Tinggalkan komentar

Pernyataan Solidaritas Front Oposisi Rakyat Indonesia (FOR Indonesia) Mendukung Perjuangan Pekerja Pertamina Indramayu


Dukung Perjuangan Pekerja Pertamina Indramayu!

Ganti Rezim, Ganti Sistem!

Mungkin tidak banyak yang tahu bahwa Pertamina Indramayu menerapkan sistem kerja kontrak dan outsourcing. Mereka menyerahkan pekerjaan eksplorasi pengeboran dan produksi kepada vendor atau perusahaan mitra. Hal ini tentu saja menyebabkan lemahnya kepastian kerja bagi pekerja perusahaan mitra, karena masa kerja mereka digantung melalui perjanjian kontrak. Ada yang masa kerjanya 2 tahun, 1 tahun dan belakangan, hanya 6 bulan. Belum lagi, perusahaan-perusahaan mitra seringkali berganti nama, sekalipun pemiliknya sama, sehingga menyulitkan pekerja untuk meminta pertanggungjawaban mereka. Misalnya, dalam hal pencairan jamsostek, perusahaan mitra menjadi mudah berkelit dan menyatakan tidak tahu menahu tentang pembayaran jamsostek periode sebelumnya, karena itu adalah urusan perusahaan mitra yang lama.

Selain itu, outsourcing juga menyebabkan terjadinya diskriminasi terhadap pekerja perusahaan mitra. Pekerja tetap Pertamina di bagian EP (Eksporasi dan Pengeboran) sudah masuk golongan 15 yang bergaji minimal 3 juta rupiah per bulan dengan bonus tahunan, kesehatan ditanggung perusahaan, dan bonus ulang tahun Pertamina. Sementara pekerja perusahaan mitra hanya mendapat upah global saja. Begitu pula, banyak pekerja yang mendapat upah dibawah UMK Indramayu, yakni Rp854.500,- per bulan, diduga karena perusahaan mitra memotong anggaran upah yang diberikan Pertamina, sekalipun dalam setiap kontraknya, perusahaan mitra sudah mendapatkan 8%-20% dari total anggaran yang diperuntukkan buat pekerja dan overhead-nya.

Penerapan outsourcing dan kerja kontrak oleh Pertamina ini sebenarnya merupakan pelanggaran hukum, yaitu melanggar UUK No. 13 Tahun 2003, pasal 56 s/d 66, di mana pekerjaan yang terus-menerus, pekerjaan dengan magang serta training dan pekerjaan pokok tidak boleh menerapkan sistem kerja kontrak dan penyerahan kepada pihak lain (outsourcing). Begitu pula, diskriminasi yang disebabkan oleh penerapan outsourcing dan kerja kontrak ini bertentangan juga dengan Code of Conduct Corporate Pertamina, yang menegaskan larangan diskriminasi. Adapun terdapat pula nepotisme dalam penerapan outsourcing ini, di mana banyak pemilik perusahaan mitra atau vendor yang bekerja sama dengan Pertamina memiliki tautan saudara atau mantan pejabat di lingkungan Pertamina.

Pada tanggal 28 Januari 2010, bertepatan dengan 5 tahun 100 hari SBY, para tukang babat rumput dan cleaning service yang tergabung dalam SBI-KASBI (Serikat Buruh Indramayu-Kongres Aliansi Serikat Buruh Indonesia) memulai perlawanan terhadap penindasan Pertamina dengan melakukan aksi 100 hari SBY dan menuntut kenaikan upah Rp1,5 juta. Perlawanan ini kemudian meluas menjadi mogok massal yang melibatkan bagian-bagian lain di Pertamina Indramayu. Adapun Brimob bersenjata dan pihak manajemen pun melakukan sweeping untuk memaksa bagian Elpiji 3 kg dan 12 kg untuk bekerja dengan alasan masyarakat sudah kehilangan pasokan Elpiji dan bila tidak cepat dioperasikan bisa terjadi kerusakan di mesin elpiji (ledakan) karena tidak terkontrol suhunya.

Perlawanan gelombang pertama ini berakhir pada tanggal 23 Maret 2010, ketika Pertamina menyepakati pergantian sistem kerja shift dari 3:1 menjadi 2:1 dan kenaikan Upah Pokok Minimum Sektor Migas, meskipun angkanya akan dibahas bersama nanti. Selang beberapa waktu setelah itu, Bupati Indramayu menjanjikan kenaikan bertahap Upah Pokok Minimum Migas menjadi Rp1,5 juta di tahun 2011, dan untuk sekarang ini, akan dinaikkan dulu sebesar Rp1,25 juta. Tetapi Bupati ternyata membohongi para pekerja. Setelah mengeluarkan surat yang isinya menyetujui Upah Pokok Minimum Sektor Migas sebesar Rp1,25 juta, ia mengeluarkan surat kedua, di mana yang disetujui sebesar Rp1,25 juta itu adalah Upah Minimum (upah pokok ditambah tunjangan) dan bukan Upah Pokok Minimum. Adapun Pertamina menyatakan bahwa SK Bupati tidak cukup kuat untuk menetapkan upah sektor migas dan dibutuhkan SK Gubernur sebelum Pertamina memenuhi tuntutan pekerja. Selain itu, Pertamina juga terus melakukan intimidasi-intimidasi, seperti ancaman pemecatan dan pemotongan upah.

Pekerja Pertamina Indramayu pun kembali berlawan. Gelombang kedua perlawanan ini dimulai pada tangga 1 Mei 2010, bertepatan dengan Hari Buruh Sedunia. Sekalipun sekarang ini, Pertamina sudah menyepakati tuntutan Upah Minimum Pokok Rp1,25 juta dan akan segera dibuat SK Bupati terkait kesepakatan tersebut, tetap para pekerja Pertamina Indramayu masih berjuang untuk memastikan Bupati serta Pertamina konsisten, dengan menuntut dikeluarkannya SK atau maklumat atau himbauan Menakertrans yang menyatakan bahwa SK Bupati sudah cukup untuk menetapkan Upah Pokok Minimum Sektor Migas sebesar Rp1,25 juta; agar DPR dan Meneg BUMN memantau Bupati Indramayu dalam mengeluarkan SK tersebut dan menindak Bupati jika mangkir; agar DPR dan Meneg BUMN mendesak Pertamina merealisasikan isi tuntutan bersama pekerja; agar Menakertrans, DPR serta Meneg BUMN bertindak tegas terhadap intimidasi Pertamina kepada pekerjanya dan penerapan outsourcing serta kerja kontrak di Pertamina, yang melanggar UUK No. 13 Tahun 2003, dan agar Mahkamah Agung bersikap tegas dan berpihak pada buruh dalam kasus-kasus perburuhan.

Adapun FOR Indonesia mendukung sepenuhnya perjuangan pekerja Pertamina Indramayu, yang dipimpin oleh SBI-KASBI, untuk memperoleh hak-hak mereka. Begitu pula, FOR Indonesia menyerukan kepada seluruh kaum buruh dan rakyat pekerja Indonesia untuk mendukung perjuangan pekerja Pertamina Indramayu dan berjuang untuk upah layak dan penghapusan kerja kontrak, outsourcing, diskriminasi, pemberangusan serikat serta intimidasi perusahaan terhadap pekerja. FOR Indonesia juga mengingatkan perlunya Ganti Rezim, Ganti Sistem, karena hanya dengan menghancurkan rezim neoliberal dan membangun pemerintahan rakyat pekerja, kesejahteraan dan keadilan sosial bisa terwujud di negeri ini.

Dukung Perjuangan Pekerja Pertamina Indramayu!

Ganti Rezim, Ganti Sistem!

Jakarta, 24 Mei 2010

Salam Oposisi,

Front Oposisi Rakyat Indonesia (FOR-Indonesia)

Iklan

Tinggalkan Komentar, Komentar anda akan kami moderasi terlebih dahulu. Harap jangan mengirimkan link yang tidak perlu, khususnya link yang mengandung iklan dan spam

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: