Wiratno, Siti Masyitoh, dan seterusnya. Jadi tak ada lagi pemilikan teritorial terhadap nama, akrena nama-nama telah mengglobal.

Ini ceritera tentang Simon tanpa embel-embel nama keluarga. Dia kolektor bokep nonkomersil. Jika ada status “kolektor” berarti hubungan dia dengan bokep bukan sekedar untuk pemenuhan kebutuhan dasar (seperti makan), juga bukan untuk diperjualbelikan, melainkan telah mencapai tingkat kualitas yang tinggi: yakni, kesukaan alias hobi. Konon, hubungannya dengan bokep di awali ketika tanpa kesengajaan dia menemukan situs bokep. Mulanya dia tidak menggubris, namun ada hal yang aneh bahwa dia berkeinginan untuk berkunjung ke situs tersebut sekali lagi dan sekali lagi, hingga tak terhitung lagi. Dari sekedar pengunjung situs, kegiatan Simon berkembang menjadi pengumpul berbagai jenis bokep dan kemudian mengarsipkannya. Simon sangat bermurah hati untuk mengedarkan arsip bokepnya kepada kawan-kawan sejamaahnya. Dia lantas menjadi “pusat” informasi-komunikas i perbokepan yang cukup kesohor.

Sebagai “pusat” komunikasi-informas i, datanglah saya kepadanya untuk mengajukan sejumlah pertanyaan. Pertanyaan pertama bersifat ingin tahu. Tentang apakah yang ditonton oleh jamaah bokep: organ seksual, teknik hubungan seksual atau hal-hal lain? Mengejutkan. Simon menjawab hal-hal lain dengan mendeskripsikan pengalaman pribadinya. Menonton bokep, katanya, tak dapat dipilah-pilah kepada satu fokus, misalnya menonton organ seksual saja, atau hubungan seksualnya belaka. Pada akhirnya, ditegaskan Simon, menonton itu sendiri memberi kenikmatan. Seperti halnya menonton musik, pada akhirnya bukan, lirik lagu, penyanyi atau pemain musiknya yang menarik, melainkan menontonnya itu yang memberi sensasi menyenangkan. Ouw…ternyata begitu? Lantas saya berimaginasi, bahwa menonton bokep berarti membutuhkan waktu luang, karena ada faktor menikmati tadi. Tak mungkin orang menonton bokep dalam keadaan sedang bekerja produktif. Pasti dipayakan waktu luang agar bokep itu dapat dinikmati sehingga menimbulkan kesenangan. Dapat juga berarti bokep telah menjadi fungsi hiburan demi mencapai keadaan merasa senang.

Ah, tak sepakat dengan pandanganmu.

Memangnya kenapa kalau bokep pada akhirnya berfungsi hiburan?

Memangnya melanggar disiplin organisasi?

Jangan normatif jadul gitu ah! Bokep adalah produk zaman. Zaman teknologi informatika berkembang pesat dalam menyajikan berbagai macam imaginasi kreatif yang di dalam tatanan sosial terlalu diberi rambu-rambu pelarangan. Internet –produk teknologi informatika itu justru menampilkan aspek manusia secara apa adanya. Bokep itu cermin pemberontakan terhadap tatanan sosial yang sok suci. Bokep itu berani mendobrak yang seksual itu tabu menjadi tontonan publik. Bokeplah yang berani menampilkan hasrat paling manusiawi yang dikekang-kekang oleh norma sosial. Bukankah itu revolusioner, Coy? Lihatlah, bokep telah membantu rakyat pekerja untuk memperoleh hiburan yang tidak mengeluarkan dana! Cukup pakai kolor, dengan menggunakan komputer sekretariat , seorang rakyat pekerja telah mendapatkan hiburan.

Eit, jangan salah, perspektifku bukan normatif untuk menjaga nilai-nilai suci dalam tatanan sosial. Meskipun juga tak setuju jika urusan menjaga tatanan sosial diserahkan kepada kaum agamawan dan polisi. Perspektifku adalah imaginasi. Bayangkan, jika bokep berfungsi sebagai hiburan yang untuk itu membutuhkan waktu luang, bukankah menghasilkan keadaan di mana rakyat pekerja akan selalu mencari dan menciptakan waktu luang untuk bersenang-senang dengan bokep? Imaginasinya lalu apa? Ya itu tadi, bersenang-senang dengan bokep seperti di dalam bokep bukan? Apabila imaginasi ini yang pada akhirnya berkembang tumbuh di kalangan rakyat pekerja, jangan-jangan mengimaginasikan sosialisme pun seperti halnya bokep.

Sosialisme diimaginasikan seperti halnya bokep? Ya, sesuatu yang menyenangkan sebagai pembebasan hasrat sejati. Sedangkan organisasi diimaginasikan seperti halnya ruang untuk menciptakan waktu luang bersenang-senang dengan bokep. Sekretariat ibarat komputer dan modemnya. Program-program pada akhirnya adalah aktivitas untuk menonton bokep. Mobilisasi massa di jalan pada akhirnya mobilisasi hasrat-hasrat untuk memperjuangkan bokep melawan tatanan sosial yang sok suci!

Astaga! Lagi-lagi imaginasimu vulgar. Mereduksi perjuangan pembebabasan rakyat pekerja serupa dengan menonton bokep. Sosialisme kamu samakan dengan bokep. Kebangetan. Ini upaya intrik internal ya?

Lho, saya mengatakan apa adanya. Berdasarkan basis material dewasa ini. Perspektif saya adalah imaginasi. Bokep adalah contoh produk kemajuan teknologi informatika dan industrialisasi hiburan yang diterima ‘di bawah kesadaran’ rakyat pekerja sebagai hiburan. Hiburan berubah menjadi ideologi yang mengkonstruksi secara sosio-budaya imaginasi rakyat pekerja. Tradisi kerja buruh untuk menciptakan sebuah produk, taruhlah BH dan CD yang melampaui sekian puluh tahapan, yang seharusnya mengkosntruk imaginasi keuletan dan ketelatenan, dengan cepatnya dikoyak-moyak dan diisi dengan imaginasi hiburan sebagaimana bersenang-bersenang dengan bokep seperti di dalam bokep. Imaginasi bokep dalam perwujudan lain akan menciptakan kata-kata “yang penting hepi” dan dalam penyakit patronase perpolitikan di negeri kita menjadi “yang penting bapak senang aliasABS”. Sebab, imaginasi senang-senang tak perlu kreatifitas mencipta. Imaginasi senang-senang hanya konsumtif terhadap alat-alat kesenangan yang sudah disediakan oleh industri hiburan. Karena itu imaginasi kita menjadi loyo, kehilangan daya kreatifitas, kehilangan keuletan!

Jadi, sekali lagi, bokep telah mengkolonisasi imaginasi rakyat pekerja. Bokep merupakan alat kapitalisme untuk mengeksplorasi dan mengeksploitasi hasrat seksual rakyat pekerja. Bokep adalah peralatan canggih untuk memanipulasi hasrat seksual menjadi hiburan, yang secara empirik membunuh imaginasi  rakyat pekerja. . Semirip dengan judi yang telah dipergunakan oleh kolonialis untuk membuat loyo imaginasi kuli kontrak melawan tuan perkebunan.

(bersambung)

*penulis adalah Ketua Departemen Pendidikan dan Propaganda Komite Pusat  PRP

Iklan

Tinggalkan Komentar, Komentar anda akan kami moderasi terlebih dahulu. Harap jangan mengirimkan link yang tidak perlu, khususnya link yang mengandung iklan dan spam

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: