Tinggalkan komentar

Kuli Pemberani


Oleh: Videlya Esmerella*

Photo Videlya Esmerella

Photo Videlya Esmerella

Sejak zaman kolonial dahulu, mental para pejabat pribumi sampai sekarang tidak pernah berubah : Mandor. Begitu pun mental mayoritas rakyatnya : Kuli. Hakikat pekerjaan seorang seorang mandor adalah memastikan kuli-kuli miskin, yang bekerja siang malam dibawah pengawasannya, tetap menjadi kuli yang baik untuk memperkaya Sang Jurangan (yang umumnya bukan pribumi). Masih jelas situasi yang awam pada masa penjajahan dahulu ditanah Jawa dan tentu juga pada perkebunan di Sumatera :

Jurangan pabrik gula bergelimang Gulden hasil penjualan produk pabriknya di pasar Eropa ; si mandor kecipratan recehan Gulden tersebut, sementara kuli-kuli kebun di sekitar pabrik gula tetap miskin mengenaskan. Samar-samar terpikir dibenak beberapa kuli :”Bukankah dahulu tanah-tanah yang sekarang jadi perkebunan ini milik bangsa kami.. Lalu kenapa tiba-tiba sekarang menjadi milik si Londo Gendut itu? Dulu dia belum sekaya ini kukira. Dan juga..Kenapa mandor-mandor bangsa kita begitu kejam kepada kami tetapi taksim sekali pada si Londo?” Kemiskinan menjadi begitu tak tertahankan sampai sekelompok kuli yang berani menjadi nekat.

Akhirnya, bukan satu hal yang aneh jika pada suatu malam muncullah sedikit gejolak disekitar pabrik: beberapa petak kebun ditemukan dibakar secara sengaja, kerbau-kerbau dicuri, dan beberapa peralatan pabrik dirusak serta dibakar. Juragan Londo kelabakan dan langsung memanggil mandornya untuk mencari bantuan kekantor kawedanan.

Tak lama, mandor ditemani sepasukan prajurit kawedanan segera datang kelokasi keributan. Bentrok fisik antara aparaturnya kaum priyayi dan kuli-kuli terjadi ; korban berjatuhan dari pihak kuli-kuli pemberani yang kalah persenjataan, sebagian memilih lari. Seorang kuli yang selamat, ditangkap untuk dipertontonkan pagi harinya didepan kantor kawedanan sambil disiksa. Akibat luka yang dideranya, tak sampai tengah hari, si kuli menghabiskan nafas penghabisan. Namun, beberapa khalayak sekitar, yang sempat menonton dia disiksa, sempat mendengar sebaris kalimat yang terus menerus digumamkan oleh bibir yang pecah-pecah di poles darah kering itu : “Sudah cukup, aku tak mau menjadi kuli lagi”

Sampai sekarang, potret ini masih terjadi di negara kita. Pejabatnya (mandor) dengan mudahnya memberikan kontrak karya untuk mengolah sumber kekayaan alam Indonesia kepada pihak-pihak asing atau kepada pengusaha pribumi yang hanya memperkaya diri, keluarga sendiri serta kolega masing-masing. Para kapitalis asing (londo gendut) begitu mudah mengeruk hasil bumi kita dan membawanya pulang kenegaranya sendiri, sementara para pekerja dan mayoritas orang Indonesia hidup berhimbitkan beban ekonomi yang sangat besar dan mendesak. Pejabatnya pun punya hobby menyenangkan pemodal dengan memukul gerakan rakyat yang tak berempati dengan kebijakannya, membatasi ruang demokrasi dengan isu-isu fundamentalis, serta memberanguskan serikat-serikat pekerja yang anti-sistem kapitalis.

Tak ada pilihan lain selain melawan sistem dan rezim yanga ada saat ini. Membangun gerakan massa pekerja yang dipimpin klas pekerja itu sendiri dalam mencapai perjuangannya. Reformasi telah terbukti gagal mensejahterakan rakyat, justru hanya membuka peluang bagi semakin menancapnya sistem ekonomi-politik yang kian hari kian jauh mensejahterahkan mayoritas rakyat Indonesia.

*Penulis adalah Anggota PRP Komite Kota Makassar

Sumber Asli

Iklan

Tinggalkan Komentar, Komentar anda akan kami moderasi terlebih dahulu. Harap jangan mengirimkan link yang tidak perlu, khususnya link yang mengandung iklan dan spam

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: