Tinggalkan komentar

Minyak Bumi dan Imperialisme Amerika Serikat*


Oleh: Mohamad Zaki Hussein**

Minyak bumi adalah salah satu sumber energi utama manusia saat ini. Karenanya, siapa yang mengontrol cadangan minyak bumi terbesar, dia secara relatif mengontrol dunia. Sementara itu, konsumen minyak bumi terbesar di dunia adalah Amerika Serikat. Pada tahun 1960-an, Amerika sudah tidak mampu memproduksi minyak bumi sendiri untuk memenuhi konsumsi dalam negerinya, sehingga ia mulai mengimpor minyak bumi dari negara-negara lain. Pada tahun 1970-an, situasi bertambah parah, karena produksi minyak bumi Amerika sudah mencapai batas maksimalnya. Sejak itu produksi minyak bumi Amerika mengalami penurunan sampai sekarang. Amerika pun tambah bergantung pada impor dari luar (Heinberg, 2005).

Kalau konsumen terbesar minyak bumi adalah Amerika Serikat, maka produsen minyak bumi terbesar adalah daerah Timur Tengah. Tidaklah begitu mengherankan kiranya jika berbagai konflik di Timur Tengah selalu melibatkan Amerika. Pada awalnya, Amerika berusaha mengontrol daerah Timur Tengah bukan melalui intervensi militer secara langsung, tapi melalui sekutu-sekutunya, yaitu Israel, Arab Saudi dan Iran (pada masa Shah, sebelum Revolusi Iran). Namun setelah embargo minyak OPEC terhadap Amerika pada 1970-an―karena dukungan Amerika terhadap Israel dalam perang Arab-Israel―yang berdampak pada naiknya harga minyak dunia, dan juga setelah digulingkannya Shah oleh Revolusi Iran, Amerika pun melihat bahwa kontrol hanya melalui para sekutunya tidaklah cukup, dan mulai membuka kemungkinan intervensi militer secara langsung (Heinberg, 2005; Harvey, 2003).

Jadi, kepentingan Amerika di Timur Tengah adalah minyak. Dan kepentingan ini semakin menguat dengan adanya relokasi industri di Amerika, karena relokasi industri membuat permintaan akan sumber energi minyak bumi di negara-negara berkembang meningkat, sehingga Amerika mendapat “pesaing baru” dalam hal konsumsi minyak bumi.  Adapun relokasi ini didorong oleh krisis yang mengguncang Amerika di tahun 1970-an. Tingkat pertumbuhan ekonomi Amerika pun menurun dari 4-5% menjadi 2-3% per tahun, sementara tingkat keuntungan ekonomi Amerika menurun dari 22% di tahun 1950 menjadi 12% di pertengahan tahun 1970-an (Moseley, 2003).

Untuk memulihkan tingkat keuntungan mereka, salah satu langkah yang diambil oleh perusahaan-perusahaan Amerika adalah relokasi industri ke negara-negara dengan upah buruh murah dan pajak yang rendah. Perkembangan teknologi komputer dan komunikasi memang memungkinkan adanya perusahaan yang secara spasial terdesentralisasi. Dampak relokasi ini adalah menghilangnya pekerjaan di Amerika. Antara akhir 1970-an dan pertengahan 1980-an, lebih dari 11 juta pekerja Amerika kehilangan pekerjaan karena penutupan pabrik, relokasi atau PHK. Pekerjaan yang paling banyak hilang adalah operator di manufaktur, pertambangan dan konstruksi. Sebagai gantinya, muncul pekerjaan-pekerjaan baru di sektor jasa yang berupah rendah (Perrucci & Perrucci, 2009).

Penting juga untuk disebutkan bahwa dampak dari relokasi ini adalah berubahnya posisi Amerika dari eksportir menjadi importir. Uniknya, Amerika mengimpor produk-produk yang sebenarnya dihasilkan oleh perusahaan Amerika sendiri yang berinvestasi di negara lain. Jadi, investasi Amerika di negara lain meningkat dari $75 milyar di tahun 1970 menjadi $716 milyar di tahun 1994, sementara impor Amerika dari negara-negara berkembang naik dari $3,6 milyar di tahun 1970 menjadi $30 milyar di tahun 1980 (Perrucci & Perrucci, 2009). Dengan cara ini, perusahaan-perusahaan Amerika bisa mendapatkan keuntungan lebih besar, tapi dengan mengorbankan pekerja Amerika yang kehilangan pekerjaan di negerinya.

Kembali ke soal minyak, bisa jadi juga ada “kepentingan militer” dalam kontrol atas minyak bumi ini, karena sumber energi utama alat-alat perang adalah minyak bumi, sehingga dalam perang, siapapun yang menguasai minyak bumi, memiliki kelebihan dibandingkan dengan lawannya. Ia bisa mematahkan perlawanan lawannya dengan memotong supply minyak bumi atas alat-alat perang lawannya (Harvey, 2003). Dan hal ini pernah dicoba oleh OPEC dalam perang Arab-Israel dengan mengembargo negara-negara pendukung Israel.

Kemudian, kepentingan minyak ini jugalah yang mendorong pemerintahan Bush melancarkan “Perang Melawan Terror” setelah serangan 9/11. Dalam perang Afghanistan, ada indikasi bahwa perang itu terkait dengan rute pipa minyak yang melewati Afghanistan. Pada akhir tahun 1990-an, memang sempat terjadi pembicaraan antara sebuah perusahaan minyak Amerika, Unocal yang sekarang sudah bergabung ke Chevron, dengan pemerintahan Taliban, mengenai rute pipa minyak yang melewati Afghanistan. Pembicaraan ini mengalami kegagalan. Menariknya, yang menjadi konsultan Unocal pada saat itu adalah Zalmay Khalilzad yang di masa Presiden Bush, menjadi penasihat keamanan nasional Presiden untuk Afghanistan dan Asia Tengah (Engdahl, 2004).

Perang Irak juga didorong oleh motivasi yang sama, yaitu kepentingan minyak. Kalau dilihat dari “alasan resminya,” kita bisa lihat bahwa argumen pemerintahan Bush berganti-ganti terus, mulai dari upaya menghubungkan Irak dengan serangan penyakit anthrax di AS, senjata pemusnah massal, persekutuan Saddam dengan Osama dan Al Qaida, sampai ke perlunya digantikan kediktatoran Saddam dengan demokrasi. Dan nyaris semua tuduhan pemerintahan Bush kepada Saddam tidak terbukti. Baru pada Juni 2003, tidak sampai sebulan setelah Bush mengumumkan secara resmi berakhirnya perang Irak, Wakil Sekretaris Pertahanan AS, Paul Wolfowitz, menyebutkan tujuan sebenarnya dari perang Irak di hadapan sebuah konferensi di Singapura. “Mari kita lihat persoalan ini secara sederhana. Perbedaan paling penting antara Korea Utara dan Irak adalah bahwa secara ekonomi, kita tidak punya pilihan lain di Irak. Negara itu berenang di lautan minyak,” ungkap Wolfowitz (Engdahl, 2004; Harvey, 2003).

Pada saat itu, keinginan Bush untuk berperang dengan Irak ditentang oleh banyak pihak. Rusia, Tiongkok, Perancis dan Jerman menentang secara terbuka keinginan AS tersebut. Tiga perusahaan Rusia memang sudah memiliki kontrak selama 23 tahun untuk mengembangkan ladang minyak di Qurna Barat. Sementara, Perusahaan Minyak Nasional Tiongkok sudah memegang kontrak minyak di Irak sebelah barat. Perancis juga sudah mendapatkan deal dari pemerintahan Saddam untuk mengeksploitasi minyak di Irak (Engdahl, 2004). Tapi, oposisi terhadap keinginan berperang Bush datang bukan hanya dari pihak-pihak yang sudah memiliki deal minyak dengan pemerintahan Saddam Hussein. Sebagian masyarakat dunia pun menentang keinginan Bush tersebut, terlihat dari aksi-aksi massa yang besar di segenap penjuru dunia. Namun, Bush tetap tidak peduli. Ia tetap pergi berperang meski tanpa persetujuan Dewan Keamanan PBB. Sejarah minyak memang berkait-kelindan dengan sejarah perang dan imperialisme Amerika.

Referensi

Engdahl, William. A Century of War: Anglo-American Oil Politics and the New World Order, ed. rev. London: Pluto Press, 2004.

Harvey, David. The New Imperialism. Oxford: Oxford University Press, 2003.

Heinberg, Richard. The Party’s Over: Oil, War and the Fate of Industrial Societies. Gabriola Island: New Society Publishers, 2005.

Moseley, Fred. “Marxian  Crisis  Theory  and  the  Postwar  U.S.  Economy,” 2003. http://www.mtholyoke.edu/~fmoseley/working%20papers/PWCRISIS.pdf .

Perrucci, Robert dan Carolyn C. Perrucci. America at Risk: The Crisis of Hope, Trust, and Caring. Lanham: Rowman & Littlefield Publishers, Inc., 2009.

________________________

* Tulisan ini dapat juga dilihat di: http://www.prp- indonesia.org/2012/minyak-bumi-dan-imperialisme-amerika-serikat

** Penulis adalah Pengurus Komite Pusat Perhimpunan Rakyat Pekerja

Iklan

Tinggalkan Komentar, Komentar anda akan kami moderasi terlebih dahulu. Harap jangan mengirimkan link yang tidak perlu, khususnya link yang mengandung iklan dan spam

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: