Tinggalkan komentar

Bebaskan Rakyat Pekerja dari Perlindungan Sosial Neoliberal!


(Tulisan ini merupakan Pidato Politik Pimpinan KP PRP dalam Rangka Merayakan Hari Jadi PRP yang Ke 7)

Adalah seorang haji dari Surakarta bernama Haji Misbach, yang digelari “Haji Merah”, pendiri PKI afdeling Surakarta, yang dalam khotbah-khotbahnya baik di media massa maupun di basis-basis massa selalu mengatakan, “Kemelaratan itu disebabkan adanya penghisapan dari kapitalisme. Mesin penggerak kapitalisme adalah ketamakan. Tetapi penghisapan dan penggerak kapitalisme adalah uang”. Haji Misbach mengkritik pedagang-pedagang batik di Surakarta yang hanya mengejar uang. Ia menohok kapitalis Belanda yang menghisap tenaga dan mengambil-alih alat produksi petani,  memberi upah kecil, dan menarik pajak. Residen Surakarta, Paku Buwono X, juga digugat karena ikut-ikutan menindas.

 Sebagai seorang redaktur sebuah surat kabar, Haji Misbach juga melakukan pengorganisiran di basis-basis rakyat, mengorganisir pemogokan dan rapat umum untuk melawan kolonialisme serta kapitalisme. Ujung dari seluruh aktivitasnya ini, Haji Misbach dibuang ke Manokwari, Papua sampai akhir hayatnya pada 1926.

Kami mengawali pidato ulang tahun Perhimpunan Rakyat Pekerja yang ke-7 ini dengan mengangkat kejuangan Haji Misbach. Mengapa? Karena ia seorang haji, pengkhotbah, dan pengorganisir rakyat pekerja yang mengalami kemiskinan akibat penindasan kolonialisme-kapitalisme Belanda yang didukung oleh birokrat feodal dan kaum pedagang muslim yang hanya memburu uang. Haji Misbach merupakan contoh seorang haji yang melaksanakan Islam dalam perspektif rakyat pekerja, dimana mencita-citakan kekuasaan rakyat pekerja dalam sistem Sosialis dan membangun partai politik, yakni PKI, untuk memimpin perjuangan rakyat pekerja bebas dari kemelaratan dan keterbelakangan.

Kita membutuhkan hadirnya pemimpin rakyat pekerja seperti Haji Misbach untuk melawan kapitalisme-neoliberalisme yang membuat kehidupan kaum buruh, kaum tani, kaum miskin kota, kaum nelayan, perempuan, mahasiswa, dan seniman rakyat, hidup dalam kemelaratan, ketergantungan, serta keterbelakangan seumur hidupnya.

Kawan-kawan Rakyat Pekerja seperjuangan,

Kemiskinan bukanlah cita-cita hidup kita, namun menurut hasil survey Institut Kajian Krisis dan Studi Pembangunan Alternatif (Inkrispena) pada 2010 menemukan data, bahwa keluarga rakyat pekerja hidup dalam lilitan hutang. Dengan penghasilan dari pabrik dan kerja sambilan, rata-rata pendapatan buruh per-bulan mencapai Rp 1.648.028,50. Sedangkan pengeluaran buruh setiap bulannya mencapai Rp 5.056.693 yang terdiri dari 17 item pengeluaran, dan yang terbesar adalah pengeluaran untuk pangan 11,8%, untuk perumahan 9,87%, dan untuk transportasi 8,96%. Sadarilah jika pendapatan kita sebesar Rp  1.648.028,50, sedangkan hutang kita sebesar Rp 5.056.693, maka setiap bulannya hidup buruh rata-rata dililit hutang sebesar Rp 3.408.664,50. Hutang itu diperoleh dari bank, rentenir, tukang kredit, koperasi, warung sembako, tetangga, pegadaian, warung makan, termasuk penjual pulsa. Kemudian dibayar secara mencicil dari gajinya tersebut, akibatnya, belum genap sebulan, kaum buruh harus mengambil hutang lagi untuk menutup biaya hidup sampai saatnya gajian. Terjadilah lingkaran setan gajian-belanja-hutang dalam kehidupan keluarga buruh secara khusus dan keluarga rakyat pekerja secara umum. Sekali pun UMP/UMK dinaikkan, tetaplah tidak mampu memutus lingkaran setan itu, karena kenaikan tersebut pada dasarnya hanyalah untuk menutup nilai inflasi.

Itulah sebabnya, PRP mengajak serikat buruh, serikat tani, serikat miskin kota, serikat nelayan, perempuan, dan mahasiswa untuk menuntut perlindungan sosial. Kita tidak cukup hanya menuntut upah. Selama tidak ada perlindungan dari pemerintah terhadap tata perdagangan dan harga barang, maka rakyat pekerja lah yang harus menanggung biaya konsumsi tinggi. Sekali lagi, biaya konsumsi tinggi itu harus dibayar oleh rakyat pekerja dari hutang dan hutang, sehingga menciptakan ketergantungan dan kemelaratan seumur hidup rakyat pekerja. Kondisi rakyat pekerja seperti inilah yang disebut sebagai dampak krisis kapitalisme.

Krisis kapitalisme adalah sebuah guncangan pada tatanan masyarakat yang bisa disebabkan oleh faktor eksternal, seperti bencana alam, perang, atau faktor internal, misalnya kelebihan produksi atau spekulasi finansial. Efek yang ditimbulkan oleh krisis adalah inflasi, ketidakadilan sosial, kemiskinan, kebodohan, keterasingan, dan kemelaratan. Dalam tatanan ekonomi neoliberal yang dianut negara kita saat ini, krisis adalah syarat bagi kapitalisme untuk tetap berjaya dengan cara terus menerus menciptakan ketidakadilan sosial ekonomi, kemiskinan, kemelaratan, dan kerentanan rakyat pekerja.

Teranglah, pemerintah harus melindungi warganegaranya dari kondisi krisis yang secara terus menerus terjadi. Perlindungan sosial yang telah diberikan pemerintah, berupa kredit PNPM Mandiri, Jamkesmas, dana BOS, BLT, pembagian sembako, kenaikan UMP/UMK, dan sekarang mengenai jaminan sosial merupakan reaksi terhadap krisis. Namun, perlindungan sosial tersebut sesungguhnya menguntungkan rezim neoliberal dan manipulatif bagi rakyat pekerja. Buktinya:

Pertama, perlindungan sosial tersebut hanya karitatif, yakni bersifat sedekah sesaat dan dananya berasal dari hutang Negara kepada bank kapitalis internasional, seperti World Bank. Tentu saja Negara harus membayar hutang tersebut, dan pembayaran itu diambilkan dari pajak rakyat pekerja. Sehingga, perlindungan sosial yang selama ini diberikan kepada rakyat pekerja bersifat manipulatif dan sama sekali tidak membebaskan kemelaratan rakyat pekerja.

Kedua, pelaksanaan perlindungan sosial tersebut tidak tepat sasaran kepada rakyat pekerja melainkan tersalur sesuai dengan watak KKN yang hidup di kalangan birokrat Indonesia. Disamping itu, dana-dana perlindungan sosial merupakan ladang korupsi untuk kekayaan pribadi dan kampanye diri ketika pemilu atau pemilukada.

Ketiga, perlindungan sosial yang saat ini sedang ramai dibicarakan rancangan undang-undangnya, yakni yang disebut sistem jaminan sosial Negara untuk kaum buruh, sejatinya adalah asuransi yang dikelola oleh lembaga bisnis keuangan. Buruh tetap membayar asuransi tersebut dengan cara memotong upahnya, dan dengan sistem outsourcing seperti saat ini, keamanan uang buruh yang dibayar ke asuransi tersebut rentan pemutihan.

Keempat, pada akhirnya kita bertanya: Apakah gunanya jaminan kesehatan pemerintah, kalau rakyat miskin tetap tidak dilayani di rumah sakit? Apa gunanya sembako gratis, kalau rakyat miskin tetap harus memikirkan apa yang akan mereka makan esok? Apa manfaatnya pembagian bantuan langsung tunai, kalau tidak ada pemasukan tetap? Apa gunanya sekolah gratis, kalau cuma sampai sekolah dasar dan pada akhirnya hanya menghasilkan tenaga ahli kelas bawah? Apa gunanya akses fasilitas kesehatan, jika rakyat miskin diharuskan membayar asuransi kesehatan? Dan apa gunanya penetapan upah minimum, jika rakyat masih harus berhutang untuk menutupi kebutuhan hidupnya?

Kawan-kawan Rakyat Pekerja seperjuangan,

Kita seharusnya menuntut dan mengajukan sistem perlindungan sosial atas dasar “10 AGAR”:

  1. Agar tidak mati terinjak saat pembagian sembako dan daging kurban
  2. Agar tidak perlu menganggur atau pergi ke Jakarta untuk cari kerja
  3. Agar tidak teraniaya majikan atau kehilangan pekerjaan
  4. Agar mendapatkan pelayanan kesehatan layak
  5. Agar gaji bulanan tidak sekedar lewat
  6. Agar tidak jadi orang pandir
  7. Agar tidak harus terjebak banjir dan macet tiap hari
  8. Agar tidak harus tinggal di pemukiman kumuh
  9. Agar tidak harus minum air tercemar
  10. Agar kesejahteraan tidak hanya jadi pepesan kosong

Atas dasar “10 AGAR” itulah, maka PRP menawarkan konsep perlindungan sosial yang menguntungkan rakyat pekerja. Pertama, jika konsep perlindungan sosial konvensional berorientasi pada pemberi (Negara atau badan bisnis), maka konsep perlindungan sosial rakyat pekerja harus dirumuskan berdasarkan kebutuhan yang disuarakan oleh penerima (rakyat pekerja). Kedua, perlindungan sosial rakyat pekerja harus dapat membebaskan  kemiskinannya, yang mencakup akses terhadap informasi, pendidikan, kesehatan, air bersih, listrik, telekomunikasi, transportasi, pangan, pekerjaan layak, dan kebebasan berserikat. Ketiga, perlindungan sosial harus diberikan sebelum krisis terjadi, persisnya pemerintah harus mencegah terjadinya krisis yang dialami rakyat pekerja sebagai krisis yang diciptakan dan dipelihara oleh kapitalisme. Oleh sebab itu, pemerintah harus berani memotong mata rantai krisis cipataan neoliberalisme.

Kawan-kawan Rakyat Pekerja seperjuangan,

Tuntutan atas perlindungan sosial rakyat pekerja dapat berhasil jika diperjuangkan dalam persatuan antar elemen rakyat pekerja. Sebab, masalah “10 AGAR” bukan hanya dialami oleh kaum buruh, melainkan juga oleh rakyat pekerja lainnya. Maka saatnya kita perluas gerakan, jangan hanya berhenti di serikat pabrik atau federasi saja, melainkan marilah kita rangkul elemen rakyat pekerja dalam satu barisan perjuangan yang dipimpin oleh partai rakyat pekerja. Kita dapat meneladani kejuangan Haji Misbach, sang haji merah, tanpa takut dan khawatir bahwa Sosialisme diharamkan oleh agama. Kita satukan berbagai agama, etnis, dan ras dalam satu perjuangan politik rakyat pekerja.

Akhirul-kalam, terima kasih atas kedatangan kawan-kawan rakyat pekerja pada ulang tahun PRP yang ke-7. Semoga PRP dapat berdiri teguh meski terus menarus diamuk badai dari empat penjuru mata angin, dan semoga persatuan perjuangan rakyat pekerja mencapai Sosialisme bukan hanya gagah sebagai slogan, namun material sebagai kemenangan! Jangan pernah lelah perjuangkan Sosialisme!

Sosialisme, Jalan Sejati Pembebasan Rakyat Pekerja

Sosialisme, Solusi Bagi Krisis Kapitalisme Global!

Bersatu, Bangun Partai Kelas Pekerja!

Tangerang, 13 Mei 2011

Komite Pusat Perhimpunan Rakyat Pekerja

(KP-PRP)

Iklan

Tinggalkan Komentar, Komentar anda akan kami moderasi terlebih dahulu. Harap jangan mengirimkan link yang tidak perlu, khususnya link yang mengandung iklan dan spam

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: