5 Komentar

“Menggugat Kedatangan Obama” Lawan Imperialisme !!


(Tulisan ini Merupakan Pernyataan SikapFront Oposisi Rakyat Indonesia)

Presiden Obama direncanakan akan datang ke Indonesia pada pertengahan Maret ini, sebagai rangkaian kunjungan ke Australia dan Guam. Kunjungan ini memiliki kepentingan ekonomi politik karena di tengah krisis ekonomi kapitalis global, terutama dalam rangka memperkuat kebijakan  properang dan promodal AS.

Kami telah mempelajari kesepakatan Obama dengan SBY tertuju pada sektor energi, pendidikan, bantuan militer, dan sebagainya, yang membuktikan tekanan neoliberalisme terhadap negara dunia ketiga semakin mencengkeram kehidupan rakyat di Indonesia yang mayoritas adalah buruh, tani dan nelayan.

Kami akan uraikan kezaliman imperialisme AS sebagai penjealsan mengapa kami menggugat kedatangan Obama ke Indonesia.

1. Kezaliman Imperialis AS di Indonesia

Pertama. Sejak awal AS berkepentingan terhadap sumber daya alam Indonesia dan telah mendompleng kolonialisme Belanda sejak tahun 1870 –untuk mengangkangi kekayaan perkebunan dan migas hingga saat ini. Pada 1949 AS memaksa elite Indonesia melalui perjanjian KMB untuk menerima tiga syarat ekonomi bagi kemerdekaan yaitu (1) bersedia mempertahankan keberadaan perusahaan-perusahaan asing yang beroperasi di Indonesia, (2) bersedia mematuhi ketentuan-ketentuan yang ditetapkan oleh Dana Moneter Internasional, dan (3) bersedia menerima warisan utang Hindia Belanda sebesar 4,3 milliar gulden. Ketiga syarat itulah yang menjadi dasar bagi dominasi AS atas ekonomi Indonesia (Refrisond Baswir, AEPI, 2010).

Kedua. AS telah menjadi dalang dibalik pengurasan sumber kekayaan mineral Indonesia melalui Rezim Soeharto untuk menciptakan UU Penanaman Modal Asing No. 1 Tahun 1967  Hasilnya masuklah perusahaan multinasional seperti Freeport, Newmont.

Pada 2007, AS menyogok Rezim SBY untuk merevisi  UU Penanaman Modal yang lama dan menciptakan UU Penanaman Modal yang baru, yaitu UU No. 25 Tahun 2007 yang memberi kesempatan  penguasaan HGU (hak guna usaha) oleh modal kapitalis hingga 95 tahun lamanya. Hasilnya lebih dari 175 juta hektar lahan di Indonesia kini dikuasai modal persekutuan kapitalis (imperialis) yang meliputi AS, Uni Eropa dan Jepang.

Ketiga. AS adalah pemegang saham terbesar di IMF dan Bank Dunia yang memberikan utang terbesar di Indonesia.  Dari sini AS mendapatkan bunga utang, menguasai kebijakan ekonomi dan undang-undang yang menguntungkan AS di Indonesia. Sebuah contoh, World Bank berperan besar dalam merancang proyek untuk memporak-porandakan Pertamina —perusahaan Migas Nasional. Hasilnya perusahaan migas AS telah mengeruk kekayaan alam migas selama lebih dari 100 tahun, Caltex, Chevron, Exxon merupakan dua perusahaan AS yang paling terkemuka, menguasai dan mengontrol sebagian besar kekayaan minyak dan gas nasional hingga saat ini.

Di bawah kepemimpinan Obama, tekanan ekonomi-politik terhadap negara dunia dilakukan melalui pengelompokan G-20. Sebesar 1.1 milyar dollar dikucurkan melalui G-20 sebagai perangsang ekonomi yang akan dioperasionalkan oleh IMF dalam status utang, antara lain kepada Indonesia dengan syarat neoliberal yang kejam.

Sistem utang ini pula yang memberi keleluasaan Rezim SBY dan partai politik borjuasi menjarah dana Bank Century  sebesar Rp 6.7 Trilyun

Empat. AS adalah dalang tragedi kemanusiaan dalam bentuk ‘perang imperialisme’ di Indonesia dan seluruh dunia. Di Indonesia AS telah membantai pejuang anti-imperialis sejak masa revolusi kemerdekaan, Tragedi 1965-1968 (pembantaian 2-3 juta aktivis anti-imperialis dan masyarakat sipil), juga memusnahkan penduduk miskin melalui program pembangunan selama Orde Baru hingga sekarang.

Di bawah kepemimpinan Obama AS juga terus mealncarkan perang imperialisnya di Afghanistan dan memperkuat basis militernya di Amerika Latin, memberikan bantuan kepada Kopassusyeang terkenal melakukan pelanggaran HAM berat (gross violation of human rights) di Indonesia dan Timor Leste.

2. Lawan Imperialis AS sebagai Dalang Krisis

Jelaslah sistem imperialis tidak akan membawa kesejahteraan dan perdamaian di dunia. Wataknya yang rakus dan menghancurkan manusia, sumberdaya alam, dan sistem ekonomi politik kerakyatan, terbukti hanya menghasilkan krisis ekonomi-politik global, dan pemiskinan buruh, tani, nelayan termasuk di Indonesia.

Penjarahan Bank Century merupakan contoh yang menegaskan Rezim SBY   dan partai politik borjuasi maling dana untuk berkuasa demi mengabdi pada kepentingan imperialis. Kasus Bank Century juga menunjukkan lemahnya peran oposisi di DPR sebagai lembaga pengawas terhadap kebijakan-kebijakan yang akan memperkuat rencana AS untuk memperlancar proyek imperialisme di Indonesia.

Atas gambaran kezaliman imperialis AS tersebut, kami menggugat Obama :

(1)  Hapus utang luar negeri dari AS, World Bank dan sekutu Imperialisme AS lainnya.

(2)  Serahkan perusahaan-perusahaan tambang migas, mineral AS, dll, untuk di nasionalisasi menjadi perusahaan nasional.

(3)  Hentikan seluruh konspirasi dengan elite Indonesia khususnya Rezim SBY dalam melakukan subversi konstitusi

(4)  Tolak kerjasama militer AS-Indonesia yang telah menuai kejahatan kemanusiaan.

Dengan ini kami menyatakan LAWAN IMPERIALISME untuk diganti dengan tatanan baru dunia yang dijalankan dan dimiliki oleh rakyat yang tertindas –yang terdiri dari buruh, tani dan nelayan; yang berdasar pada nilai solidaritas, kerjasama dan penghormatan atas lingkungan. LAWAN IMPERIALISME berarti juga lawan antek-anteknya yang bercokol di Indonesia.

GANTI REZIM GANTI SISTEM

Jakarta, 18 Maret 2010

Salam Oposisi,

Front Oposisi Rakyat Indonesia

(FOR Indonesia)

Iklan

5 comments on ““Menggugat Kedatangan Obama” Lawan Imperialisme !!

  1. Sebuah himbauan menyejukkan. Kita sesama manusia harus saling menghargai dan menghormati. Lihatlah filosofi semut. Kenapa ini perlu, sebab di dunia ini tak ada kebenaran mutlak. Kecuali hukum fisika. Itu juga tidak mutlak penuh. Dan bagi kami orang Cina/Tionghoa, kami orang hanya lebih suka yang klasik yaitu yang ikut Muhammadiyah atau NU. Kami tidak suka yang jenggot2 seperti orang2 PKS, atau orang2 Muslim ektrim lainnya, seperti aliran Maliki, Hambali dan lainnya yang baru “diimpor” ke Indonesia bbelum lama, dan cenderung ekstrim, ada yang pakai jengot, norak. Ahmadiyah sebetulnya baik dan orang-orangnya tidak ekstrim. Tapi karena baik dan bisa banyak pengikut, maka difitnah dan dijegal bahkan mereka dibunuh. Padahal, negeri ini bukan negara Islam, tapi sekuler berdasarkan Ketuhanan YME seperti pada Pancasila, dasar negara, ini sangat penting. Artinya, orang boleh beragama apasaja memilih aliran apasaja selama tidak melanggar hukum nasional.

    Dan ini soal penting. Perombakan kabinet? Mutlak penting. Bayangkan, seorang menteri diangkat hanya karena dulu suka demo dan sok aksi di depan Kedubes Amerika memanfaatkan isu laris-manis yaitu Palestina-Israel.
    Padahal itu hanya untuk mendapat kursi menteri atau persentase perolehan dalam pemilu. Itu permainan mudah dibaca dari PKS. Kini terbukti sudah bahwa Tifatul Sembiring tidak kapabel. Semua orang tahu pasti dan harusnya dia sudah di-reshuffle sejak dulu. SBY sendiri sejak dulu sudah di atas angin, padahal, dia menang hampir mutlak pada pemilu 2009. Tapi SBY takut tanpa alasan, dengan memutuskan membuat “jaring pengaman” tak perlu yaitu koalisi bersama PKS dan Golkar. Sekarang SBY baru tahu kalau Tifatul itu tidak berguna. Negara mau dikemanakan?

  2. Salut dengan mereka. Itu masyarakat hebat. Kali ini juga rakyat di Pantai Gading. Mereka terus berjuang untuk saatnya mendapatkan pemimpin sebenarnya. Inilah yang juga terjadi mulai dari Tunisia sampai Libya. Negara kecil seperti Pantai Gading rakyatnya berani-berani karena selalu dibohongi, seperti kita. Wajar mereka menuntut hak-hak mereka. Mereka yang di Mesir, tunisia dan Libia hebat dalam penggalangan dan organisasi perlawanan. Kasus di Pantai Gading hakekatnya sama juga. Mereka juga tal mau menerima begitu saja pemimpin yang melakukan kebohongan publik. Mereka tidak mau dibohongi dengan pemilu curang atau money politic apalagi hanya 50 ribu sampai 5 juta perak, namun derita selamanya 4 – 5 tahun dan lebih. Konon masyarakat Tunisia, Mesir dan Yaman, Syiria dan Libia, suka sekali bertwitter dan juga diam-diam bernyanyi dan meminta dukungan negara-negara maju dan PBB dengan mengadu ke email situs-situs web mereka. Kita salut denga mereka. Hebat.

  3. http://yudhoyonosuharto.blogspot.com/

    SBY BISA DIKENANG SEPERTI SUHARTO KALAU MAU
    SBY bisa dikenang seperti Suharto kalau mau. Bukan untuk jahatnya tetapi untuk ketegasan, kejelasan dan cintanya kepada rakyat dengan segudang bukti nyata: Tersedianya pekerjaan yang banyak, harga pangan, sandang dan papan yang murah, serta keamanan yang mantap dimana-mana di semua daerah di Indonesia untuk rakyat pada khususnya serta untuk wisatawan dalam negeri dan wisman pada umumnya.

    Banyak pengamat di negeri kami ini boleh saja berkata semua kehancuran saat ini adalah akibat Soeharto. Tidak benar. Soeharto tetap lebih cinta kepada rakyatnya. Sekolah-sekolah Impres dibangun masip dan di semua desa di seluruh Indonesia Soeharto membangun berbagai irigasi mulai dari primer, sekudner hingga tersier lengkap dengan pintu-pintu irigasi sangat baik. Lalu di mana kebaikan ataupun prestasi SBY? Memberantas korupsi dengan penuh wacana dan tebang pilih itulah prestasi nyata SBY.
    Susilo Bambang Yudhoyono, SBY, akan dikenang seperti Soeharto yang dulu menciptakan semua kebaikan tersebut, jika SBY mau. Caranya tentu presiden itu harus menjalankan yang telah dia janjikan dan pidatokan selama ini, bukan hanya berwacana. Sampai saat ini, “presiden rakyat” hanyalah dan tetaplah Soeharto belum ada yang lain.

    Sampai saat ini SBY terbuai wacananya sendiri yang sering diucapkan dalam banyak pidatonya. Orang-orang berkata bahwa SBY tak lebih hanyalah tong kosong nyaring bunyinya. SBY sering menyatakan dia bertekad akan memberantas korupsi tetapi SBY tidak menciptakan sistem yang menunjang upaya tersebut. Seperti kita dengar tiada hari-hari tanpa SBY berjanji misalnya ingin meningkatkan pemberantasan korupsi dan penegakan hukum tetapi bagaimana caranya dan seperti apa tidak jelas. Sesungguhnya, korupsi dan pelanggaran HAM sama sekali bukan buah simalakama, sebab bangsa-bangsa lain, tentu dengan pemimpin yang mengabdi kepada rakyat, buktinya mampu mencegah dan memberantas korupsi. Lihat, negara-negara tetangga itu: Singapura, Malaysia, Thailand, Vietnam dan bahkan Tiongkok Cina.

    Korupsi di Indonesia sudah seperti kanker berat dan menyebar di seluruh institusi pemerintahan baik di yudikatif, legislatif maupun bahkan di tempat dia sendiri, eksekutif. Hampir setiap pegawai negeri, polisi dan militer korupsi karena mereka tidak mau hidup biasa. Mereka selalu hidup berlebihan atau mewah. Hampir semua pegawai tersebut berlomba menunjukkan prestasi berkorupsi mereka tanpa malu di depan sesama warga negara Indonesia, bahkan di depan tetangga rumah mereka, di hadapan istri dan anak-anak mereka. Mereka dimabuk harta dan ikut hura-hura seperti ayah dan ibu mereka yang koruptor, menikmati uang hasil mencuri uang rakyat atau hasil KKN dari menjarah uang rakyat juga. Rumah-rumah mereka mewah-mewah dan mobil-mobil mereka mahal-mahal dan luks, tentu hasil korupsi, hasil mencuri uang negara, SBY membiarkan. Anak-anak tak berdosa itu seakan-akan diajari langsung di depan mata mereka: “Nak ini lho cara ayahmu, ibumu, dapat uang, mudah sekali.”

    Itu harusnya dicegah pemerintahan SBY yang katanya reformis. Tetapi presiden itu tidak mampu mencegah dan hanya pura-pura mencegah, penuh wacana dan gerak-gerik tangannya yang sangat mempesona di layer televisi. Berbeda dengan SBY, Soeharto dalam hal ini pemberani dan disegani sehingga tidak ada orang-orang bukan dekatnya yang berani berkorupsi terlalu. Soeharto benar-benar mendindak lanjuti setiap laporan masyarakat melalui kotak pos pemerintahannya. Soeharto tidak bohong. Gubernur, bupati dan camat dipecat bila ada laporan masyarakat.

    SBY tidak membangun sistem itu, dan membiarkan sistem itu hilang atas nama otonomi. Sementara, SBY juga penakut dan hanya senang berbicara, berwacana dalam janji-janji, dan tindakannya tidak konkrit. Maka SBY tidak dihiraukan, karena dia hanya bicara dan tidak berbuat konkrit memecat setiap orang dalam pemerintahnya yang menghalangi kebijakan upaya antikorupsinya. Rakyat tidak melihat SBY serius kecuali berwacana untuk sekadar pencitraan. Inilah ketidak jelasan berbahaya yang SBY buat dan pasti akan memukul dirinya sendiri mengejutkan yakni kekalahan partainya Partai Demokrat pada 2014 nanti.

    Dalam pemerintahnya lebih parah lagi, banyak oknum pegawai negeri, kepolisian dan militer kian menggalakkan korupsi berjamaah mereka. Uang negara sangat banyak itu dicuri oknum-oknum koruptor itu dengan macam-macam alasan: Untuk proyek pembangunan, proyek pengentasan kemiskinan, proyek pemberdayaan dan sebagainya. Semua tak jelas dan tidak berjangka panjang, tidak memeratakan apalagi adil, banyak indipidu-indipidu tidak mendapatkan.

    Berbagai dana disunat berkelanjutan oleh mereka yang ada di posisi tinggi dan menengah untuk proyek bernilai kecil dan besar, SBY tidak mengawasi seperti Soeharto, SBY tidak pernah menyamar turba apalagi mampu menghentikan itu semua. Kini pegawai-pegawai yang semula sudah kaya-kaya menjadi semakin kaya. Rumah atau apartemen mereka ada dimana-mana bahkan di perumahan kelas elit dijaga ketat lalat pun tidak bisa masuk. Mantapnya hasil korupsi berjamaah dalam pemerintahan lunak dan tidak peduli SBY ada gaya.

    Sementara, menjadi semakin masuk jurang dan hanya tinggal menanti masa, ekonomi Indonesia digerakkan hanya oleh sektor hasil pajak, yang pun bocor bukan kepalang. Pemerintahan SBY jika selamat hingga 2014 praktis tidak menjalankan apapun. Tidak ada hasil-hasil industri ekspor yang dibangun dan sektor pariwisata sangat payah dan dikerjakan hanya menjual para pelacuran, kebijakan pariwisata amoral, itu sangat berbeda dengan Singapura maupun Malaysia. Dalam industri ekspor ketenagakerjaan, pemerintahan SBY pun tidak profesional. Menteri-menteri itu tidak melakukan apa-apa. Mereka tidak takut SBY akan memecat mereka jika mereka tidak ada mindset membangun cepat dan tidak melaksanakan tugas dengan nyata.

    Karena tak ada tegas, begitu banyak pegawai golongan rendah pun ikut berkorupsi bersama, dengan apapun mereka bisa melakukan korupsi, antara lain dengan alasan beradaptasi dengan berbagai kenaikan harga barang yang SBY ciptakan dengan kian menghancurkan nilau rupiah sampai saat ini, yang tidak kembali-kembali lagi ke masa Soeharto dahulu. Dengan nilai rupiah saat ini yang sangat rendah selalu terhuyung-huyung seputar Rp10,000 di setiap USD1, Indonesia tak lagi dipandang dua mata oleh bangsa-bangsa lain. Itu juga sebagian karena negara berada dalam pemerintahan yang tidak mampu nyata memberantas korupsi yang sudah tiada kepalang.

    Rakyat itu terseok-seok hidup mereka karena antara lain harus membayar sekolah-sekolah di Indonesia yang tidak gratis dan mahal. Ini sebagian mendorong korupsi pegawai negara dan bisnis pendidikan swasta, pemerintah tidak hadir untuk mensejahterakan rakyatnya. Maka sekolah-sekolah yang katanya gratis itu hanya wacana dan bukan gratis dalam arti sesungguhnya. Dan korupsi betul-betul menjadi kejahatan yang memalukan di Indonesia dan ini tentu saja akan mencoreng muka SBY sendiri.

    Padahal SBY harusnya mampu memberantas dan mencegah korupsi. SBY harusnya menindak memecat siapapun termasuk aparat hukum yang terindikasi korupsi. Dengan memilih hanya orang-orang yang memiliki kejujuran dan integritas tinggi di institusi-institusi penting penegakan hukum, SBY mampu menarik simpati
    rakyat. SBY perlu merubah dirinya sendiri.

    Pemberantasan korupsi harus SBY mulai sejak dini. SBY dapat memerintahkan Mendiknas. Siswa SMU adalah tujuan dari kebijakan ini. Siswa SD dan SMP mudah sebab hanya dengan keteladanan antikorupsi cara sederhana yaitu belajar jujur ketika membeli jajanan koperasi, yaitu dengan menaruh uangnya dan mengambi kembaliannya sendiri ke kotak uang. Namun siswa SMU tidak mudah. Mereka terlanjur melihat nyata orangtua mereka mempratekkan korupsi, Bukti itu nyata: rumah baru, mobil baru itu hasil mencuri atau KKN orangtua mereka. Banyak siswa secara berkelompok secara organisasi di sekolah-sekolah SMU kini sudah pandai berkorupsi, meniru langsung maupun tak langsung para orangtua dan guru mereka.

    Contoh paling nyata adalah menyalahgunakan organisasi sekolah untuk biasanya mengadakan acara-acara yang harusnya gratis bagi sesama siswa dan harusnya tidak mengenakan biaya atau tiket masuk ke acara-acara itu untuk sesama siswa. Saar ini acara-acara apapun itu menjadi ajang latihan korupsi. Acara-acara itu membebani para siswa terutama yang kurang mampu. Banyak siswa mengeluhkan masalah ini.

    Kebanyakan kepala sekolah dan guru tidak menyadari hal tersebut dan seolah membiarkan atau seakan mendorong belajar korupsi dengan cara-cara tersebut. Kelompok siswa itu mencari alasan acara itu tidak diberi dana oleh kepala sekolah sehingga mereka terpaksa mencari dana dengan menarik ongkos atau mengeluarkan tiket. “Sebetulnya kami tak suka cara itu karena kami didorong untuk belajar korupsi,” ujar beberapa siswa yang menyadari akan cara-cara tidak terpuji dan komersil itu.

    SBY harus meminta Mendiknas membuat satu pelajaran wajib antikorupsi guna memutus mata rantai ajaran belajar korupsi dengan pengadaan acara-acara macam-macam sekolah dengan membayar tersebut, yang jelas sebuah cikal bakar aktivitas pengadaan proyek-proyek korup dalam berkehidupan berbangsa dan bernegara buruk di Indonesia. Dalam hal ini kepemimpinan nasionak akan mewarnai baik buruknya atau gagal suksesnya sebuah negara. SMU harusnya bukan tempat belajar korupsi.

    Sejarah korupsi dimulai sejak pertengahan periode pemerintah Soeharto ketika Indonesia mulai bangkit dari keterpurukan masa-masa periode Soekarno. Ketika puteri=puteranya Soeharto sudah mulai besar, Soeharto mulai longgar memberikan keleluasaan mereka terlibat urusan-urusan ekonomi terkait BUMN-BUMN. Anak-anaknya mulai memanfaatkan dan mulai dimanfaatkan banyak orang. Muncul aktivis-aktivis seperti Abdul Gafur, Akbar Tanjung, Kosmas Batubara. Ada pula tokoh-tokoh serupa seperti Jusuf Kalla, Padel Muhammad dan Aburizal Bakrie. Pemerintah Soeharto melibatkan mereka “membangun” negara dan Soeharto lupa tidak lagi mengawasi ketat. SBY lebih parah karena tidak mengawasi karena ketakutan tanpa dasar.

    Mereka menjadi menteri-menteri dan banyak teman-teman mereka anggota DPR/MPR. Mereka menjadi orang-orang terhormat secara jabatan dan ekonomi dan menjadi pemilik-pemilik bisnis pribadi hasil dugaan korupsi dan KKN yang memanfaatkan posisi mereka masing-masing. Mereka kini menjadi sangat besar dan tidak tersentuh. Hal-hal seperti itu tidak berubah sampai sekarang. Padahal untuk menggulirkan reformasi, SBY harusnya membuang orang-orang lama dan mengambil orang-orang yang betul-betul baru yang bukan kelompok mereka. SBY belum membuat reformasi apa-apa.

    SBY bahkan tidak mampu mencegah sistem lama Orba dan dia menjebakkan diri memberi lampu hijau khususnya pada pengesahan UU “anti subversi” baru itu yang banyak pasal-pasalnya pasti dengan sendirinya dirancang untuk menekan pers dan HAM atas nama keamanan dan memberantas terorisme. SBY terjebak di pelukan orang-orang sisa Orba dan orang-orang baru dalam partai utama yang berusaha mengalahkan partainya. Mereka ditakdirkan licik bagai belut tersebut yang harusnya dia cegah. SBY harusnya mencegahnya sebab SBY sebagai pemimpin tertinggi yang harusnya mengikuti kehendak rakyat bukan kelompok tertentu. SBY sebagai pemimpin tertinggi harusnya mengabdi rakyat untuk menuju negara madani yakni mensejahterakan dan menjunjung tinggi HAM dan demokrasi bukan kembali ke Orba yang menekan rakyat dan pers.

    Ketika SBY tidak mampu mencegah orang-orang itu maka dia telah membuat blunder untuk dirinya. Tantu saja jika SBY lebih memilih kompromi dengan orang-orang belut itu, tentu saja partainya, Partai Demokrat, akan lumpuh beserta tunas reputasinya. Dan jika mulai sekarang SBY tidak cerdas melihat itu, partainya akan menjadi tidak popular lagi apapun upaya-upaya yang ditempuh menuju pemilu 2014. Inilah saatnya SBY melakukan revolusi tindakan nyata dirinya: Tidak terperangkap dalam paraturan UU “anti subversi” anti HAM dan demokrasi.

    Antikorupsi sejak dini dan antikorupsi dengan aksi-aksi nyata akan menjadikan SBY bermakna serta yang terpenting SBY jangan terjebak dalam perangkap pengesahan aturan-aturan ala Orba yaitu terutama UU anti subversi rekayasa itu yang akan digunakan untuk memusuhi rakyat dan pers sendiri.
    Presiden itu tidaklah cukup hanya mengaku dalam setiap pidato dirinya selalu berkomitmen akan memberantas korupsi dan menghargai HAM namun tidak membuktikan. Mengesahkan UU “anti subversi” yang jelas-jelas ditunggangi orang-orang belut akan memperangkap dirinya sendiri. SBY akan dipertanyakan komitmennya pada demokrasi dan HAM terutama oleh Amerika. SBY harus memiliki orang-orang terpercaya yang tak akan mengkhianati dirinya di institusi-institusi utama termasuk di institusi-institusi penegakan hukum dan semua itu semata untuk tujuan memberantas korupsi bukan kemana-mana apalagi meletakkan dasar hukum yang memusuhi dan menekan pers dan HAM. Menjsejahterakan tidak harus dengan UU penekan dan pemberangus hak-hak sipil seperti UU “anti subversi” baru tersebut.

    Kedua, agar rakyat tertarik SBY harus memerintahkan Menteri Pendidikan membuat satu saja mata pelajaran etika baru dan antikorupsi bagi siswa SMU seluruh Indonesia, antara lain, berisi boleh mengadakan acara-acara sekolah dan di luars ekolah namun tidak boleh memungut biaya apapun kepada siswa, serta tentu saja harus mengawasi penggunaan BOS secara ketat. Siswa juga didorong untuk berani besama-sama melapor ke kanwil jika kepala sekolah mendorong acara aktivitas yang tidak dibiayai sekolah, yang menyebabkan terciptanya korupsi seperti itu.

    Sebetulnya korupsi dan pelanggaran HAM sama sekali bukan buah simalakama, itu sangat mudah diberantas. Bangsa-bangsa lain telah membuktikan, melalui pemimpin yang dalam tindakan, bukan hanya dalam omongan, memang mengabdi kepada rakyatnya. Buktinya bangsa-bangsa itu mampu mencegah dan memberantas korupsi. Ketika SBY mampu merubah mindset nya sendiri yang selama ini yang suka berbicara, berwacana, suka membuat pencitraan, lalu SBY mulai melakukan langkah-langkah nyata seperti hal-hal tersebut serta menjalankan GBHN walaupun tanpa GBHN, tentu SBY dan partainya pasti akan sukses. SBY akan dikenang rakyatnya seperti kebaikannya Soeharto kalau mau. Bukan untuk kejahatannya melainkan untuk ketegasana dan cintanya kepada rakyat. Karena presiden rakyat saat ini tetaplah Soeharto belum ada yang lain. ****

  4. Hari ini tadi pagi tanggal 30 Mei 2011. Banyak wartawan terkejut dengan konferensi pers SBY tadi pagi. Apa maksud dia membuat berbagai pernyataannya itu? Dia mengklaim difitnah dan menyatakan ingin membela orang-orang yang difitnah. Parahnya lagi presiden memaknai demokrasi hanya sebatas kebebasan berbicara bukan pembangunan umum rakyat dan pensejahteraannya. Hari-hari presiden sepertinya hanya ingin merebut pikrian rakyat. Presiden juga masih terus sensi. Presiden menghantam tanpa sararan jelas sehingga semua orang terutama media bingung. Dia senang nembak sana nembak sini,a tau balik menuding dengan mengatakan bahwa ada yang membonceng tetapi dia lupa dia telah ikut memboncengi dengan pernyataannya tersebut yaitu membonceng agar dibela rakyat. Presiden bahkan masih suka melakukan pembenaran dan klaim-klaim keberhasilan yang tidak jelas dan bohong serta bukan untuk rakyat umum. Dari sangat banyak konferensi pers yang tidak perlu, presiden tampaknya lebih suka mengikuti bisikan staf agar dia bicara ini itu agar tetap ada anggaran konferensi pers dan untuk pencitraan. Tetapi tentu mudah diduga bahwa konferensi persnya tampaknya memang sangat dimaksudkan untuk mengalihkan isu atas skandal terbaru yang melanda orang-orang partainya. Yang terparah lagi sesunggunya dia ngeles terhadap keinginan-keinginan rakyatnya. Harusnya SBY diam, tidak sensitif dan lebih baik membuktikan pembangunan berorientasi umum rakyat, misalnya menambah gerbong-gerbong KRL yang banyak, yang harsnya tak ditunda-tunda lagi. Pemimpin yg baik pasti sedikit bicara banyak berbuat bukan sebaliknya.

  5. Jurus dahsyat Presiden SBY. Presiden SBY dipilih rakyat memang untuk menghantam habis kekuatan-kekuatan lama sisa-sisa Orba serta orang-orang bermentalitas Orba di mana saja termasuk yang ada di DPR , militer dan yang lain, baik yang masih aktif maupun yang sudah pensiun; mereka banyak tetap bercokol dan bergentayangan di tempat-tempatnya dan bahkan dalam partai- partai pesaing baik berafiliasi dengan Golkar maupun yang lain.
    Bbukan SBY kalau tak hebat. Pada kasus terbaru yakni kasus Nazaruddin misalanya SBY akan mempergunakan dua jurus. Pertama dihantam dengan hebat anak congkak dan banyak omong itu sehingga lunglai akan selesai dalam proses pengadilan kasus tersebut dan rakyat akhirnya kembali bersimpati dengan SBY dan poling-poling berebut menunjukkan peningkatan kinerja SBY khususnya dalam citra pemberantasan korupsi dan juga dalam waktu yang sama kembali menaikkan citra KPK . Untuk saat ini, ketua umum Partai Demokrat, Anas Urbaningrum, tak tersentuh. Anas akan tetap aman dan semakin berwibawa. Akbar Tanjungt tak berhasil membalas 1-1. Anas lagi-lagi tak tersentuh. Nazaruddin akan menjadi pesakitan meringkuk di di penjara.
    SBY pintar dan cerdas pelan-pelan memberangus seluruh kekuatan-kekuatan lama dan baru. Partai-partai kekuatan lama terutama Golkar, PDI-P janganlah berkhayal atau sedikit pun bermimpi akan meraih kemenangan berarti. Partai-partai itu sesungguhnya sudah lama selesai, karena memang tidak mempunyai jago-jago mumpuni seperti yang dipunyai dan digenerasi Partai Demokrat meskipun partai ini kesusupan juga beberapa. Partai-partai lama seperti PDI-P dan PAN serta PKB misalnya hanya menjagokan anak-anak tokoh-tokoh reformasi yakni para orangtua mereka, Amien Rais, Megawati dan almarhum Gus Dur. Sementara anak-anak mereka itu sama sekali tidak mewarisi kecerdikan dan keberanian berpolitik para orangtua mereka khususnya Amien Raid dan Gus Dur meski dari sudut pendidikan formal cukup baik. Megawati, sementara, hanya bekas presiden setingkat ibu rumah tangga dan suaminya hanya numpang kren yang selalu kurang ajar menghina dan mengejek SBy sejak masih menkopolkam. S BY dikatakan kekanak-kanakan.
    Partai-partai baru seperti Partai Nasdem dan Partai Sri hanya bermodal pemikiran dangkat tanpa idealism jelas atau bahkan terkesan oportunis dan sama sekali tidak mempunyai satu pun jaringan baik di dalam maupun luar negeri. Itu adalah perjudian ngawur. Apa yang bias dijual dari seorang Sri Mulyani, bekas mekeu itu. Golkar dan PDI-P juga tidak memiliki jaringan pemerintah asing penentu kemenangan yaitu Amerika dan mereka lebih puas disebut sebagai parta-pratia nasionalis tanpa paham apasaja yang harus diperjuangkan sebagai partai nasionalis sesungguhnya. SBY dan Partai Demokrat menang karena antara lain memiliki jaringan kuat dengan lobi-lobi kuat ke pemerintah Amerika.
    Partai Sri, partai berlambang sapu yang salah yaitu menghadap ke atas itu, harusnya sudah dan mulai menjalin lobi-lobi kuat ke orang-orang Tionghoa, bukankah negeri ini dari ujung ke ujung sudah dikuasai Tionghoa, dan ini dibiarkan pemimpin-pemimpin serta tokoh-tokoh pribumi, yang memang tolol, serta melobi konkrit ke pemerintah Amerika misalnya dengan mampu menunjukkan bukti-bukti bahwa pemerintahan Partai Demokrat memang selama ini tidak benar. Lobi bias melalui email ke institusi-insitusi pemerintah Amerika, ke kedutaan mereka dan banyak jalan. Pertanyaannya apakah partai berlambang sapu menyapu ke atas dan juga partai-partai pesaing lain, memiliki ide dan kemamapuan seperti itu adalah tidak ada sama sekali. Itulah maka PD kian di atas angin dan tak terkalahkan termasuk ketua pembinanya SBY dan ketumnya Anas.
    Ini sebetulnya dan terutama tantangan dan PR partai-partai pesaing PD terutama Golkar dan PDI-P kalau hendak merebut kemenangan pada 2014. Tetapi bagaimana akan mampu merebut kalau menciptakan citra negatif, sebuah permainan politik agar PD tidak diminati lagi saja, tidak mampu. Meskipun Nazaruddin dan kasus-kasus besar lainnya jelas dan nyata sebuah pintu masuk strategis untuk menjatuhkan citra dan kelemahan pemerintahan SBY dan SBY serta partai Demokratnya, tetapi kalau hal yang tinggal menjatuhkan telur dari atas tanduk saja tidak mampu sama sekali, bagaimana mungkin memberikan perlawanan kepada SBY dan Partai Demokrat? Jadi janganlah partai-partai lain bermimpi karena sebetulnya partai-partai pesaing itu terlalu miskin siasat dan terlalu tak ebrkualitas dan mungkin terlalu kecil, tidak lawan dengan Partai Demokrat dan kebesaran SBY. Sementara sekali lagi partai-partai cukup besar dan lama seperti Golkar dan PDI-P sudah selesai sudah aus di mata konsituen dan rakyat.
    Adakah jalan lain mengalahkan SBY dan PD. Sebetulnya Partai Demokrat terutama ketua pembinanya yang kini jadi presiden memiliki banyak kelemahan 1001 kelemahan tetapi juga memiliki sedikit kekuatan lumayan, yakni kepandaiannya membuat pencitraan dengan mulai menggabungkan dengan taktik gaya-gaya Orba yaitu memanfaatkan nilai-nilai agama khususnya Islam dalam setiap kesempatan keagamaan seolah berjuang untuk kaum Muslim dan nilai-nilai keislaman. Padahal itu semua palsu seperti yang selama dulu dilakukan Soeharto, hanya untuk mempertahankan kekuasaannya. SBY lebih jago. Dia lemah lembut dan pandai merebut hati dan simpati serta rasa kasihan dari rakyat. Rakyat-rakyat di kampong-kampung selalu mengatakan kasihan dia orangnya baik. Hebat. Kelemahan SBY adalah keterlaluannya dalam mengalihkan isu-isu akibat kelemahannya tidak mampu mengundang banyak pabrik-pabrik asing sehingga tersedianya banyak lapangan kerja bagi banyak buruh, harga-harga tetap melambung tinggi, took-toko kebutuhan sehari-hari jaringan seperti indomart dan toko-toko jaringan asing lainnya kian banyak yang membunuh usaha-usaha pertokoan rakyat, padahal pemilik jaringan itu secara local adalah mantan-mantan anggota DPR.Tokoh-tokoh Golkar lama adalah pemilik jaringan-jaringan bisnis itu. SBy mampu mengalihkan berbagai isu penting ekonomi dan hokum Indonesia termasuk melalui pemanfaatan maksimal blow up kasus Nazaruddin dan lainnya dengan sangat lihai sehingga 1001 pengamat Indonesia larut dan terjebak terus dalam wacana membahas masalah-masalah itu karena nimat mendapat sedikit amplop ongkos capek dari televise-televisi yang ada, sementara masalah-masalah utama ekonomi dan pembangunan tidak jalan dalam pemerintahan SBY karena SBY sendiri memang dipandang sebelah mata atau tidak diindahkan oleh banyak pemprop. Ini beda dengan Soeharto yang memang jebat dari awal dan menunjukkan kewibawaan sejati. Media yang dimiliki konglomerat Tionghoa hampir semuanya tentu mencari aman dan senang terus membahas hal-hal sensasional seperti kasus Nazaruddin di lain pihak. SBY kian diuntungkan dengan media ful cari untung itu yang tidak memkritisi nyata atau mampu menekan apa-apa saja yang telah dia bangun dan sediakan untuk sebagian besar rakyat. Media-media itu hanya menggosok-gosok untuk mendapatkan iklan-iklan kampanye atau pencitraan dari pemerintah bagian pariwisata atau institusi-insitusi partai berkuasa dan lainnya sembari terus memuat iklna-iklan kiat ngentot dan memperpanjanag itunya lelaki atau mempersempit itunya wanita. Tak ada UU yang melarang iklan-iklan bohong di Indonesia.
    Bahkan pembenahan pokok seperti pemberantasan korupsi dan hukum yang berkeadilan juga tak kunjung serius dibenahi kecuali justru hanya untuk memperbesar citra partai karena tidak ada lawan nekad dan tangguh seperti di luar negeri, tidak ada takyat yang didisain dan dipicu mengamuk seperti di Inggris, Perancis, Yunani dll. Maka SBY hapi hapi saja dan kian nikmat untuk melupakan penciptaan sistem ekonomi yang social, pendidikan dan merata, atau jalan menuju kesejahteraan ala konstitusinya.
    Sesungguhnya jalan satu-satunya mengalahkan Partai Demokrat dan pemerintahan SBY adalah kalau pesaing-pesaingnya memang tak impoten. Meski banyak mantan jenderal di partai-partai pesaing tetapi mereka sudah impoten. Mereka pengecut dan tidak berani merancang dan melaksanakan kerusuhan masif terencana dan terkoordinir dengan pemicu apapun terang maupun rahasia seperti di Negara-negara lain yang mampu mencipta kerusuhan besar seperti juga pada tahun 1998. Hanya dengan begitu SBY akan jatuh. Kalau tidak maka dia aman dan justru semakin hebat. Karena tak ada perlawanan nyata maka Partai Demokrat dan SBY, terutama keturunan keluarga itu, pasti semakin bernilai dan akan merebut masa depan kekuasaan di Indonesia. Memang sebetulnya tidak ada yang sederajat kemampuannya dan kehebatan Partai Demokrat. Meskipun banyak orang boleh tak suka partai berlambang bintang mercy itu tetapi dia memang tak ada tandingannya. Enggak lawan, kata anak sekarang.
    Jurus kedua SBY tentu lebih hebat lagi. Anas pada akhirnya akan dikorbankan. Ini hanya soal waktu. SBY sudah banyak belajar dari bekas presiden dan ditator Soeharto. SBY juga sudah banyak ditekan agar mempergunakan strategi-strategi dan kiat-kiat presiden kedua itu. SBY akan telah mulai menekan Polri dan BIN agar mulai menyisihkan lawan-lawanya baik di luar maupun di dalam partai yang disayang oleh Ibu Ani Yudhoyono. Polisi, jaksa dan pengadilan khususnya KPK pun akan menjantur Anas, sebab Anas memang terlibat dalam korupsi dana APBN untuk pembangunan wisma atlet itu untuk memenangkan dirinya sebagai ketua umum Partai Demokrat. Sebetulnya bagi partai-partai pesaing, menjatuhkan Anas dan termasuk menjatuhkan SBY sangat mudah seperti menyentuh telur di ujung tanduk. Melalui kasus-kasus besar yag mana juga, mereka harusnya bias mengalahkan. Tetapi lagi-lagi memang enggak ada lawab, kata anak-anak sekarang. Nazaruddin adalah peniup pluit yang malang. Dia akan memberikan fakta-fakta nyata tetapi negara ini tetaplah negara kekuasaan. Dia akan pada akhirnya dimasukkan penjara. Anas karena tekanan dan lobi-lobi kuat dari partai-partai pesaing, maka akan masuk penjara juga. KPK dan SBY akan didemo masif jika tidak menjebloskan juga Anas. (SK)

Tinggalkan Komentar, Komentar anda akan kami moderasi terlebih dahulu. Harap jangan mengirimkan link yang tidak perlu, khususnya link yang mengandung iklan dan spam

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: