1 Komentar

Songsong Kepemimpinan Gerakan Buruh, Tani, dan Nelayan dalam Front Oposisi Rakyat Indonesia (FOR Indonesia)


(Tulisan ini merupakan pidato politik Pimpinan Komite Pusat PRP pada aksi Front Oposisi Rakyat Indonesia tangal 28 Januari 2010, dalam rangka lima tahun 100  hari Rezim Neolib SBY)

“Ganti Rezim, Ganti Sistem”

Kawan-kawan seperjuangan,
Selalu ada yang konstan dalam perjuangan rakyat, yakni tentang momentun krisis ekonomi-politik dan kehendak gerakan massa yang tak terbendung bagai air bah saja. Marilah kita membuka kembali ingatan sekitar 11-12 tahun lalu, ketika negeri ini dirundung krisis ekonomi yang menyebabkan ribuan buruh mengalami PHK massal, kekerasan dalam rumah tangga, dan angka bunuh diri meningkat. Coba siapa yang mampu membendung gerakan mahasiswa menembus barikade militer Rezim Soeharto hingga menduduki gedung parlemen di Senayan, Jakarta? Mari kita buka ingatan lainnya, ketika Rezim militerisme Orde Baru menggunakan momentum krisis ekonomi di masa pemerintahan Soekarno, tak ada yang mampu membendung gerakan mahasiswa untuk turun ke jalan pada 1966. Meski pada masa itu mahasiswa “kecolongan” atas terjadinya Tragedi 1965 di daerah-daerah hampir seluruh Indonesia, dan kemudian mereka beraksi kembali melawan kekuasaan modal pada aksi yang disebut Peristiwa Malari (Peristiwa “15 Januari” 1974). Ini merupakan contoh, bahwa gerakan mahasiswa selalu dalam kepeloporan perlawanan dalam situasi krisis sebuah rezim.

Namun saat ini dan mendatang, barisan pelopor perlawanan telah berubah, yaitu berada dalam kepemimpinan gerakan buruh dan tani. Tesis kami ini bertolak dari kenyataan, bahwa ada kemajuan yang revolusioner dalam kehendak massa melawan Rezim SBY, sebagai kaki-tangan Rezim Neoliberal, yang saat ini dipimpin gerakan buruh, tani, dan nelayan (meski yang terakhir ini masih membutuhkan waktu untuk kuat dan membesar). Lihatlah pada hari ini, hampir seluruh panca indera rakyat Indonesia (dan internasional) mengarah pada “Aksi 28 Januari”, yang terselenggara di daerah-daerah maupun di pusat kekuasaan negara, yang dipelopori oleh gerakan buruh dan tani dalam satu Front Oposisi Rakyat Indonesia (FOR Indonesia). Krisis ekonomi-politik yang belum pernah pulih sejak 1997 telah menggerakkan aksi yang sejati dari massa rakyat, yakni buruh, tani. dan nelayan, sebagai kelas sosial yang mengalami kehancuran total dalam krisis ekonomi-politik, untuk bersatu dalam wadah politik. Mahasiswa, kaum intelektual, dan profesional, sudah selayaknya turut serta di belakang barisan pelopor ini.
Bukankah itu kehendak revolusioner yang demikian terangnya, tanpa dipaksa-paksa, dan tak bisa dibendung? Bukankah ini merupakan kekuatan revolusioner yang sedang bangkit dalam krisis Indonesia yang dipimpin Rezim SBY?

Kawan-kawan seperjuangan,

Terang sudah, Front Oposisi Rakyat Indonesia (FOR Indonesia) lahir sebagai kehendak tak terbendung dari massa aksi buruh, tani, dan nelayan yang siap berlawan terhadap mafia neoliberalisme. Meskipun istilah neoliberalisme barangkali sukar untuk dipahami dan dihapal di luar kepala rakyat secara umum, namun buruh, tani, dan nelayan dapat menyatakan dengan sejelas-jelasnya bagaimana mafia neoliberalisme beroperasi di Indonesia. Buruh, tani, dan nelayan dengan seterang-terangnya dapat menjelaskan arti kehancurannya sebagaimana kami jabarkan ini:

Pertama, mafia neoliberal membangun jaringan kaki-tangan untuk menjadi penguasa negara. Rezim SBY selama lima tahun seratus hari pemerintahannya telah terbukti benar sebagai kaki-tangan mafia neoliberal yang sukses, namun jelas gagal mensejahterakan rakyat. Rezim SBY gagal menjalankan amanat rakyat: dipilih sebagai presiden dengan harapan memberi perlindungan, kesejahteraan, dan hidup nyaman sebagai rakyat di negeri sendiri.

Kedua, mafia neoliberal ini menggunakan rezim kaki-tangannya untuk mereorganisasi sistem ekonomi-politik melalui perundang-undangan dan peraturan lainnya, disertai reorganisasi institusi ekonomi-politik, guna melakukan penjajahan wilayah, tenaga kerja, tanah-laut, dan sumber-sumber alam yang dihasilkannya, sehingga Indonesia bukan lagi di bawah kontrol (kekuasaan) buruh, tani, dan nelayan.

Ketiga, mafia ini membangun ideologi globlalisasi agar dapat secara bebas membangun pasar dan konsumen lintas batas negara. Di Indonesia globalisasi hanya sukses menanamkan ideologi “gaji tandas untuk membeli gaya hidup”.

Keempat, mafia ini memanfaatkan beban ganda perempuan sebagai pengurus rumah tangga dan “pencari nafkah tambahan” (catatan: “pencari nafkah tambahan” adalah istilah yang dipopulerkan Rezim Militerisme Orde Baru) untuk menjadi konsumen, agen kecil penjaja barang kapitalis (yang hanya dinilai non-komoditi), dan penopang krisis ekonomi pada skala mikro. Sebagai pencari nafkah tambahan, perempuan diarahkan menjadi agen kecil yang memperluas jaringan penjualan barang-barang kapitalis, namun penghasilannya dipaksa habis untuk belanja keperluan rumah tangga termasuk penyediaan makanan keluarga. Sedangkan ketika rumah tangga buruh, tani, dan nelayan mengalami krisis ekonomi, kaum perempuan ini yang harus mencari hutangan atau sumber-sumber makanan yang tak layak dikonsumsi.

Di bawah penindasan mafia neoliberal ini, bukannya Rezim SBY berupaya untuk membebaskan buruh, tani, dan nelayan, tetapi justru sebaliknya rezim ini menjadikan Indonesia sebagai lahan untuk perdagangan dan investasi bebas bahkan juga menciptakan keuangan negara untuk kepentingan pengusaha/kapitalis.

Kawan-kawan seperjuangan,

Kita selayaknya bersorak menyaksikan aksi-aksi “FOR Indonesia”, bahkan sebelum aksi hari ini (28 Januari 2010), telah marak di Medan, Bengkulu, Bandung, Jabodetabek, Solo, Surabaya, Makassar, Palu, Samarinda, dan kota-kota lainnya. Aksi-aksi kecil ini perlahan tapi pasti akan membukit, dan nyatanya kami telah membaca surat kabar, bahwa pihak intelijen negara melarang media elektronik dan cetak untuk meliput aksi-aksi rakyat ini. Sebaliknya yang diliput adalah pernyataan perang di kalangan elit borjuasi untuk bernegosiasi kekuasaan melalui Pansus Bank Century di DPR saat ini. Apakah artinya ini kawan-kawan? Bukankah ini artinya Rezim SBY sebagai kaki-tangan rezim neoliberal paling takut terhadap bangkitnya gerakan rakyat bermassa buruh, tani, dan nelayan? Bukankah mereka takut berhadapan dengan gerakan rakyat yang sejati? Sebabnya, telah jelas, kebangkitan rakyat ini merupakan kiamat bagi mafia neoliberal., baik di Indonesia maupun di seluruh dunia.

Kita pun bersorak, menyaksikan kebangkitan gerakan rakyat di seluruh dunia juga mulai tak terbendung. Pada beberapa hari yang lalu, tepatnya 25 Januari 2010, di Porto Allegre, Brazilia, telah dibuka pertemuan Forum Sosial Dunia, yang dihadiri sebanyak 25.000 orang aktifis gerakan rakyat sedunia. Forum Sosial Dunia adalah pertemuan gerakan-gerakan sosial (buruh, tani, nelayan, LSM, perempuan, dan elemen-elemen yang pro-rakyat) untuk membahas tentang krisis kapitalisme dunia dan alternatif pembangunan di luar kapitalisme, agar distribusi pendapatan adil buat rakyat. Sosialisme merupakan jalan keluar alternatif yang saat ini menjadi arah perhatian dalam Forum Sosial Dunia. Sebab, telah nyata kapitalisme/neoliberalisme menghancurkan kehidupan rakyat dunia, bahkan alam (iklim) pun hancur karena kejahatan kapitalisme.

Maka, lahirnya FOR Indonesia saat ini benar-benar berada pada momentum dunia yang tepat. Inilah yang disebut kehendak zaman untuk mengakhiri kejahatan kapitalisme-neoliberal. Tegasnya, dalam momentum ini sudah selayaknya, para pendukung atau yang menyatakan diri bagian dari gerakan rakyat, gerakan kelas pekerja, gerakan sosial, untuk memperkuat dan memperluas gerakan FOR Indonesia sebagai wadah perjuangan bersama. Seluruh sektor dan isu yang meliputi perempuan, hak asasi manusia, lingkungan dan sumberdaya alam, anti-korupsi, pemantau anggaran dan regulasi (reformasi kebijakan), kelompok jurnalis, mahasiswa, profesional, organisasi masyarakat sipil pelayan amal, untuk melebur dalam FOR Indonesia yang dipimpin oleh buruh, tani, dan nelayan.

Sudah barang tentu, selayaknya FOR Indonesia tidak hanya bergerak selama aksi 28 Januari 2010, melainkan merupakan wadah perjuangan sampai rakyat itu sendiri dapat mengontrol “Lima Agenda Perjuangan” yang telah dirumuskan oleh FOR Indonesia, yang meliputi (1) Industrialisasi Nasional, (2) Reforma Agraria Sejati, (3) Pelaksanaan demokrasi ekonomi, yakni sumber-sumber negara yang menyangkut kebutuhan hidup orang banyak dikontrol oleh rakyat, (4) Penghormatan dan penegakan hak asasi manusia serta kesetaraan gender, termasuk tangkap dan adili pelaku kejahatan kemanusiaan di Indonesia, (5) Partisipasi rakyat secara langsung dalam demokrasi politik, yakni rakyat yang menentukan bangunan demokrasinya, dan bukan hanya dimobilisasi dalam pemilu langsung prosedural selama ini.

Teranglah, FOR Indonesia adalah alat perjuangan politik rakyat yang tidak sekedar berjangkauan pendek untuk kepentingan pribadi-pribadi yang ngotot jadi elit politisi. “FOR Indonesia”, dapat dipastikan sebagai kekuatan baru, karena merupakan penggabungan multi sektor dan isu, serta penggabungan format-format gerakan sosial, gerakan masyarakat sipil, gerakan massa yang dipimpin sendiri oleh buruh, tani, dan nelayan.

Kawan-kawan seperjuangan,

Perhimpunan Rakyat Pekerja menegaskan dukungan yang penuh dan sebesar-besarnya terhadap FOR Indonesia yang dipimpin oleh buruh, tani, dan nelayan untuk mengganyang mafia neoliberal sampai enyah dari negeri kita dan dunia. Kita nyatakan Rezim SBY telah gagal mensejahterakan rakyat. Kita nyatakan berjuang untuk ganti rezim dan ganti sistem. Hanya ada Sosialisme jalan sejati pembebasan rakyat pekerja.

Teranglah sudah, jangan pernah lelah perjuangkan Sosialisme!!

Jakarta, 28 Januari 2010

Komite Pusat

Perhimpunan Rakyat Pekerja

(KP-PRP)

Iklan

One comment on “Songsong Kepemimpinan Gerakan Buruh, Tani, dan Nelayan dalam Front Oposisi Rakyat Indonesia (FOR Indonesia)

  1. Lanjutkan perjuangan buruh demi keadilan dan kesejahteraan sosial

Tinggalkan Komentar, Komentar anda akan kami moderasi terlebih dahulu. Harap jangan mengirimkan link yang tidak perlu, khususnya link yang mengandung iklan dan spam

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: