Tinggalkan komentar

Satukan Tindakan: Galang Persatuan Organisasi Rakyat Pekerja!


(Tulisan ini merupakan Pidato Politik Pimpinan Komite Pusat Perhimpunan Rakyat Pekerja yang disampaikan pada 12 tahun Reformasi)

Jakarta, 20 Mei 2010

Tanggalkan kacamata kuda itu!

Yang sangat lama membelenggu

Membatasi penglihatan

Menyempitkan pikiran

Menumpulkan perasaan

(cuplikan puisi kacamata kuda dalam Angin Burangrang: Sajak-sajak Petani Tua, oleh Samsir Mohamad)

Kawan-kawan seperjuangan,

Tidak terasa, sudah 12 tahun perjalanan reformasi di Indonesia yang diawali dengan tumbangnya diktator militer Soeharto dari kursi kepresidenan (yang didudukinya selama 32 tahun) pada tahun 1998, sebagai akibat dari semakin meningginya aksi-aksi perlawanan jutaan rakyat di hampir seluruh daerah Indonesia. Peristiwa pada 12 Mei 1998 tersebut menambah catatan pada perjalanan sejarah perjuangan rakyat pekerja, dalam bulan Mei, melawan rezim serta sistem yang menindas dan menghisap.

Reformasi Hanya Ilusi

Kawan-kawan seperjuangan,

Bulan Mei menyimpan puzzle-puzzle arus balik kesadaran yang menciptakan peristiwa-peristiwa yang memaknakan adanya api perlawanan rakyat pekerja kepada rezim kekuasaan. Kita awali dengan peristiwa 1 Mei yang kemudian ditetapkan menjadi Hari Buruh Internasional adalah puncak keberhasilan Kongres Internasionale Kedua di Paris pada tahun 1889, dimana Raymond Lavigne mengajukan usulan untuk mengadakan demonstrasi pada tanggal 1 May 1890 sebagai peringatan dan penghormatan terhadap pembantaian Hay Market di Chicago tahun 1886. Selanjutnya, di seluruh dunia sampai saat ini, seluruh serikat-serikat buruh dan didukung elemen gerakan sosial menjadikan 1 Mei (kemudian disebut May Day) sebagai ekspresi kesatuan aksi massa yang teguh dan sebagai serbuah metode perjuangan untuk Sosialisme, yang dipimpin kelas pekerja (Rosa Luxemburg, 1913). Belum lama ini pun kita memperingati dan menetapkan 8 Mei sebagai Hari Perjuangan Buruh Perempuan berdasarkan momentum kematian Marsinah –buruh perempuan yang ketika sedang melakukan aksi pemogokan.

Sedangkan 2 Mei ditetapkan sebagai Hari Pendidikan Nasional untuk memperingati hari kelahiran Ki Hajar Dewantoro, yang mewujudkan pendidikan alternatif untuk melawan hegemoni kolonial melalui sistem pendidikan yang rasis kepada kaum pribumi. Bahkan hingga saat ini sistem pendidikan kita masih dalam cengekraman rezim neoliberal yang menghendaki rakyat pekerja dunia ketiga sebagai tenaga kerja tidak terampil dan tidak mempunyai kemampuan mencipta selain merakit belaka.

Dua belas tahun lalu, belumlah sirna dari ingatan kita, terjadinya penembakan terhadap mahasiswa Universitas Trisakti pada 12 Mei 1998, di tengah perjuangan mahasiswa menumbangkan rezim Orde Baru. Belum kering air mata untuk itu, tiba-tiba meledak peristiwa yang sampai sekarang tak dapat kita pahami, yakni kekacauan massal yang dipimpin orang-orang tak jelas yang membakar bangunan pemukiman dan pertokoan di Jakarta, melakukan penjarahan barang-barang, dan kekerasan seksual terhadap perempuan Tionghoa. Sungguh aneh, di tengah kekacauan sebesar itu tiba-tiba ratusan pasukan militer yang sebelumnya berhadap-hadapan dengan gerakan mahasiswa, lenyap dari pemandangan. Perlawanan rakyat yang dipelopori gerakan mahasiswa pada akhirnya memenangkan pertarungan, yang mengakhiri jabatan Soeharto sebagai presiden pada 21 Mei 1998. Pada hari yang hampir sama, 102 tahun yang lalu, pada 20 Mei 1908 di Batavia, para pemuda mengukuhkan arus balik kesadaran mereka dengan memangun sebuah organisasi yang melawan hegemoni ideologi kolonial. Organisasi pemuda itu diberi nama Boedi Oetomo. Sekali pun masih terasa Jawa-sentris namun hakekatnya adalah menyalanya percik api perlawanan.

Namun, selalu dan selalu kemenangan rakyat itu kemudian diplintir dan dijarah oleh kekuasaan borjuasi. Mereka ini yang menghendaki kapitalisme ala imperialisme dan neoliberalisme, tetap menata Indonesia sebagai sumber bahan mentah, tenaga kerja, dan sekaligus pasar. Kemenangan gerakan rakyat menurunkan Soeharto akhirnya diplintir sebatas gerakan reformasi ala neoliberal demi merestorasi sumber-sumber ekspolitasi dan distribusi di Indonesia. Ini semua dalam rangka pemulihan krisis keuangan global pada 1997, dimana keterbukaan politik di Indonesia menjadi syarat. Mahasiswa dan rakyat, bahkan yang menjadi korban krisis ekonomi 1997 dan kejahatan kemanusian 12-14 Mei 1998, tersingkir dan terasing dari arah reformasi itu sendiri. Beberapa di antaranya kehilangan kepercayaan terhadap gerakan rakyat dan memilih menjadi bagian dari status quo borjuasi.

Sangat teranglah, reformasi otoritarian Orde Baru merupakan jalan lurus membangun Indonesia sebagai negara pasar yang dikontrol rezim neoliberal. Reformasi hanyalah sebuah rute yang penuh ilusi menuju demokrasi dan pertumbuhan ekonomi membaik. Terbukti rakyat pekerja yang jumlahnya 90% dari seluruh angkatan kerja di Indonesia (BPS, 2007) kian menghadapi pilihan-pilihan yang langka untuk hidup dan survive. Kerja sebagai petani, buruh pabrik, nelayan, sopir, pekerja seks, bahkan pencopet, bukanlah pilihan bebas sebuah profesi untuk “menjadi” (to be). Ini merupakan persoalan ketika tanah dan laut makin banyak dirampas untuk investasi, sedangkan pada tahun 2004 sistem kerja outsourcing dan PHK massal menjadi hantu bagi ratusan ribu buruh. Maka yang terjadi adalah tenaga kerja yang mengambang tanpa basis produksi yang pasti. Inilah faktanya, reformasi terbukti mempercepat proletarisasi di Indonesia, dan mereka ini bertahan hidup dengan utang dalam berbagai bentuk yang natura maupun uang. Maka, patutlah dipertanyakan, darimana angka pertumbuhan ekonomi anatra 4-7 persen itu diperoleh, jika utang merupakan sendi perekonomian mikro, baik untuk menutup biaya produksi maupun konsumsi rumah tangga buruh, petani, nelayan, dan rakyat pekerja secara umum? Dari sinilah kita tegaskan bahwa reformasi pada dasarnya telah gagal sejak wacana itu dilontarkan elit borjuasi saat itu. Sebab, ketika perlawanan terhadap rezim Soeharto bangkit, perjuangan rakyat pekerja yang dipelopori mahasiswa bukanlah mengajukan proposal reformasi melainkan rezim dan sistem itu harus tumbang.

Gerakan penumbangan rezim yang berpuncak pada tahun 1998, faktanya terbukti telah gagal mensejahterakan dan memenangkan rakyat pekerja. Umumnya rakyat pekerja telah mempercayai ilusi hadirnya Tartuffe, sang penyelamat kehancuran manusia. Siapakah Tartuffe? Ia tokoh ciptaan Moliere (sastrawan Perancis), dalam sebuah karya dramanya yang berjudul Tartuffe. Si Tartuffe bertampilan laki-laki yang selalu membawa dan membaca kitab suci, yang kata-katanya seperti pisau kebijaksanaan, yang perilakunya santun dan rendah hati, yang merogoh belas kasihan seorang dermawan dan memberi Tartuffe fasilitas kehidupan di rumahnya. Tak tahunya di baalik kesucian dan kesantunnya, Tartuffe berupaya untuk menjarah tubuh isteri sang dermawan dan mempunyai rencana sistematis untuk pula menjarah harta kekayaannya. Kelakuan Tartuffe itu pada akhirnya dapat diblejeti dan dihancurkan isteri sang dermawan dan pekerja rumah tangganya. Orang yang bertampilan suci, bersih (Mr. Clean) dan bijaksana namun penuh daya kejahatan di dalamnya kemudian disebut “tartuffe”. Di negeri kita ini ada banyak “tartuffe” yang beramai-ramai menggagalkan kemenangan perlawanan rakyat. Rakyat pekerja termakan ilusi oleh tampilan “tartuffe” yang suci dan memilihnya memimpin negara. Para “tartuffe” berjaya memimpin negara dengan menjarah dan mengkorupsi kedaulatan rakyat atas negara, pada aspek kekayaan, tenaga, dan ideologi. Pada aspek kekayaan, kita merasakan perampasan tanah petani dan penggusuran tanah rakyat atas nama pembangunan fasilitas publik. Pada aspek tenaga, kita merasakan buruh telah diperas sampai tetes keringat yang kering. Pada aspek ideologi, kita telah dihegemoni dengan ilusi perdagangan dan investasi pasar bebas di Indonesia akan membuka lapangan kerja dan pertumbuhan ekonomi, di mana surplusnya dapat diterima rakyat sebagai jaminan sosial, seperti BLT, Jamkemas, PNPN Mandiri, dan sebagainya.

Lawan Ilusi dengan Persatuan Perjuangan Kelas Pekerja

Kawan-kawan seperjuangan,

Syukurlah, setelah reformasi gagal, perjuangan kaum buruh menunjukkan perkembangan yang militan. Serikat-serikat buruh bertumbuhan melawan ilusi kebebasan berserikat, dan sejak 2004 melawan outsourcing dan PHK massal, privatisasi BUMN, serta pailitisasi pabrik manufaktur yang berujung PHK massal. Gerakan serikat buruh tumbuh subur di atas landasan perjuangan ekonomisme tersebut. Bahkan terdapat federasi-federasi serikat buruh yang memperbesar kekuatannya menjadi konfederasi serikat buruh di Indonesia, yakni Konfederasi KASBI (Kongres Aliansi Serikat Buruh Indonesia), KSPSI (Konfederasi Serikat Pekerja Seluruh Indonesia), KSPI (Kongres Serikat Pekerja Indonesia), dan KSBSI (Konfederasi Serikat Buruh Sejahtera Indonesia). Adanya konfederasi- konfederasi serikat buruh ini cukup signifikan melawan dan memecah hegemoni ideologi Orde Baru terhadap buruh yang masih dikembangsuburkan rezim neoliberal di bawah pimpinan rezim SBY. Ideologi itu berupa sistem keyakinan tentang kemitraan kelas pekerja (working class) dengan korporasi kapitalis dan penyelenggara pemerintahan. Ilusinya, hak ekonomisme perburuhan dibahas dalam suasana kekeluargaan dengan jajaran penghisapnya dan tentu saja hal ini merupakan ilusi tentang harmonisasi yang tak mungkin. Bagaimana mungkin buruh yang memperjuangkan kesejahteraannya dapat duduk bersama dengan korporasi kapitalis, sebagai keterwakilan kapitalis yang memeras nilai lebih dari keringatnya buruh? Sedangkan penyelanggara pemerintahan yang telah menjadi antek kapitalis tentu lebih memilih remah-remah kapitalis ketimbang menjamin kebutuhan ekonomisme buruh.

Namun demikian, gerakan serikat buruh ini harus mewaspadai ancaman pemerosotan jumlah serikat-serikat akibat penutupan pabrik (atas nama pailit), relokasi, privatisasi, PHK massal, dan outsourcing. Terutama di sektor manufaktur, jasa, dan agribisnis, telah kita saksikan bubarnya serikat-serikat buruh karena faktor yang telah disebutkan tadi. Suatu hal yang harus dipikirkan adalah bagaimana serikat buruh tidak bubar, sekalipun terjadi PHK massal; dan perjuangan buruh dapat berkelanjutan, sekalipun kompensasi kecil telah diberikan kepada yang mengalami PHK massal. Inilah tantangan gerakan buruh yang sejati!

Sampai di sini, gerakan buruh tak bisa sebatas memperjuangkan ekonomisme untuk tingkat survival semata. Gerakan buruh harus ditingkatkan untuk berkuasa, mengambil alih alat produksi, dan kemudian membangun mekanisme kontrol di tingkat produksi, manajemen, serta distribusi. Serikat buruh harus mempunyai strategi pengambilalihan ketika pabrik ditutup dan dinyatakan pailit. Di sejumlah pabrik di Tangerang, Jakarta Utara, Karawang, Semarang, Jombang, dan Surabaya, kisah pendudukan pabrik oleh buruh telah terjadi sejak 2004, ketika mereka berupaya mempertahankan yang hendak dijual pemiliknya. Namun, gerakan pendudukan pabrik ini masih sebatas menunggu pesangon dari tim kurator yang melakukan penjualan aset. Setelah mendapat pesangon, kebanyakan serikat buruh itu pun membubarkan diri. Inilah yang seharusnya menjadi strategi baru konfederasi serikat buruh, untuk mendukung dan meningkatkan secara kualitatif pendudukan pabrik menjadi gerakan pengambilalihan alat produksi, serta kemudian serikat buruh tersebut memimpin keberlangsungan proses produksi di bawah kontrol manajemen buruh.

Perjuangan buruh memang harus meningkat dari masalah ekonomisme menjadi perjuangan politik untuk berkuasa di bawah kontrol buruh. Perlawanan terhadap rezim neoliberal, baik di tingkat kebijakan dan ideologi, harus dilakukan melalui pemogokan nasional, pengambilalihan alat produksi, serta penguasaan industri nasional berada di bawah kontrol buruh.

Perjuangan gerakan buruh harus bergabung dengan gerakan tani. Serikat buruh membangun kerjasama praktis yang bersifat ekonomis dan politik dengan serikat tani. Hal-hal yang dapat dikerjasamakan hendaknya di bawah kepemimpinan konfederasi, agar jalinan kerjasama dari bawah dapat didorong maju dan meluas. Karena itu konfederasi serikat tani harus segera dibentuk, setelah mencapai gerakan pengambilalihan tanah dan/atau mempertahankan tanah yang diserobot pemilik modal. Maka serikat tani harus memikirkan kontrol atas produksi, distribusi, dan harga pasar. Sebab, problem yang dihadapi petani meliputi tanah yang makin langka dari pemilikan mandiri, hasil produksi tak sesuai dengan biaya produksi karena harga ditentukan oleh pasar, pemaksaan monokultur, tenaga produksi atas hitungan sukarela, modal dan teknologi yang tergantung pada jaringan pedagang ritel yang berinduk pada agen-agen besar. Dari sini telah nampak jelas, bahwa produksi pertanian rakyat telah berhasil dibuat 100% tergantung pada pasar. Kebangkrutan petani disebabkan oleh pengontrolan harga pasar dan kualitas hasil pertanian ditentukan oleh rezim neoliberal. Kebangkrutan petani pada dasarnya adalah terjadinya “buruhisasi” di sektor pertanian. Saat ini, sekitar separuh lebih petani di Indonesia telah menjadi buruh tani, yang jika tidak sedang musim produksi mereka menjadi buruh konstruksi atau buruh jasa. Hampir serupa dengan petani, adalah keadaan nelayan di Indonesia yang perjuangannya belum tertata ke dalam serikat-serikat yang meluas danmenyebar.

Kesatuan Tindakan Melawan Pecah Belah

Kawan-kawan seperjuangan,

Adalah tugas kita untuk mendorong agar serikat-serikat kelas-kelas tersebut di atas, terorganisir dalam konfederasi yang dipimpin oleh sebuah partai politik dan perjuangan itu berada dalam kesatuan tindakan. Kami pungut perkataan Lenin:

Di tengah-tengah perjuangan pada saat itu, mutlak dibutuhkan adanya suatu kesatuan tindakan. Dalam panasnya pertempuran, dimana setiap urat nadi tentara proletariat sedang bergerak begitu tingginya, tidak ada kritisisme apapun yang kita perbolehkan. Tapi sebelum aksinya ditentukan, harus ada suatu diskusi yang luas dan bebas terhadap suatu resolusi dari bermacam argumentasi dan berbagai usul yang berbeda-beda. (VI Lenin dalam Kongres Telah Menyimpulkan)

Kesatuan tindakan dalam perjuangan kelas-kelas pekerja merupakan sokoguru yang menetukan kemenangan. Tak ada perubahan revolusioner yang berjalan liar semau-maunya, karena sikap ini membuka peluang pemecahbelahan melalui politik uang oleh rezim neoliberal. Ancaman yang tersulit kita dihadapi oleh semua perjuangan rakyat pekerja adalah ilusi uang dan ikusi perubahan melalui keterwakilan partai politik borjuasi. Telah nyata, ilusi itu mematikan pergerakan. Itulah sebabnya tak perlu kita sangsi oleh berbagai ilusi dan praduga yang tak bermartabat terhadap jalan yang hendak kita tempuh. Bukankah telah terbukti? Kemenangan kita dari penjajahan kolonial ditentukan oleh gerakan massa yang dipimpin oleh persatuan rakyat pekerja. Kemenangan revolusi di dalam sejarah dunia juga ditentukan oleh persatuan rakyat pekerja yang dipimpin oleh organisasi politik kelas pekerja. Namun, dalam kesempatan memperingati 12 tahun reformasi ini, kami menyerukan dan mengajak seluruh organisasi gerakan serta serikat-serikat rakyat pekerja mendiskusikan secara luas dan bebas mengenai bagaimana jalannya membangun persatuan perjuangan rakyat pekerja, baik nasional maupun di lokal masing-masing; bagaimana metodenya, dan apa alatnya. Dengan ini, kita tanggalkan kacamata kuda dan mengeksplorasi secara bebas kondisi material yang ada di daerah maupun nasional. Namun semuanya berada dalam satu tindakan meningkatkan secara kualitatif gerakan-gerakan kelas pekerja menuju perjuangan politik untuk berkuasa dan membangun Sosialisme.

Hanya dengan keyakinan, ketekunan, dan kesabaran, kita akan menang. Jangan pernah lelah perjuangkan Sosialisme.

Sosialisme, Solusi Bagi Krisis Kapitalisme Global

Bersatu, Bangun Partai Kelas Pekerja

Komite Pusat

Perhimpunan Rakyat Pekerja

(KP-PRP)

Sumber Gambar

Iklan

Tinggalkan Komentar, Komentar anda akan kami moderasi terlebih dahulu. Harap jangan mengirimkan link yang tidak perlu, khususnya link yang mengandung iklan dan spam

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: