Tinggalkan komentar

Selamatkan Demokrasi! Bangun front oposisi sejati rakyat!


(tulisan ini merupakan pernyataan sikap Komite Pusat PRP)

Salam rakyat pekerja,

Tanda-tanda melemahnya pelaksanaan demokrasi di Indonesia hadir di hadapan kita semua. Dari hari ke hari, pelemahan demokrasi yang diyakini bersama sebagai jalan politik terbaik dari yang ada digerogoti oleh pilar demokrasi itu sendiri, yakni mereka yang memegang kuasa di jajaran pemerintah, parlemen, bahkan yudikatif. Masyarakat atau rakyat tinggal sebagai “penonton” yang menjadi obyek kekuasaan dan tak berdaya mendapati mandat politik yang dipercayakan lewat pemilu disalahgunakan.

Tetapi apakah tanda-tanda itu? Pertama, ketiadaan oposisi politik di parlemen dimana seluruh kekuatan politik diserap oleh pemerintah. Semua partai besar dan menengah menempatkan wakilnya di jajaran kabinet. Bahkan partai yang digadang-gadang menjadi oposisi, PDI-P, tampaknya cukup puas beroleh jatah ketua MPR yang dijabat Taufiek Kiemas, suami Megawati. Politik, dengan demikian, menjadi arena “potong tumpeng” belaka bagi kontestan pemenang pemilu.

Tak signifikannya partai oposisi atau bahkan tiada, memperlihatkan watak rezim yang mengarah otoritarianisme. Segala kebijakan bakal mudah lolos diteken, termasuk kebijakan yang berpotensi merugikan kepentingan rakyat pekerja. Neoliberalisme, yang merupakan watak dan karakter rezim SBY-Boediono akan melenggang tanpa perlawanan berarti di medan politik resmi.

Kedua, SBY-Boediono juga berusaha mengamputasi berbagai kewenangan KPK yang telah memiliki reputasi besar sebagai pemberantas korupsi yang efektif. Para pimpinan KPK dikriminalisasi dengan berbagai motif. Bibit-Chandra pada akhirnya memang dibebaskan dari segala tuduhan atas desakan rakyat, tetapi sebagai perkakas pemberantas korupsi, KPK sekarang jelas lebih lemah dan rentan kedudukannya dibanding masa-masa sebelumnya.

Demokrasi yang selalu didengung-dengungkan pejabat itu jelas bermasalah, jika pada saat bersamaan piranti anti-korupsi melemah dan tumpul. Demokrasi hanyalah sebentuk hiasan bibir (lips service), sementara praktek penyalahgunaan wewenang terus berlangsung. Demokrasi yang ditopang oleh korupsi tak memiliki makna yang berarti, kecuali hanya sekian prosedur akal-akalan yang ramai oleh kamuflase.

Ketiga, praktek hukum menyimpang dan penuh anomali. Jika dikatakan hukum dinyatakan sebagai ruang memperjuangkan keadilan senyatanya bertolak belakang. Hukum di rezim SBY tetap saja loyo dihadapan pemilik modal dan perkasa di hadapan rakyat jelata yang miskin-papa. Berbagai media mempertontonkan para penggerorogot uang Negara yang bernilai triliunan rupiah masih berlenggang kangkung (misalnya pada megaskandal Bank Century), sementara Minah, nenek tua yang didakwa mencuri segelintir buah coklat harus mendekam penjara. Atau tarik-ulur kasus Prita Mulyasari, ibu rumah tangga yang mengeluhkan pelayanan kesehatan lewat e-mail yang sempat diganjar kurungan dan denda ratusan juta rupiah.

Terakhir, keempat, Kejaksaan Agung (Kejagung) kembali menerapkan kebijakan ala orde baru berupa pelarangan lima buah buku. Sejauh ini Kejagung telah melarang 54 buah buku dan hendak melakukan hal yang sama pada 20 buku lainnya, prestasi yang hanya bisa disaingi orde baru. Pelarangan buku hanya tampil pada jenis kekuasaan otoritarian yang memiliki maksud pembatasan informasi bagi publik.

Kebijakan-kebijakan anti-demokrasi lainnya, sementara itu, masih berlangsung pada pemerintahan yang belum genap berumur 100 hari. Kaum buruh tetap menghadapi kebijakan outsourcing dan sistem kontrak, dimana buruh berada pada posisi tertindas dan penuh ketidakbebasan. Kaum Tani akan disapu oleh ACFTA, skema perdagangan bebas ASEAN-China, dimana produk pertanian kita cepat atau lembat disingkirkan dari pasar karena kalah bersaing dengan produk dari China dan negara-negara Asia Tenggara lainnya. Sementara kaum miskin kota terus bergelut dengan ancaman penggusuran yang kian marak diberitakan media massa.

Pertanyaannya kemudian, adakah jalan keluar dari situasi yang menjerat mayoritas rakyat di hari-hari sekarang dan yang akan datang ini?

Jawabnya: ada. Meskipun bukan prestasi besar, kehendak SBY memperlemah KPK pada akhir tahun 2009 kemarin terganjal oleh kegigihan publik atau massa rakyat yang menentangnya. Kemenangan kecil lain juga dipertunjukkan oleh Gerakan Koin untuk Keadilan yang berusaha membebaskan Prita Mulyasari dari dakwaan hukum formal.

Di masa yang lalu, kekuataan massa buruh mampu menolak rencana revisi UU Ketenagakerjaan di tahun 2006. Dan jangan lupakan pula, gerakan massa pada Reformasi 1998, menumbangkan Soeharto yang telah 32 tahun bertahta.

Tentu ada plus-minus dari kemenangan-kemenangan rakyat ini. Tetapi jelas kekuataan rakyat memiliki batas “tanpa batas”, bahkan pun bila dibandingkan kekuasaan yang dilindungi aparatus kekerasan (polisi dan militer).

Dan sekian kemenangan itu bercirikan persatuan gerakan dalam macam ragam bentuknya. Ketika seluruh elemen rakyat bersatu-padu, kemenangan itu tampak tinggal sesuatu yang hanya harus diraih.

Upaya penyelamatan demokrasi itu pun harus memiliki ciri yang sama, yakni menghimpun seluruh elemen demokratik yang ada dan teguh memperjuangkan kepentingan rakyat pekerja.

Perhimpunan Rakyat Pekerja memiliki komitmen penyatuan elemen-elemen demokratik dimaksud, sehingga tak lelah-lelahnya menyerukan:

Kepada seluruh elemen dan organisasi rakyat untuk berinisiatif membangun kekuatan berupa front oposisi rakyat terhadap rezim neoliberal SBY-Boediono.

Secara teguh menolak neoliberalisme dan segala kebijakan turunannya yang menindas buruh, tani, dan kaum urban miskin perkotaan.

Percaya pada adanya sistem ekonomi-politik diluar kapitalisme yang merupakan jalan sejati bagi pembebasan rakyat pekerja, yaitu SOSIALISME.

Melakukan praktik perlawanan nyata terhadap rezim neoliberal SBY-Boediono, seperti momentum terdekat 28 Januari 2009, tepat 100 Hari pemerintahan SBY-Boediono.

Jakarta, 12 Januari 2010

Komite Pusat

Perhimpunan Rakyat Pekerja

(KP-PRP)

Iklan

Tinggalkan Komentar, Komentar anda akan kami moderasi terlebih dahulu. Harap jangan mengirimkan link yang tidak perlu, khususnya link yang mengandung iklan dan spam

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: