1 Komentar

Saatnya Kesadaran Politik Menghidupkan Militansi Kerja Menggerakkan Persatuan Menuju Partai Kelas Pekerja


(Tulisan ini merupakan Pidato Politik Pimpinan Komite Pusat PRP yang dibacakan pada perayaan Hari Ulang Tahun ke 6 Perhimpunan Rakyat Pekerja)

Jakarta, 13 Mei 2010

Kawan-kawan Kader PRP,

Perhimpunan Rakyat Pekerja kini memasuki usia yang ke-6 tahun, sejak pendiriannya di tahun 2004. Usia yang terus bertambah tentunya mengandung harapan berkembangnya kemampuan dan kekuatan organisasi untuk menggapai cita-cita politik kelas pekerja Indonesia mewujudkan Sosialisme. Cita-cita politik Sosialisme, kita rasakan semakin relevan di tengah situasi dunia yang tak henti dihantam krisis ekonomi yang bergantian melanda rakyat pekerja di berbagai dunia. Rezim-rezim politik yang tumbuh di masa krisis kapitalisme memiliki karakter yang berorientasi untuk melindungi kepentingan kelas pemilik modal untuk tetap mendapat profit dan terbebas dari dampak krisis.

Paradigma ideologi ekonomi politik yang dikembangkan oleh rezim-rezim berkuasa tersebut dikenal secara populer sebagai Neoliberalisme. Suatu paradigma yang di satu sisi menjadikan ekonomi pasar bebas sebagai mekanisme pembangunan yang maha berkuasa menentukan pola kehidupan masyarakat. Peran negara diminimkan secara drastis dengan tujuan untuk memperluas proses komodifikasi (membuat segala dan barang jasa dapat diperjualbelikan) di masyarakat agar dapat mengatasi kemacetan akumulasi dan menyerap kelebihan produksi yang dakibatkan pola produksi kapitalis yang anarkis dan penuh spekulasi.

Pemahaman akan kondisi krisis yang terjadi di dunia saat ini, dan pilihan politk apa yang harus diambil, ternyata tidak otomatis disadari oleh rakyat pekerja yang menjadi agen perubahan, dimana kita harapkan akan bergerak memperjuangkan Sosialisme. Tanpa kesadaran politik, maka sikap rakyat tertindas berhadapan dengan kapitalisme dan krisis yang selalu menyertainya ternyata bisa berbentuk sikap yang pasif dan merasa tidak berdaya.

Setahun yang lalu, Pidato Pimpinan Komite Pusat pada ulang tahun PRP, dimulai dari sebuah kutipan seorang pejuang kiri dari masa lalu negeri kita, yakni:

“ Politik itu penting sekali. Jika kita menghindarinya, kita akan digilas mati olehnya. (Nyoto)

Tahun ini, pidato ulang tahun akan berangkat lagi dari kutipan itu untuk menunjukkan betapa relevannya pesan yang telah didengungkan sejak lama. Persoalannya, apakah kita, para Kader PRP, telah mengambil manfaat dari pesan yang terkandung di dalamnya? Pesan Kawan Nyoto itu mengandung pentingnya mendorong rakyat tertindas untuk tidak menghindari politik, tapi justru menggunakannya sebagai cara dalam mengubah ketertindasan yang dialami mereka saat ini. Untuk itu, kita harus tahu masalah yang melatarbelakangi problem kesadaran politik rakyat dan sikap berjung seperti apa yang harus kita kembangkan.

Kawan-kawan Kader PRP,

Kita adalah sebuah organisasi politik dari sebuah negeri yang selama puluhan tahun membunuh peradaban politik kerakyatannya sendiri. Rakyat yang berpolitik pada awalnya adalah penggerak sebuah proyek besar bernama KEMERDEKAAN. Rakyat berpolitik dengan cara berpartisipasi dalam berbagai organisasi yang dibuat dan dibesarkan oleh rakyat itu sendiri. Di masa awal kemerdekaan itu lah kegairahan rakyat berorganisasi sangat bernuansa politik. Politik adalah kekuasaan. Dan di tangan rakyat yang aktif serta terorganisir, maka kekuasaan itu punya arti penting dalam menghapus situasi ketidakberdayaan. Dengan berorganisasi secara baik dan demokratis dan melalui rekam sejarah, kita akan mendapatkan bukti, bahwa sangat banyak orang yang  mengalami transformasi, dari terjajah menjadi warga negara yang mencintai kemerdekaan dan bisa menghasilkan karya cipta yang bermanfaat buat orang banyak. Kembali mengutip Kawan Njoto, tanpa politik tak akan ada lagu Indonesia Raya yang dikarang oleh W.R. Supratman.

Pada masa rakyat berorganisasi dengan kesadaran politik itu lah, banyak buah peradaban politik kerakyatan yang penting, misalnya dilahirkannya dua UU Perburuhan yang sangat berpihak pada kaum buruh yaitu  UU No. 22 tahun 1957 tentang Penyelesaian Perselisihan Perburuhan; dan UU No. 12 tahun 1964 tentang Pemutusan Hubungan Kerja di Perusahaan Swasta. Dan yang paling progresif, dilahirkan pula UU Pokok Agraria yang mengatur tentang fungsi tanah yang bersifat sosial dan bukan menjadi komoditas. Kaum buruh mendorong nasionalisasi perusahaan-perusaha an yang tidak mau diserahkan oleh pihak colonial serta kaum tani mendorong pelaksanaan distribusi pertanahan sesuai amanat UUPA. Masih banyak lagi geliat dan kegairahan rakyat berorganisasi karena tingginya pengaruh kesadaran politik kerakyatan, yang kemudian berakibat adanya perlawanan balik kelas pemilik modal dan kaum imperialis, serta berujung pada pembalikan kuasa politik. Sejak itu tumbuh lah kekuasaan politik kaum modal dengan berbagai rezim yang dianggap tepat –mulai dari rezim militerisme- kapitalis Jenderal Suharto hingga rezim neoliberal Jenderal Yudhoyono .

Berpolitik lewat organisasi perjuangan rakyat yang demokratis, kuat, dan mampu menepis situasi ketidakberdayaan yang menghantui kehidupan rakyat adalah sebuah peradaban yang harus kembali kita tumbuhkan sebagai bentuk konkret menghadirkan politik kelas pekerja. Organisasi-organisa si rakyat yang mengacu pada kesadaran politik kerakyatan harus mampu menghimpun kekuatan bersama yang besar, kuat, dan terpimpin untuk mewujudkan rencana-rencana politik yang jelas maupun strategis. Berhimpunnya kekuatan rakyat, mau tidak mau, dalam kondisi politik masa kini, harus ada pada sebuah partai politiknya kelas pekerja. Logika yang sederhana ini nyatanya tidak dapat direalisasikan dalam masa 12 tahun era reformasi ini.

Ada banyak faktor dan alasan yang dapat diajukan untuk menjawab tidak ada dan gagal berperannya politik kelas pekerja melalui partai kelas mereka. Tesis perjuangan PRP yang paling dasar adalah unifikasi atau persatuan untuk membangun partai kelas pekerja. Unifikasi harus dipropagandakan secara terbuka , tapi juga harus diujicobakan dalam kerja-kerja nyata. Persatuan atau unifikasi adalah proses yang bermula dari kerja bersama dan berujung pada kesepakatan untuk menjadi satu dalam badan (organ) yang sama. Dalam hal itu maka tugas anggota PRP untuk menyadari kewajiban dan bersikap militan mengerjakan ujicoba persatuan.

Uji coba persatuan kita yang paling penting saat ini adalah dengan mengupayakan persatuan di front strategis seperti Front Oposisi Rakyat (FOR) Indonesia. Ada banyak pro kontra di kalangan gerakan sosial mengenai arti penting dan kemungkinan berhasil dari front. Ada banyak kekecewaan dan ketidakpercayaan pada kemampuan politik gerakan rakyat, dengan mengacu pada beragam pengalaman kegagalan politik di masa lalu. Komite Pusat-PRP sudah menyampaikan melalui rapat Dewan Nasional I masa Kongres II, bahwa yang kita hadapi bukan cuma struktur ekonomi politik kapitalisme yang menindas dan harus kita lawan. Musuh kita yang tidak kalah berbahayanya hari ini adalah dominasi hegemoni borjuasi yang mengaburkan orientasi perjuangan politik dan menumbuhsuburkan kembali perasaan tidak berdaya di kalangan rakyat, bahkan di antara para aktivis yang harusnya lebih terorganisir.

Ada beberapa tugas yang secara militan harus kita kerjakan dalam usaha merajut persatuan. Pertama, yang menjadi tugas kita ketika mengerjakan ujicoba persatuan di front strategis seperti FOR Indonesia adalah memberikan keteladanan tentang kerja yang terorganisir dan berkesadaran politik. Keteladanan bukan cuma pada saat aksi-aksi demonstrasi dilakukan oleh FOR Indonesia. Atau dengan kata lain, kita harus menyadari bahwa tahapan kerja di front memiliki mata rantai yang panjang dan tidak sebatas pengerjaan aksi. Selain program-program diskusi, rapat, persiapan, dan pelaksanaan aksi, bahkan harus kita dorong pula agar di front terdapat pula pendidikan serta media propaganda bersama. Setiap program dan tahapan dari kerja front itu menjadi ruang yang penting untuk menumbuhkan kesadaran politik sebagai satu barisan perjuangan kelas yang mengorganisir dirinya melawan kelas yang ingin mempertahankan kapitalisme. Bila ada anggota PRP yang tidak terlibat, bahkan tidak tahu menahu tentang tiap tahap dan momen perkembangan FOR Indonesia, maka itu adalah suatu situasi yang merugikan bagi kekuatan organisasi kita.

Kedua, front persatuan strategis seperti FOR Indonesia menyediakan juga tugas dan kesempatan untuk menggunakan front sebagai tempat memperluas struktur dan pengaruh kita. Bila Kader-kader PRP memiliki kesadaran politik yang tidak strategis, maka ia akan menganggap mengerjakan front sebagai tindakan sia-sia yang hanya menguras energi organisasi –apalagi dalam keadaan sekarang ini, dimana mayoritas kelompok lain tidak memiliki kemampuan mobilisasi massa yang besar. FOR Indonesia saat ini adalah bentuk konkret ruang/wadah propaganda, dimana kita dapat mendulang lebih banyak unsur rakyat tertindas yang mau memajukan kesadaran politiknya, sehingga sepakat dengan tesis partai kelas seperti hasil  resolusi Kongres II di Parung:

“diperlukan Partai Kelas sebagai alat perjuangan untuk menggulingkan Kapitalisme dan mendirikan Negara Sosialis yang beranggotakan seluruh rakyat tertindas, yang dibangun berdasarkan prinsip dan watak kelas yang tercermin dalam keanggotaan, program, struktur perdebatan dari bawah dengan menumbuhkan kepemimpinan kelas pekerja”

Memperhatikan kutipan tesis di atas, mengingatkan kita tentang arti penting militansi dalam melakukan kerja persatuan seperti saat mengerjakan FOR Indonesia –dan aliansi-aliansi lokal lain yang masih belum bisa disatunamakan di FOR Indonesia. Kita perlu memiliki sensitifitas tentang unsur-unsur rakyat tertindas yang berhimpun di front. Kita harus militan dalam mendorong masuknya propanganda- propaganda politik PRP agar tumbuh simpati dan dukungan dari unsur non PRP pada front. Propaganda saja tidak cukup, tapi juga harus diupayakan ada interaksi-interaksi yang marak dalam kegiatan-kegiatan bersama yang membukakan jalan lebih mudah buat kita dalam menawarkan rekrutmen atau bergabung dalam PRP, bagi individu-individu yang sudah dinilai perlu untuk direkrut. Harus ada militansi untuk bersikap berani memperkenalkan organisasi kita dan berani mengajak lebih banyak rakyat tertindas untyk bergabung dalam organisasi kita. Diskusi tentang partai harus didorong sebagai program di dalam front persatuan yang strategis, sehingga pada ruang politik yang relatif liberal saat ini, kita tidak membuat suatu konsep partai politik yang dimonopoli dan diproduksi oleh pengertian rezim neoliberal. Diskusi-diskusi tentang partai justru akan menjadi ujian tentang komitmen persatuan diantara unsur yang bergabung di front. Unsur yang kontra revolusioner dan reaksioner pasti akan melarikan diri dari diskusi tentang partai. Sebaliknya, front oposisi dengan diskusi yang serius tentang partai alternatif, sebagai wadah kaum oposisi dalam berjuang, adalah sebuah logika yang sangat masuk akal dan harus kita menangkan.

Kawan-kawan Kader PRP,

Seluruh Kader PRP harus bersatu sebagai kolektif politik yang sedang memperjuangkan Sosialisme sebagai jalan sejati pembebasan rakyat pekerja dari penindasan kapitalisme. Untuk itu, tidak punya pilihan kecuali harus MILITAN dalm bekerja.

MILITANSI harus dimaknai secara lebih progresif, sehingga tidak sebatas pada kemauan individu-individu kader untuk berkorban dan berusaha keras dalam melakukan aktivitas-aktivitas politik PRP. Militansi berarti kemauan yang keras dalam berjuang,  tidak mudah menyerah, dan tidak gampang dikalahkan dalam berjuang. Kader PRP menggunakan militansi sebagai cara menginspirasi partisipasi lebih banyak rakyat pekerja berkesadaran politik dan berjuang. Tapi hal itu bukanlah berarti mengambil alih semua kewajiban perjuangan yang harus dilakukan rakyat.

Militansi kita harus menjadi inspirasi, yang secara praktis memecahkan persoalan praktis tapi secara mendasar menentukan kemampuan berjuang rakyat pekerja. Masalah logistik harus dapat dipecahkan dengan militansi perjuangan kader. Kewajiban membayar iuran dan mengumpulkan dana yang bersifat mandiri harus digalakkan. Organisasi massa yang tidak mampu membiayai dirinya dari dana yang digalang terutama dari massa dan simpatisannya sendiri bukan lah organisasi yang bisa menjadi teladan yang dipercayai rakyat. Kenyataan bahwa iuran belum mampu membiayai gerak organisasi, harus secara MILITAN segera dipecahkan. Jangan dibiarkan terus berlanjut dan diabaikan. Harus ada sikap menegakkan disiplin dalam soal iuran dan penggalangan dana solidaritas secara mandiri. Kita militan mengatasi kemiskinan yang mendera mayoritas anggota organisasi, justru dengan menggerakkan disiplin baja, mengumpulkan dana bersama untuk dapat mengatasi kesengsaraan yang dialami orang per orang.

Saat ini PRP bergerak sebagai kelompok progresif-revolusio ner yang masih menjadi minoritas, dibandingkan dengan kelompok-kelompok politik oportunis dan reaksioner yang saat ini menguasai politik kita. Tugas kita adalah menggunakan front-front persatuan yang strategis sebagai ruang propanganda yang dapat terus diperluas dan berusaha secara langsung merebut kesadaran rakyat dari pengaruh hegemoni politik borjuasi yang didukung media massa saat ini. Tugas kerja kita adalah mengkritik, mengecam, memprotes, mengutuk, dan mengungkap kebobrokan-kebobrok an politik berbagai faksi kaum borjuasi nasional dan imperalisme global. Terus perhebat agitasi dalam slogan “Ganti Rezim Ganti Sistem” untuk memajukan kesadaran politik rakyat. Mencoba merespon setiap skandal dan kebijakan politik anti rakyat yang dapat digunakan untuk memblejeti (menguliti) kebobrokan seluruh unsur rezim yang berkuasa saat ini dan menghubungkannya sebagai konsekuensi dari sistem kapitalis yang korup dan menghisap.

Kawan-kawan Kader PRP,

Kami berharap agar seluruh Komite Wilayah dan Kota/Kabupaten agar segera berbenah diri setelah refleksi pada momentum hari ulang tahun organisasi kita ini dan segera meningkatkan perjuangan di ruang front, karena kita dapat belajar dan mengevaluasi hasil-hasilnya demi keperluan menggagas sosok dan kareakter partai kelas pekerja secara lebih konkret.

Perjuangan kita ini adalah sarana pembebasan diri dari keterasingan dan pembodohan yang diciptakan oleh kapitalisme, maka akan dengan yakin dapat mengatakan pada sesama kawan berjuang untuk jangan lelah melaksanakan “tugas-tugas sebagai anggota PRP”; untuk tidak lelah memperjuangkan partainya kelas pekerja; untuk tidak lelah memperjuangkan Sosialisme.

Sosialisme, Jalan Sejati Pembebasan Rakyat Pekerja!

Sosialisme, Solusi Bagi Krisis Kapitalisme Global!

Bersatu, Bangun Partai Kelas Pekerja!

Komite Pusat PRP

Perhimpunan Rakyat Pekerja

(KP-PRP)

Iklan

One comment on “Saatnya Kesadaran Politik Menghidupkan Militansi Kerja Menggerakkan Persatuan Menuju Partai Kelas Pekerja

  1. ada sebuah jalan…
    jalan bertingkat….
    jalan bersimpang…
    ada sebuah bangunan…
    ada sebuah kaki yang merupakan anggota tubuh…
    tapi kaki takkan bisa bergerak tanpa kepala..
    dan kaki takkan bisa berwujud sempurna tanpa ada tangan..
    btw sesempurna bentuk tubuh manusia, ternyata kaki dan kepala sama posisinya apabila ditarik garis sejajar..
    yaitu pada waktu sujud…
    sujud kepada Illahi…

    dan ternyata posisi sujud, kaki dan kepala letaknya lebih dekat, berbeda jika waktu posisi berdiri…

Tinggalkan Komentar, Komentar anda akan kami moderasi terlebih dahulu. Harap jangan mengirimkan link yang tidak perlu, khususnya link yang mengandung iklan dan spam

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: