Tinggalkan komentar

“Perempuan Indonesia Beroposisi”


(Tulisan ini Merupakan Pidato Politik Pimpinan Komite Pusat PRP yang disampaikan pada hari Perempuan Internasional)

Ganti Rezim, Ganti Sistem!

Jakarta, 8 Maret 2010

Kawan-kawan seperjuangan,

Mengapa kita menggunakan momentum Hari Perempuan Internasional, yang ditetapkan “8 Maret”, untuk mempropagandakan kondisi perempuan Indonesia yang kritis? Tentu bukan hendak mejeng seperti peragawati di atas catwalk untuk mempopulerkan pribadi-pribadi dan meminta keistimewaan. Bukan itu. Seabad yang lalu para perempuan revolusioner, yakni Clara Zetkin (Biro Perempuan Partai Sosial-Demokratik, Jerman), Alekssandra Kollontai , dan kawan-kawannya menggelar sebuah konferensi sosialis untuk masalah perempuan di Copenhagen, Denmark, yang dihadiri oleh perwakilan serikat buruh, partai sosialis, serta kelompok-kelompok perempuan pekerja dari 17 negara. Konferensi ini merupakan sebuah pernyataan terhadap situasi kritis buruh perempuan di masa krisis industrialisasi berseriring dengan ledakan pertumbuhan penduduk. Dalam konferensi tersebut Clara Zetkin menetapkan agar setiap tahun perempuan di seluruh dunia menggelar aksi Hari Perempuan Internasional sebagai aksi politik untuk menuntut hak bersuara, hak berserikat, hak memperoleh upah yang adil, hak sebagai ibu, hak sebagai penanggungjawab anak-anak, dan sebagainya. Aksi Hari Perempuan Internasional yang pertama digelar pada 19 Maret 1911 di Jerman, Denmark, Austria, Swiss, dan negara lainnya. Alekssadra Kollontai menggambarkan aksi Hari Perempuan Internasional di Jerman saat itu didukung oleh sekitar 30.000 perempuan yang membuat sebuah kota di Jerman seperti lautan perempuan. Sedangkan para suami mengurus anak di rumah, dan para perempuan itu menghadiri rapat akbar.

Hari Perempuan Internasional (dikenal International Women’s Day) ditetapkan tanggal “8 Maret” setelah aksi pada 1913 di tengah menjelang pecah Perang Dunia I. Penetapan “8 Maret” menurut beberapa sumber sejarah mengambil inspirasi dari gerakan buruh perempuan manufaktur (garmen dan tekstil) yang melakukan aksi protes di New York City pada 1857 dan kemudian mengalami kekerasan dari polisi. Dua tahun sesudahnya, tepatnya 8 Maret 1859, buruh peempuan itu dapat membentuk serikat buruh. Aksi protes buruh perempuan di New York City mengenai soal jam kerja itu dilakukan kembali pada 8 Maret 1908. Melihat basis sejarah ini, teranglah bahwa “8 Maret” dan penetapannya sebagai Hari Perempuan Internasional bertolak dari masalah buruh perempuan. “8 Maret” adalah pernyataan perjuangan buruh perempuan untuk mendapatkan haknya sebagai “perempuan” dan sebagai “buruh”. Sebab, problem sebagai perempuan (sebagai ibu yang memiliki seksualitas perempuan, fungsi reproduksi, dan pengasuhan anak) serta sebagai “buruh” yang mengalami diskriminasi di pabrik karena perempuan tidak mendapatkan suara dalam perjuangan serikat buruh secara umum.

Kawan-kawan seperjuangan,

Terang sudah. Hari Perempuan Internasional diadakan sebagai forum pernyataan perlawanan atas kondisi kritis perempuan kelas pekerja. Kami memperingatinya saat ini sebagai peringatan seabad berdasarkan penetapannya dalam konferensi perempuan sosialis pada 1910 oleh Clara Zetkin. Sedangkan ada pendapat lain yang menetapkan seabad hari perempuan sejak 1911, dan ada pula yang menetapkan seabad pada penetapan tanggal “8 Maret” pada 1913.

Pada seabad Hari perempuan Internasional ini, kami menyatakan krisis ekonomi-politik perempuan telah mencapi kondisi kritis. Betapa miris hati kita membaca pernyataan Front Oposisi Rakyat Indonesia (FOR-Indonesia), yang menyajikan data perempuan dalam setiap harinya mengalami kematian karena kerja, karena melahirkan, dan pada akhirnya memilih bunuh diri sebagai jalan keluar pembebasan dari krisis yang akut. Kami kutip data perempuan sepanjang 2009-2010:

1 Hari = 12 orang buruh migran perempuan mati di negara tempat kerja

1 Hari = 1.600 buruh perempuan di PHK

1 Hari = 20 perempuan diperdagangkan untuk komoditi seksual dan tenaga kerja

1 Hari = 100 juta ibu tekor (hutang) Rp 30.000,- untuk biaya konsumsi rumah tangga

1 Hari = 12 perempuan menjadi korban kekerasan seksual

1 Hari = 48 ibu mati melahirkan

1 Hari = 45 HA lahan pesisir hilang ketangan investor

4 Hari = 1 orang perempuan bunuh diri

Sumber: Maklumat “Perempuan Menggugat”, yang dikeluarkan FOR-Indonesia pada Hari Perempuan Internasional, 8 Maret 2010

Apakah artinya data-data itu, kawan-kawan? Bayangkan dalam sehari perempuan Indonesia mati karena mereka menjadi ibu dan tenaga kerja. Mereka kehilangan pekerjaan, kehilangan lahan sumber hidup, dijerat hutang, serta seksualitasnya dijual dan dihancurkan. Perempuan Indonesia mengalami kehancuran massal, bahkan kematian massal akibat krisis ekonomi neoliberal dan krisis politik dalam negeri. Ini bukan masalah sepele. Apalagi, menurut data maklumat “Perempuan Menggugat”, kondisi kritis perempuan ini hanya ditanggapi oleh Rezim SBY dengan anggaran sebesar 0,002 persen dari total anggaran APBN 2010 atau sebesar Rp 133,504 miliar dari Rp. 1.047.666.042.990.000. Betapa kecilnya dengan angka Rp 6,7 trilyun yang dijarah Rezim SBY dari Bank Century!

Kawan-kawan seperjuangan,

Sungguh sangat mengejutkan karena perempuan yang berada dalam kondisi kritis itu dewasa ini, dibelenggu oleh Peraturan Daerah (Perda) yang diskriminatif dan mempolitisasi tubuh perempuan sebagai biang keladi pornografi, kekerasan seksual, dan poligami. Juga mengkriminalisasi hak perempuan untuk bekerja hingga larut malam. Ini ironis dengan keterbukaan politik hak suara dipilih perempuan yang dijamin dengan kuota 30 persen. Ironis dengan demokratisasi melalui Otonomi Daerah.

Lalu di mana saluran politik perempuan untuk menyatakan kondisinya yang kritis?

Kawan-kawan seperjuangan,

Inilah saatnya organisasi perempuan bergabung ke dalam Front Oposisi Rakyat Indonesia (FOR-Indonesia), melebur bersama elemen gerakan sosial lainnya untuk berjuang melawan rezim neoliberal yang dijalankan, secara “sukses”, oleh Rezim SBY di Indonesia. Inilah saluran politik perempuan untuk menyatakan kondisinya yang kritis. Oleh sebab itu kami mendukung barisan perempuan FOR-Indonesia yang menyatakan mengangkat tinjunya melawan rezim pada seabad Hari Perempuan Internasional ini. Kami mendukung perjuangan perempuan secara politik dan juga melawan dominasi patriarki di dalam praktik sosial sehari-hari.

Jelas, perjuangan pembebasan perempuan harus dimulai saat ini, untuk mengubah pembagian kerja secara seksual di dalam rumah tangga yang tidak adil dan juga di dalam politik. Saatnya, perempuan kelas pekerja (buruh, tani, nelayan) berbaris sebagai pelopor perubahan, tidak hanya pada saat aksi protes, melainkan juga harus menjadi progam organisasi. Kami menyerukan agar serikat-serikat pekerja (buruh, tani, nelayan, guru, dan lain-lain) mulai menyusun program untuk pembebasan perempuan, berlandaskan pada Lima Platform FOR-Indonesia: Demokrasi ekonomi dan politik; membangun industrialisasi nasional; mewujudkan reforma agraria sejati; penegakan HAM; serta mewujudkan keadilan ekologis.

Kawan-kawan seperjuangan,

Pada seabad Hari Perempuan Internasional ini, kami mengharapkan perempuan dan laki sebagai kawan seperjuangan (comrade in arms) dalam barisan oposisi hingga tercapainya Lima Platform FOR-Indonesia di bawah kontrol rakyat. Kami mengharap lahirnya perempuan-perempuan revolusioner untuk membangun Sosialisme sejati.

Menangkan oposisi rakyat!

Jangan lelah perjuangkan Sosialisme!

Jakarta, 8 Maret 2010

Komite Pusat

Perhimpunan Rakyat Pekerja

Iklan

Tinggalkan Komentar, Komentar anda akan kami moderasi terlebih dahulu. Harap jangan mengirimkan link yang tidak perlu, khususnya link yang mengandung iklan dan spam

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: