1 Komentar

Rezim Neoliberal gagal melindungi buruh migran Indonesia!!!


(Tulisan ini Merupakan Pernyataan Sikap KP-PRP)

Salam rakyat pekerja,

Kasus penyiksaan yang dialami oleh Sumiati, buruh migran asal Dompu (NTB), yang digunting bibirnya dan kasus pemerkosaan serta pembunuhan terhadap Kikim Komalasari, buruh migran asal Cianjur, Jawa Barat, merupakan drama penyiksaan buruh migran yang tidak berkesudahan. Kasus ini terus menerus terjadi tanpa bisa dihentikan oleh rezim Neoliberal. Perlindungan terhadap buruh migran asal Indonesia oleh rezim Neoliberal kenyataannya tidak pernah dilakukan.Kita tentu masih ingat beberapa kasus kekerasan yang dialami para buruh migran di berbagai negara. Nirmala Bonat, buruh migran yang bekerja di Malaysia, Muntik Hani, buruh migran yang juga bekerja di Malaysia serta Halimah yang ditemukan meninggal di Lorong Jembatan di Arab Saudi. Ini hanya beberapa nama sebagian kecil kekerasan yang menimpa buruh migran asal Indonesia.

Berdasarkan data yang diperoleh dari Migrant Care diketahui bahwa sampai Oktober 2010 telah terjadi 5.336 kasus kekerasan terhadap buruh migran di Arab Saudi. Ini merupakan jumlah yang sangat luar biasa dan terus meningkat. Para buruh migran tersebut kerap mendapatkan penyiksaan, pelecehan seksual, pemerkosaan, bekerja tidak dibayar, kerja overtime dan tidak mendapatkan jaminan sosial.

Padahal, pemasukan devisa yang dihasilkan dari para buruh migran ini bukan jumlah yang sedikit. Jumlah dana yang dibawa masuk oleh buruh migran ke Indonesia (remitansi) pada tahun 2010 saja akan mencapai 7,139 miliar dollar AS. Jumlah tersebut meningkat jika dibandingkan remitansi pada tahun 2009 yang mencapai 6,793 miliar dollar AS. Jumlah dana ini melampui bantuan asing Official Development Assistance atau ODA yang diterima Indonesia, terutama dari pemerintah Jepang, sebesar 1,2 miliar dollar AS.

Namun jelas, kenyataannya rezim Neoliberal lebih tunduk kepada negara-negara asing yang memberi bantuan dibandingkan melayani kebutuhan buruh migran. Buruh Migran terus dipaksa untuk membayar biaya perlindungan kepada pemerintah. Buruh Migran juga selalu saja mendapatkan upah yang tidak sesuai dengan Upah Minimum negara penempatan. Bahkan upah buruh migran selalu dipotong dengan pemotongan yang berlebih (overcharging).

Perlindungan terhadap buruh migran Indonesia kenyataannya memang tidak pernah diberikan oleh rezim Neoliberal. Gagalnya rezim Neoliberal menyediakan lapangan pekerjaan juga menyebabkan rakyat Indonesia harus mempertaruhkan nasibnya ke luar negeri. Sektor industri nasional, yang seharusnya menjadi penyerap tenaga kerja di dalam negeri, malah justru dijual murah atas nama “privatisasi”. Privatisasi memang menjadi agenda Neoliberalisme yang dijalankan oleh rezim Neoliberal selama ini.

Selain itu, sistem kerja kontrak dan outsourcing serta upah yang sangat murah yang diterapkan oleh rezim Neoliberal juga memicu pilihan rakyat pekerja di Indonesia untuk menjadi buruh migran di negara lain. Hal ini dikarenakan kondisi ketenagakerjaan di Indonesia memang sangat buruk dan tidak dapat menjamin kehidupan rakyat Indonesia menjadi lebih baik dan sejahtera.

Sementara desakan ekonomi karena tanah/lahan di desa-desa mereka terus dirampas oleh para pemilik modal yang didukung oleh kebijakan rezim Neoliberal. Biaya pendidikan yang tinggi akibat komersialisasi di bidang pendidikan juga memaksa mereka hanya mampu mengenyam tingkat pendidikan yang rendah, yang akibatnya adalah buruh migran hanya dapat menerima tawaran posisi sebagai PRT di luar negeri.

Besarnya remitansi yang didapat setiap tahunnya dari para buruh migran, maka dengan liciknya rezim Neoliberal menerapkan kebijakan program ekspor tenaga kerja. Rezim Neoliberal menjadikan program ekspor tenaga kerja sebagai andalan pendapatan nasionalnya. Sebagai salah satu bisnis yang sangat menguntungkan, jasa pengiriman tenaga kerja pun menjadi salah satu sektor yang hendak dikembangkan untuk menarik investasi.

Upaya rezim Neoliberal ini secara langsung tertuang dalam Instruksi Presiden No 3 tahun 2006 tentang Percepatan Perbaikan Iklim Investasi. Di dalam inpres tersebut, rezim Neoliberal menginstruksikan kepada jajarannya untuk melakukan perubahan-perubahan kebijakan, salah satunya kebijakan penempatan tenaga kerja Indonesia sebagaimana tertuang dalam UU Nomor 39 tahun 2004 tentang Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia di Luar Negeri.

Penghapusan ketentuan-ketentuan yang mewajibkan setiap Pelaksana Penempatan Tenaga Kerja Indonesia Swasta (PPTKIS) memiliki balai-balai latihan kerja (training centre) pun dilakukan. Komponen tersebut dianggap menghambat laju investasi di sektor jasa penempatan tenaga kerja dan menghambat target rezim Neoliberal dalam hal penempatan kerja sebesar 1 juta per tahun. Dengan adanya penghapusan tersebut, rezim Neoliberal bukan hanya ingin memperbesar peluang usaha jasa penempatan tenaga kerja Indonesia saja, namun juga ingin melipatgandakan penempatan buruh migran di berbagai negara serta memperbesar pemasukan remitansi dari buruh migran Indonesia. Artinya rezim Neoliberal ingin melipatgandakan keberadaan PJTKI, melipatgandakan pengiriman buruh migran Indonesia serta melipatkan penghisapan dari buruh migran Indonesia.

Kerangka ini lah yang kemudian mendorong lahirnya Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia (BNP2TKI). BNP2TKI hanya memiliki fungsi untuk semakin memperluas daerah tujuan pengiriman buruh migran, meningkatkan pemasukan negara serta menggenjot peningkatan jumlah pengiriman buruh migran setiap tahunnya. Namun BNP2TKI tidak pernah berbicara mengenai peningkatan perlindungan terhadap buruh migran.

Rezim Neoliberal yang menerapkan sistem Neoliberalisme di Indonesia memang akhirnya hanya memikirkan bagaimana mendahulukan kepentingan para pemilik modal dibandingkan rakyatnya sendiri. Rezim Neoliberal juga akan berusaha untuk mengeruk keuntungan dari hasil jerih payah rakyatnya untuk kepentingan para pemilik modal, elit dan partai politik yang mendukung Neoliberalisme.

Pandangan terhadap buruh migran pun masih dianggap rendah oleh sejumlah kalangan masyarakat, bahkan juga dianggap rendah oleh anggota DPR. Buruh-buruh migran yang bermasalah dan kebenaran bertemu para anggota DPR setelah para anggota DPR ini melakukan pelesiran ke Moskwa, ternyata tidak ditanggapi serius oleh anggota DPR tersebut. Ini menunjukkan bahwa elit dan partai politik borjuasi tidak pernah memikirkan nasib rakyat Indonesia yang sedang tertimpa masalah di negara lain.
Maka dari itu, kami dari Perhimpunan Rakyat Pekerja menyatakan sikap:

(1) Rezim Neoliberal telah gagal melindungi buruh migran Indonesia di luar negeri, (2) Percepatan pembangunan industrialisasi nasional harus menjadi agenda seluruh rakyat Indonesia untuk menghambat laju Neoliberalisme yang telah menyengsarakan rakya, (3) Tanpa penhapusan sistem kerja kontrak dan penegakkan upah layak nasional maka rezim Neoliberal secara resmi mendukung perlakuan kejam dan tidak manusiawi terhadap kondisi para buruh migrant, (4) Rezim Neoliberal tidak akan pernah berpikir untuk melindungi rakyatnya dari “serbuan” agenda Neoliberalisme, maka seluruh elemen gerakan rakyat di Indonesia harus bersatu untuk menggulingkan kekuasaan rezim Neoliberal beserta antek-anteknya, (5) Bangun partai politik alternatif untuk melawan partai-partai politik pendukung Neoliberalisme dan menghancurkan sistem Neoliberalisme yang telah menyengsarakan rakyat, (6) Hanya dengan SOSIALISME lah maka rakyat akan sejahtera.

Jakarta, 19 November 2010

Komite Pusat

Perhimpunan Rakyat Pekerja

(KP-PRP)

Sumber Gambar : http://www.primaironline.com/berita/detail.php?catid=Nusantara&artid=pjtki-sumut-dilarang-kirim-prt-ke-malaysia

Iklan

One comment on “Rezim Neoliberal gagal melindungi buruh migran Indonesia!!!

  1. Ayo bersatu bangun kekuatan Politik Rakyat Pekerja, demi terwujudnya SOSIALISME…!!!

Tinggalkan Komentar, Komentar anda akan kami moderasi terlebih dahulu. Harap jangan mengirimkan link yang tidak perlu, khususnya link yang mengandung iklan dan spam

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: