Tinggalkan komentar

Terus Berjuang untuk Sosialisme, Menolak Tunduk pada Hegemoni Neoliberalisme: Menyatukan Tenaga Perlawanan Rakyat Pekerja dengan Kesetiaan Perjuangan Terorganisasi


(Tulisan ini merupakan Pidato Politik KP-PRP Pada Sidang Dewan Nasional PRP II Masa Kongres II)

Salam Rakyat Pekerja,

Kawan-kawan pimpinan, pengurus, dan anggota Dewan Nasional yang terhormat,

Telah tiba lah kesempatan yang mulia dan berbahagia buat kita untuk berkumpul melakukan Rapat Dewan Nasional dari organisasi perjuangan kelas pekerja yang kita bangun, rawat, dan gerakkan dengan penuh semangat serta kecintaan pada cita-cita mulia pembebasan kelas pekerja dari penindasan kapitalisme. Setiap hari semakin nyata dan kuat keyakinan kita tentang keharusan sejarah menggulingkan kapitalisme yang senantiasa dalam keadaan krisis dan melahirkan bencana. Setiap hari juga kita melihat penindasan dan perlawanan hadir bersisian sebagai potret kehidupan rakyat pekerja yang menjadi tulang punggung bertahannya sistem bengis dan menghisap bernama kapitalisme. Wajah dunia telah akan terus berganti rupa, itu keyakinan yang ilmiah dan ideologis dari kita, Kader-kader PRP dimanapun berada. Terus berubah menuju kemenangan kelas pekerja, dimana Sosialisme terwujud atau ke arah kehancuran perikehidupan alias keadaan barbar karena kekuasaan modal yang tanpa batas dan tanpa peri kemanusiaan.

Kita percaya sejak awal mendirikan jalan perjuangan ini, dan dalam setiap tahap sejarah pembesaran organisasi kita, bahwa sikap yakin dan keberanian dalam perjuangan harus selalu dituangkan dalam penyatuan tenaga pada organisasi kita, sebagai wadah penataan kekuatan dan sumber daya. Sejak awal kita menyandarkan diri pada cara pandang dunia (ideologi) yang memahami sejarah kemanusiaan adalah sejarah perang, pertentangan, dan perjuangan kelas. Perang yang menentukan bagaimana kehidupan masyarakat ditata berdasarkan kemenangan atau kekalahan kelas-kelas yang saling bertentangan itu. Pertentangan yang hanya akan dimenangkan oleh kekuatan yang nyata dan kokoh sebagai hasil keterorganisiran kekuatan kelas dengan segala persenjataan, kebudayaan, dan kesadarannya.

Kita akan terus mengingat dan merayakan ketepatan pilihan posisi perjuangan kita yang melandaskan pada Marxisme sebagai ilmu pengetahuan, dimana mutlak dimiliki dan dikembangkan oleh setiap pejuang revolusioner untuk penghapusan masyarakat berkelas. Kita akan terus bersetia pada landasan perjuangan PRP yaitu Sosialisme ilmiah yang menempatkan ilmu pengetahuan sebagai senjata pembebasan kelas-kelas tertindas dan senjata untuk menghancurkan kekuasaan kelas penindas. Iman, ilmu, dan amal Marxisme akan kita abdikan dalam praksis alias penyatuan pengetahuan (teori) dengan praktek pemberontakan terhadap kapitalisme dan antek-anteknya. Kita percaya dan mendidik kelas-kelas tertindas untuk juga percaya bahwa kita dapat menyatukan kekuatan kemarahan dan perlawanan terhadap para penindas untuk menghasilkan dunia yang lebih adil, manusiawi, demokratis, dan berlandaskan pada nalar (ilmiah).

Penyatuan tenaga perlawanan kelas tertindas adalah semangat kehadiran PRP sejak awal berdirinya dan hingga kemenangan tercapai. Kita meyakini, bahwa dunia dan perikehidupan yang baru akan menjadi haknya kelas pekerja, dimana tidak memiliki suatu kehendak selain menghapuskan seluruh kelas-kelas sosial yang ada dan mewujudkan masyarakat tanpa penindas serta ditindas, masyarakat tanpa penghisapan manusia atas manusia lain, melalui tatanan kelas-kelas yang seolah tidak tampak tetapi nyata membagi nasib manusia hingga saat ini. Penyatuan yang bukan hanya pada retorika, bukan hanya pada seruan-seruan, tapi penyatuan energi untuk menghantam tenaga kelas kapitalis yang selalu dikonsolidasikan dan ditata dalam penyatuan yang nyata.

Persatuan perjuangan kelas adalah mustahil, bila tanpa keterorganisiran, tanpa keteraturan, dan kesetiaan pada penataan-penataan demokratis yang menjadi konsensus bersama serta mengikat siapa yang berjuang dan siapa yang tidak. Persatuan kita adalah persatuan untuk perang kelas, bukan per-satean, apalagi cuma persatuan yang munafik dan pura-pura. Kita adalah organisasi perjuangan kelas pekerja di Indonesia yang menyadari masih lemah dan belum dewasanya badan-badan perjuangan revolusioner rakyat tertindas selama ini, sehingga terus kalah dalam perlombaan penyatuan tenaga melawan kaum kapitalis dan antek-anteknya. Karenanya kita selalu menyerukan persatuan yang menghasilkan tenaga baru dan memulihkan segala tenaga yang sudah ada secara konkrit, bukan hanya di slogan-slogan dan buih-buih ucapan para aktifis saja.

Masih banyak orang yang melakukan perjuangan terkait perikehidupan rakyat tertindas, tetapi tidak percaya pada persatuan yang nyata dalam perang melawan kapitalisme dan penggulingan kekuasaan kelas pemilik modal. Tapi juga masih banyak aktifis kerakyatan yang mengidap penyakit munafik, disadari ataupun tidak disadarinya, yang sembari mengoceh tentang persatuan perlawanan tetapi membudayakan politik yang sektarian, terisolir, dan penuh paranoid (sikap curiga yang akut) terhadap berbagai bentuk perlawanan kelas tertindas. Dibungkus pembenaran-pembenaran yang rumit dan seolah-olah ideologis, sikap sektarianisme telah membantu neoliberalisme memperbesar kedigdayaannya atas kehidupan masyarakat –terwujudnya masyarakat yang terpecah-pecah (teratomisasi), teralihkan dari pertempuran-pertempuran bersama atas dasar kepentingan perubahan sistem, serta tunggang langgang dalam berbagai masalah dan isu yang tanpa henti serta bergelombang menipu kesadaran mereka yang ditindas.

Kita telah menancapkan panji seruan persatuan melawan hegemoni atomisasi neoliberalisme itu sejak awal tahun lalu, yaitu melalui Front Oposisi Rakyat (FOR) Indonesia. Melalui front yang masih terus dikembangkan dalam usianya yang muda itu, kita telah melaporkan pada pertemuan dan melalui kesempatan-kesempatan komunikasi organisasi bahwa posisi kita tegas: beroposisi terhadap sistem kapitalisme, dan beroposisi terhadap rezim-rezim yang menjadi kaki tangannya. Kita mengajarkan kepada rakyat pekerja dan kawan-kawan yang juga berjuang untuk perikehidupan rakyat tertindas, bahwa sikap yang tegas harus dinyatakan, harus disuarakan, harus disebarluaskan, dan pada akhirnya harus dilaksanakan dalam perjuangan ekonomi-sosial-politik-budaya yang merebut kuasa dari sistem dan rezim yang menjadi musuh kita.

Sayangnya, pengalaman kekanak-kanakan dari banyak aktifis kerakyatan, menciptakan kesadaran yang terbelakang dan kerdil tentang keperluan strategis dan juga taktis untuk memperbesar perjuangan front. Apatisme sangat luas, sekalipun bukti material tentang pewadahan persatuan menunjukkan keperluan penyatuan tenaga perlawanan melalui front yang strategis dan progresif adalah perlu, apalagi dan terlebih lagi dalam situasi konkrit partai kelas pekerja yang ideal dan berkapasitas signifikan masih terus dalam tahap sedang dibangun. Penyakit apatisme dan subjektifisme pun merajalela. Pengalaman perjuangan front yang selalu hanya seumur jagung, seperti telah pernah disampaikan dalam Pidato Pimpinan KP-PRP pada Rapat Dewan Nasional I tahun lalu, dimana kemudian dijadikan dasar bagi resolusi-resolusinya, justru tidak dipelajari dengan serius. Yang terus didaur ulang dan “diajarkan” kepada rakyat adalah rujukan tidak adanya contoh wadah penyatuan tenaga pemberontakan terhadap rezim dan sistem.

Pertemuan Dewan Nasional I yang terdahulu memberikan resolusi untuk menguji coba FOR-Indonesia serta memberikan mandat kepada Komite Pusat untuk melanjutkan persiapan-persiapan pembentukan partai kelas. Menguji coba harus dimakna meradikalisasi, memajukan secara optimal, dan memperbesar kemungkinan-kemungkinan revolusioner pada program organisasi bernama FOR-Indonesia. Menguji coba buat kaum revolusioner adalah tindakan mendekatkan kepada alternatif tatanan dan kekuatan baru, bukan uji coba dalam pengertian logika mekanisme pasar yang melakukan seleksi (pemilahan) secara idealistik.

Seleksi sebagai uji coba dalam logika mekanisme pasar bersifat sangat oportunistik. Hanya kepentingan mereka yang menseleksi lah akan menjadi kepentingan utama, tanpa ada logika kerja sama antara yang menyeleksi dan yang diseleksi. Pada akhirnya ada pemupukan suatu logika yang sangat menopang neoliberalisme, yakni disebut logika “Pilihan Rasional”, pilihan individu adalah yang paling utama, dan yang paling harus didahulukan, karena dianggap paling rasional, paling mewakili nalar. Bagi perjuangan kelas, jelaslah sikap yang demikian itu menjadi musuh persatuan, karena kepentingan dan kebutuhan kolektif dapat dilecehkan serta disingkirkan oleh sentimen-sentimen individual yang mengklaim hak dihormati secara demokratis, tetapi menghindar dari kesetiaan dan disiplin pada kolektifitas. Logika ini sangat licin dan hegemonis, mari berkaca di sekitar kita apakah kita mengenali mereka-mereka dengan sifat mendahulukan subjektifitas dan demokrasi individualis ini?

Tanpa keberanian menguji coba penyatuan tenaga untuk politik kekuasaan, maka kita tak akan pernah mengenal perjuangan Fidel Castro dan Che Guevara dalam merebut kekuasaan, kita tidak akan pernah mengenal perjuangan Mao Tse Tung melakukan “long march” merebut kekuasaan, kita tidak akan pernah mengenal praktek sovyet-sovyet dalam Revolusi Bolshevik, kita tidak akan pernah mengenal proklamasi kemerdekaan nasional Republik Indonesia, kita tidak akan pernah mengenal perebutan perusahaan-perusahaan milik kolonialis oleh serikat-serikat buruh kita. Artinya, menguji coba secara revolusioner adalah mengupayakan pembesaran kekuasaan, bukan sekedar memanjakan keragu-raguan. Tentu saja setiap uji coba memiliki hubungan dengan asumsi-asumsi dan hipotesa tentang masalah atau tujuan yang dikehendaki. Jadi adalah tugas kita untuk selalu memeriksa dan mendiskusikan tentang asumsi serta hipotesa mengenai uji coba yang kita lakukan, dan tidak hanya menjadikan keragu-raguan sebagai alasan utama penyimpulan. Prasangka tentang kerugian dan keburukan dampak, harus sebaliknya juga dapat dibuktikan setara dengan prasangka optimis dari uji coba politik suatu perjuangan kelas. Di situlah sifat ilmiah dan demokratis dari perjuangan politik kelas pekerja selalu diuji, apakah ketegangan antara optimisme dan pesimisme menghasilkan tindakan kongkrit atau sekedar riuh-rendah komentar tanpa perwujudan programatik.

Kembali pada pengalaman kita, KP-PRP sejak pidato yang disampaikan pada Dewan Nasional I terdahulu sudah mengargumentasikan, bahwa tujuan menggerakkan FOR-Indonesia ada dalam tujuan perang melawan hegemoni neoliberalisme, baik yang vulgar maupun yang secara halus justru bercokol di kepala kaum gerakan sosial Indonesia yang tidak mampu keluar dari kebantatan persatuan politiknya. Bantat dan involusi adalah masalah serius yang harus dihadapi bukan cuma dengan menyatakan kesiapan, tapi juga dengan pembuktian kedisiplinan dan militansi. Bantat dan involusi-nya gerakan rakyat telah terlalu lama dianggap sebagai soal yang biasa dan dianggap biasa tanpa tindakan nyata untuk memusnahkannya. Di dalam bantat dan involusi-nya gerakan terkandung secara laten kesadaran yang coba diingkari yaitu ketidakpercayaan pada revolusi. Perlawanan menjadi miskin imajinasi, bahkan kata imajinasi pun dimusuhi sedemikian rupa seolah najis yang mengganggu sandiwara pura-pura ideologis dari para aktifis gerakan sosial. Imajinasi telah mulai kita gulirkan dengan meyakinkan rakyat melalui berbagai aksi dan kerja-kerja politik FOR-Indonesia, bahwa kita bisa mengganti rezim bahkan harus mengganti sistem. Imajinasi yang kita tuangkan pada slogan FOR-Indonesia: Ganti Rezim! Ganti Sistem! kemudian digunakan pula (baca: dicuri) oleh beberapa organisasi gerakan, bahkan yang kanan sekalipun, seperti Hizbut Tahir Indonesia (HTI) dan Gerakan Revolusi Nurani (GRN). Menyatakan imajinasi politik dan revolusi adalah penting untuk sampai ke massa seluas-luasnya. Kita telah memulainya dan akan terus melakukannya.

Imajinasi politik tentang jalan perubahan dan perjuangan revolusioner untuk mencapainya bukan suatu yang kita hindari. Buka mata dan belajar lah sejarah sebagai tanda kita adalah sosialis-sosialis yang menggunakan seluas-luasnya ilmu pengetahuan untuk menaklukkan halangan-halangan pembebasan manusia. Imajinasi memiliki relasi yang dialektis dengan basis material yang konkret. Imajinasi tentang wajah dunia yang baru dan perjuangan revolusioner, harus dikobarkan untuk mencapainya serta harus mengingatkan kita dengan tegas dan tanpa malu-malu tentang mutlaknya menyediakan kekuatan objektif internal organisasi yang signifikan untuk berhadapan dengan musuh-musuh dari kelas penindas maupun untuk menata kembali kelas pekerja dan kelas-kelas tertindas lainnya yang belum sepenuhnya terbebaskan dari berbagai bentuk kebiasaan dan kesadaran kontra-progresif yang diwarisi dari kehidupan di masyarakat kapitalis ini. Pengalaman kita pada program pendudukan pabrik dan usaha menjalankan kembali produksi yang dikontrol langsung kaum buruh (di PT Istana, Jakarta Barat) memberikan pelajaran yang menegaskan, bahwa kelemahan-kelemahan kapasitas di tingkat kesadaran dan pada tingkat kontrol atas kekuatan produktif, menjadi penghalang yang serius untuk memenangkan pertempuran-pertempuran yang harus dilalui untuk memenangkan perang kelas yang lebih luas. Banyak sekali unsur kelas buruh yang masih tidak mampu berimajinasi di luar politik perburuhan yang kapitalistik. Gaya yang radikal tidak otomatis meretas jalan bagi dunia baru yang berbeda sebagai alternatif dari Kapitalisme.

Masih di Jalan Front Gerakan Meradikalisasi Perjuangan Politik Partai Buat Rakyat Pekerja

Kawan-kawan pimpinan, pengurus, dan anggota Dewan Nasional,

Kita tidak pernah ragu tentang keperluan pembangunan partai kelas, karena kebutuhan itu bertitik tolak dari tesis dasar pendirian PRP, yaitu pengamatan yang menyadari bahwa problem utama politik dan demokrasi di Indonesia paska jatuhnya kekuasaan otoriter Suharto adalah kosongnya politik kelas pekejra yang mampu mengisi dan bertarung dengan berbagai tampilan politik kelas borjuasi. Sekali lagi ditegaskan, bahwa kekuatan politik untuk bertarung menghadapi kelas borjuasi dan antek-anteknya serta wadah untuk merealisasikan kekuasaan kelas pekerja hanya dapat dicapai lewat perjuangan dalam tingkatannya yang paling tinggi dan paling canggih melalui kendali organisasi berupa partai politik. Partai bukan sekedar dalam makna administratif, apalagi sekedar aksesoris, tapi partai sebagai perwujudan yang paling mudah dikenali oleh rakyat pekerja tentang perwakilan dan sekaligus senjata untuk mempertahankan hidup dan kepentingan mereka. Kondisi kosongnya identifikasi kelas buruh dan kelas-kelas tertindas lainnya terhadap partai, yang memiliki orientasi revolusioner menggulingkan kapitalisme, telah berakibat keterasingan dalam perjuangan politik. Politik dan partai politik borjuasi dicemooh, tapi politik dan partai politik rakyat pekerja juga dianggap asing, bahkan dinajiskan, karena demikian terasingnya kelas-kelas tertindas terhadap kekuasaan dari dan oleh diri mereka sendiri.

Bagi perang perjuangan kelas, kita harus tepat menetapkan pengertian kelas pekerja dan perjuangan politik strategisnya untuk menghapuskan kelas-kelas yang sekarang ada. Sesungguhnya pengertian kelas pekerja hanya semata kaum buruh saja adalah pandangan yang fatal dan tidak mengakui adanya dimensi gerak dari kelas dan masyarakat berkelas. Revolusi atas relasi-relasi produksi mendorong tatanan sosial di dalamnya menjadi semakin fleksibel semata demi mengikuti kehendak kaum modal. Fleksibilitas tatanan sosial mengakibatkan perubahan-perubahan tampilan luar dari kelas pekerja, karena yang kita kenal sebagai kaum buruh pun terus mengalami perubahan bentuk luar karena mengikuti format dalam kecenderungan ekonomi politik kapitalisme yang sedang dominan. Fleksibilitas harus dibendung, sehingga tidak menghasilkan dampak terisolirnya kelas pekerja dari kelas-kelas tertindas lainnya. Keterisoliran terhadap kelas-kelas tertindas lainnya justru tepat menjadi keinginan tatanan neoliberalisme, yang merupakan kapitalisme dalam krisis yang semakin cepat berulang tapi mampu terus bertahan justru dengan memastikan bahwa kelas-kelas tertindas sibuk dengan eksklusifitas problemnya masing-masing secara tercerai berai dan bukan sebagai kesadaran kelas revolusioner.

Dalam kondisi yang digambarkan di atas itu lah, kita membangun program berupa Front Oposisi Rakyat Indonesia (FOR-Indonesia atau FORI), dimana merupakan cara menata dan meradikalisasi organisasi-organisasi multi sektor dan isu, untuk bersepakat untuk melakukan oposisi permanen secara kolektif. Di dalam kiri ini lah, kita harus terus memimpin dengan keteladanan, pemberdayaan, dan pendidikan tentang keutamaan Sosialisme sebagai orientasi politik yang memang harus dipilih oleh kelas-kelas tertindas yang bersatu. Dari pengalaman FORI kita telah mampu memperluas struktur dengan berdirinya Komite Kota Bandar Lampung, yang dimungkinkan karena adanya road show FORI ke Lampung yang member ruang bagi Kawan Ketua Nasional PRP untuk berpropaganda dan mendorong penyatuan tenaga di PRP. Pengalaman terakhir dalam rangkaian “Mei Bulan Perlawanan Rakyat” tahun 2011, juga menghasilkan berdirinya FORI Tangerang, FORI Sulawesi Selatan, dan cikal bakal FORI Surabaya. Dimana di tiap daerah tersebut, kesadaran dan animo penyatuan tenaga perlawanan sangat tinggi, dan inisiatif serta kepeloporan PRP di FORI menjadi inspirasi yang membentuk pengaruh yang luas di tingkat lokal atau wilayah dimana front tersebut kita kembangkan dan konsolidasikan.

Perjuangan partai tidak boleh menjadi arena yang terus menerus kita lalaikan dan hindari. Kami meminta para anggota Dewan Nasional membantu merumuskan arah yang tegas dan strategi tentang perjuangan kepartaian kita yang diperlukan bagi tujuan-tujuan revolusioner kita. Diskusi tentang partai dan imajinasi peran revolusionernya yang relevan di masa sekarang di ruang hidup kita saat ini harus kembali digalakkan. Kami meminta dukungan buat Komite Pusat PRP untuk lebih mampu mendisiplinkan organisasi, agar perjuangan kepartaian tidak lagi dihindari dan dijadikan retorika kosong yang membingungkan. Komite Pusat meminta seluruh pimpinan dan seluruh kader memfokuskan diri secara serius di sisa waktu hingga Kongres untuk mendiskusikan rumusan-rumusan yang jitu tentang jalur kita menuju partai yang mampu mewadahi perjuangan menggulingkan kapitalisme.

Kader PRP Teladan Bukan Pemicu Kebingungan

Kawan-kawan pimpinan, pengurus, dan anggota Dewan Nasional,

Di dalam perjalanan apa pun pasti akan ditemukan dinamika (baik eksternal maupun internal), yang memberi pengaruh pada arah perjalanan itu sendiri. Dalam perjalanan kita sejak Kongres, lebih khusus lagi pada momen paska Dewan Nasional I, terdapat dinamika-dinamika internal yang menghadang, mengintervensi, dan menuntut penyikapan yang tegas dari Komite Pusat. Kelemahan-kelemahan turut berkembang di dalam gerak penguatan politik kelas pekerja. Kelemahan-kelemahan fatal telah muncul di antara para kader karena tidak menyadari telah terjebak dalam fatalisme perjuangan politik yang semakin sektarian dan subjektif. Ketidaksabaran dan kemalasan membangun perjuangan politik secara bersetia dengan mekanisme dan kesepakatan-kesepakatan demokratis yang dibangun bersama-sama dalam organisasi kita telah mengakibatkan mengemukanya kecenderungan “chaotic” (berantakan), yang lebih suka dalam kehebohan-kehebohan tanpa substansi dan kontra-progresif sebagai kompensasi dari posisi marjinalnya kelas pekerja dalam pertaruang politik saat ini.

Sektarianisme dan subjektifitas menjadi kanker dalam organisasi kita, yang seharusnya menjadikan perjuangan kolektif sebagai perwujudan tenaga kolektif kelas pekerja yang sadar. Kolektifitas diterjemahkan dan dipropagandakan sebagai konspirasi-konspirasi dan tidak lagi setia pada penjelasan-penjelasan ilmiah dan demokratis. Konspirasi-konspirasi menggerogoti kader-kader organisasi untuk tidak lagi peka pada pertarungan politik yang konkret dan utama di masyarakat, malahan kepekaan lebih ditujukan pada politik yang semakin virtual dan tidak memilik basis pertarungan kelas yang siginifikan. Perkembangan kekuatan produktif dalam bentuk teknologi informatika termasuk berkembangnya fasilitas fisik dan interaksi sosial berwujud “sosial media” tidak otomatis menjadi tambahan senjata progresif dalam perjuangan kelas pekerja. Banyak kader dan aktifis kiri terperangkap dalam dikte sosial media yang dangkal dan tersebar-sebar. Komunikasi berlangsung seperti hubungan antara klik-klik. Diantara klik-klik itu sensasi tentang persaingan dan pertempuran politik yang palsu terjadi. Singkatnya, perjuangan kelas menjadi semu akibat kegagalan menguasai ruang politik dan ruang hidup secara kolektif serta berimajinasi alternatif.

Kompensasi dari keterasingan politik yang terjadi akibat hidup dan politik semakin menjadi virtual dan tercerai berai ternyata muncul dalam bentuk politik destruktif. Prinsip dan mekanisme organisasi dianggap virtual dan semu juga, seolah-olah itu bukan hasil dari peradaban kolektif kita bersama di organisasi kelas pekerja ini. Kebutuhan propaganda dan penyatuan tenaga tidak dikerjakan secara serius, ditandai berantakannya kekuatan partisipasi berupa laporan dan pengumpulan sumber daya finansial (iuran) dari para kader. Sementara itu keinginan untuk merasa berpolitik menghasilkan ruang-ruang pertempuran yang justru dibangun di dalam organisasi sendiri. Pertempuran-pertempuran berdalih hak demokratis tidak pernah menghasilkan sesuatu yang produktif dan progresif mendinamisir kemajuan organisasi. Sebaliknya pertempuran-pertempuran dalam organisasi telah berhasil mendemoralisasi banyak anggota dan memberikan kebingungan diantara para simpatisan organisasi kita. Pada momen itu lah penyatuan tenaga juga memiliki konsekwensi berupa ketegasan untuk mendahulukan perang kelas yang sesungguhnya ketimbang pertempuran-pertempuran ajaib yang menguras emosi dan mengakibatkan kebingungan luas bagi khalayak, secara internal maupun secara luas.

Komite Pusat telah memilih untuk tidak mencerai beraikan prinsip sentralisme demokratis, tidak memilih hal yang disenangi saja demi memuaskan hasrat merusak yang disadari atau pun tidak. Kesetiaan pada prinsip sentralisme demokratis mengakibatkan Komite Pusat mengambil langkah-langkah pendisiplinan demi mempertahankan kesatuan tenaga perlawanan secara luas dan membendung penyebaran lebih luas lagi kanker sektarianisme dan logika konspiratif dalam organisasi. Komite Pusat akan dengan teguh mempertanggungjawabkan semua langkah dan kebijakan yang diambil dalam Kongres mendatang. Komite Pusat memilih untuk tidak kalah pada emosi serta mengutamakan nalar yang logis dan mengabdi pada tujuan strategis. Tentu saja manusia memiliki dimensi emosi, tapi Komite Pusat menyerukan kepada para pimpinan dan kawan-kawan kader sekalian untuk melihat kebutuhan belajar dari pengalaman mengatasi prahara dalam organisasi ini dengan menegakkan kedisiplinan dan kesetiaan pada pimpinan yang sah hasil Kongres II di tahun 2009. Tidak dipungkiri setiap perhitungan bisa saja salah, setiap tindakan bisa saja keliru, setiap target bisa saja tidak jitu, maka dari itu Komite Pusat mengajak para Anggota Dewan Nasional untuk membantu penegakan kekuatan secara internal di organisasi kita. Tidak ada kemenangan tanpa kesatuan yang solid dan tapi juga memiliki daya tahan berhadapan dengan segala guncangan.

Mari, buat yang progresif dari situasi saat ini, sehingga justru lebih banyak yang berkembang dari usaha pembusukan ini!

Mari belajar, bahwa keteledoran dalam menjalankan prinsip-prinsip organisasi pada waktu lama, telah membuahkan banyaknya sel-sel kanker yang berkembang dan membesar untuk membunuh badan tempat hidupnya sendiri!

Mari, belajar untuk menguatkan dasar-dasar kolektifitas kita melalui disiplin berjuang dan kesetiaan pada prinsip dan mekanisme demokratis, yang telah kita susun semenjak Konstitusi hingga praktek kepemimpinan harian selama ini!

Mari, menjadi teladan bagi kelas pekerja dan gerakan sosial lainnya, bahwa kita mampu semakin tegak dan semakin besar buat diri kita sendiri sebagai kolektif satu organisasi maupun buat seluruh kelompok kelas tertindas yang memiliki kesadaran berjuang bersama!

Kawan-kawan pimpinan, pengurus, dan anggota Dewan Nasional,

Dalam kesempatan rapat/sidang Dewan Nasional II masa Kongres II ini, Komite Pusat PRP membutuhkan konsultasi dan masukan strategis dari kawan-kawan atas tesis KP dalam pembangunan partai kelas (sebagaimana uraian di atas). Sekali lagi penyatuan perlawanan radikal dengan orientasi revolusi hanya mungkin dengan keterorganisasin, dengan kesetiaan dan kedisiplinan berjuang, serta dengan militansi yang membakar semangat. Kami minta para pimpinan dalam pertemuan Dewan Nasional ini meneguhkan jalan perjuangan kita.

Selamat melakukan Rapat Dewan Nasional dan jangan pernah lelah perjuangkan Sosialisme.

Jakarta 12 Mei 2011

Komite Pusat PRP

Iklan

Tinggalkan Komentar, Komentar anda akan kami moderasi terlebih dahulu. Harap jangan mengirimkan link yang tidak perlu, khususnya link yang mengandung iklan dan spam

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: