Tinggalkan komentar

Analisa Kelas dan Perjuangannya Dalam Pandangan Antropologi


Novaldi Azwardi (Penulis adalah anggota PRP Komkot Jakarta Pusat)

Pendahuluan

Setiap mendengar kata antropologi, pasti teringat suku-suku tradisional yang ada di pedalaman suatu daerah yang (biasanya) hidup tanpa teknologi canggih seperti Internet, smartphone atau bahkan jejaring sosial yang saat ini sedang mewabah. Namun, sebenarnya antropologi tidak sesederhana itu, tapi sesungguhnya antropologi bisa bahkan merupakan studi tentang suatu masyarakat dengan kebudayaannya yang unik. Di Indonesia, salah satu dedengkotnya antropologi Indonesia adalah Profesor Koentjaraningrat yang dengan tindakannya yang paling fenomenal dengan memindahkan antroplogi UI dari Fakultas Sastra ke Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP). Hal ini sebenarnya dilakukan agar studi antropologi lebih dekat ke sebuah ilmu sosial yang mengkaji tentang masyarakat walau dengan prinsip analisa suatu masyarakat tertentu, seperti halnya suatu masyarakat adat di Papua. Jelas hal ini terkait dengan hal yang paling dinajiskan di kampus Profesor Koetjaraningrat, yakni UI, yang kala itu dipimpin seorang jenderal antikomunis tulen, yakni teori-teori Marxisme.

Namun, karena pengawasan yang ketat ditambah Departemen Studi Antropologi masih baru, maka Profesor Koentjaranigrat tidak memasukkan teori Marxisme dalam studi antropologi, demi menjauhi dari masalah sang rektor UI yang antikomunis itu, apalagi waktu itu sedang giat-giatnya pembasmian setiap gerakan perlawanan dengan stigmatisasi komunis. Ketika Soeharto jatuh dari tampuk kekuasaannya, tak serta merta berarti studi Marxisme dapat diterima oleh para antropolog bahkan dalam studi antropologi yang terkait dengan studi ekonomi yang dimana terkait sekali dengan Marxisme dengan enggan menggunakan nama Antropologi Marxisme. Ini akibat 30 tahun propaganda rejim Orde Baru dan teror-teror lanjutan yang masih dirasakan hingga kini, yang membuat para ilmuwan Indonesia enggan mengkait-kaitkan dengan Marx. Maka dengan keberadaan buku Dede Mulyanto, yang merupakan dosen antropologi Universitas Padjajaran, yang mencoba mengisi kekosongan yang ditinggalkan dan mungkin diniatkan oleh Profesor Koentjaraningrat dengan menggunakan kerangka buku Sejarah Teori Antropologi.

Relasi Marxisme dan Antropologi

Antropologi sebagai sebuah disiplin keilmuan muncul 150 tahun yang lalu, lewat suatu pergulatan besar sampai ke titik darah penghabisan terhadap dogma-dogma keagamaan yang mendasari pandangan dunia feodal yang terkait dengan keillahian manusia. Hal ini dibuktikan ketika ditemukannya tengkorak Neanderthal dan belulangnya pada tahun 1848 di Gilbraltar yang mengubah pandangan dunia feodal. Hal ini makin diperkuat dengan Charles Darwin, Origin of Species pada tahun 1871.Yang menunjukan bahwa manusia mencabang dari keluarga spesies mirip manusia (anthropoid species). Hal ini menyangkal mitos tentang Adam dan Hawa di dalam pandangan feodal. Ini makin diperkuat dengan paleontologi arkeologi yang ditata dalam urutan waktu.

Pandangan Darwin ini kemudian dilanjutkan oleh Frederick Eengels, yang menulis esai “The Part Played in the Transition from Ape to Man.” Engels mengatakan bahwa kerja berperan penting dalam mengantar kera antropoid yang terkungkung alam menjadi manusia penakluk alam, akibat dirangsang oleh kegiatan kerja.

Antropologi pun beranjak dengan menyelidiki organisasi masyarakat primitif melalui pembacaan catatan etnografis dan temuan arkeologis. Hal yang baru sering ditemukan pada perikehidupan masyarakat primitif yang masih dalam karakter sistem produksi masyarakat berburu dan meramu, yang sangat menggemparkan karena terkait lembaga-lembaga sosial di dalam masyarakat primitif yakni masyarakat borjuis modern yakni persoalan matriarki vs. patriarki dan persoalan klan vs keluarga. Ini diperpanjang oleh Lewis Henry Morgan, seorang perintis antropologi di Amerika Serikat, yang dalam bukunya Ancient Society, mengungkapkan bahwa keluarga individual yakni ayah, ibu dan anak seperti berlaku di masyarakat borjuasi eropa, tidaklah pernah ada dalam tatanan masyarakat primitif dan secara esensial merupakan hasil peradaban semata. Sedangkan yang berperan penting dalam masyarakat purba adalah klan yang menata hubungan manusia berdasarkan ikatan-ikatan darah dan perkawinan .

Hal ini berlanjut pada landasan ekonomi dan hubungan sosial pokok masyarakat primitif dan modern. Masyarakat borjuis modern berlandaskan pada kepemilikan pribadi atas sarana-sarana produksi dan terpilah dalam pertentangan kelas bermilik dengan kelas tak bermilik, amat berbeda bahkan berkebalikan dengan masyarakat primitif yang dalam sarana produksi dimiliki bersama-sama, begitu juga buah hasil kerjanya.

Relasi antropologi dan Marxisme tak hanya dalam tulisan Frederick Engels, namun dimanfaatkan oleh Karl Marx dalam dua tujuan yakni yang bersifat retoris dan historis. Secara historis, Marx tertarik pada pada kebudayaan primitif karena mereka ingin membangun sebab-musabab munculnya kapitalisme. Sifat retoris yakni bahwa Marx membutuhkan antropologi guna membutuhkan bukti dan kasus yang ilmiah yang membuktikan bahwa lembaga-lembaga sosial dalam masyarakat borjuis merupakan ciptaan manusia belaka di dalam suatu babak sejarah tertentu dan oleh karena itu bisa diubah. Lembaga-lembaga tersebut berubah dan berkembang seiring dengan perubahan-perubahan dalam pola produksi kehidupan material masyarakat. Ini serupa dengan konsep evolusi masyarakat yang lebih kepada sarana produksi, yang berelasi dengan evolusi biologis ala Charles Darwin sebagai penjelas perubahan proses produksi dan reproduksi dalam masyarakat, karena menjelaskan mekanisme apa yang menghasilkan gagasan, prinsip-prinsip dan proses-proses yang menata masyarakat dalam babak sejarahnya hingga mencapai tatanan kapitalisme. Perubahan produksi itu tak hanya merubah masyarakatnya tapi akhirnya menciptakan sejarah pertentangan kelas.

Antropologi dan Sejarah Kelas

Perubahan-perubahan pola produksi memunculkan pembagian kerja secara sosial yang menentukan bentuk-bentuk hubungan sosial yang berakar dari hubungan produksi. Inilah awal terbentuknya suatu kelas. Ini juga mendesak mundur hukum-hukum kekerabatan yang disebabkan oleh pembagian kerja baru dan memunculkan hasilnya yaitu pemilahan masyarakat dalam kelas-kelas. Dengan  mengambil contoh  masyarakat Yunani kuno, Engels menyimpulkan bahwa kemajuan teknologi dan penciptaan surplus mula–mula menuntut pada pembagian kerja antara pengembala dan pencocok tanam dan antara pencocok tanam dengan pengrajin. Barang-barang hasil kerja beralih menjadi komoditi untuk pertukaran. Ketika keadaan menjurus seperti ini, kemungkinan akumulasi kekayaan perseorangan serta pemisahan masyarakat ke bdalam kelas-kelas berhak istimewa dan tidak berhak istimewa, menjadi mungkin. Ketika kepemilikan beralih melalui garis keluarga dan tidak melalui garis klan, pada saat itulah lembaga kepemilikan pribadi berkembang dan menjadikan keluarga batih menjadi kekuatan yang berseberangan dengan klan atau kelompok kekerabatan yang luas. Inilah yang menyebabkan peran antropologi dalam hal analisa kelas berkait satu sama lain terutama terkait efek perubahan pola produksi terhadap sistem kekerabatan masyarakat purba.

Kelahiran Kapitalisme dan Masyarakat Borjuasi

Lahirnya kapitalisme diawali ketika perdagangan berkembang kembali dari kota-kota Italia seperti Venesia, Genoa dan Pisa di mana pada masa feodal sangat sedikit sekali, dan berhubungan dengan perdagangan dengan Timur Tengah dan Afrika berjalan. Kota-kota mulai berkembang sebagai ruang sosial ekonomi, yang dahulunya hanya sebagai pusat-pusat pemerintahan. Hal ini juga perubahan besar dalam struktur sosial. Orang-orang yang menghuni kota membentuk golongan sendiri yakni kaum warga kota (burgher) yang kian hari meningkat kekuasaan dan martabatnya. Mereka tidak terikat pada dan bukan hamba tuan tanah tapi orang bebas. Berapa di antara mereka bahkan bisa mengumpulkan kekayaan yang luar biasa banyak sehingga mampu memperjuangkan otonomi mereka sendiri. Kelas  warga kota ini mempunyai kemampuan membaca, menulis dan berhitung. Khusus berhitung, mereka tidak segan mengadopsi pengetahuan yang lebih mudah dan parktis yang diharamkan oleh para rohaniawan, karena mengadopsi pemungutan sistem angka Arab yang lebih praktis daripada angka Latin, karena mengunakan nol dalam sistem hitung. Selain itu juga tinggal di kota-kota tersebut para pengrajin yang terorganisasi ke dalam gilda-gilda atau serikat-serikat usaha sejenis. Organisasi ini mengatur perizinan usaha-usaha untuk mendirikan usaha kerajinan kepada orang lain, penentuan harga-harga, pengembangan teknik-teknik produksi dan lainnya.

Pada abad ke-14 hingga pertengahan abad ke-15, terjadi kemunduran ekonomi secara luas  karena sebelumnya terjadi bencana yang konon memakan korban tidak kurang dari sepertiga penduduk Eropa yaitu wabah sampar atau kematian hitam (black death). Namun pada akhir abad ke-15 lahir kelompok pengusaha baru yang tidak lagi termasuk golongan warga kota kaya yang lama. Golongan ini berasal dari dari para burgher yang tersingkir dari ekonomi lama. Mereka inilah cikal bakal kelas borjuasi yang merintis pendirian industri-industri baru. Bahkan para pekerjanya bukan pekerja gilda yang berstatus magang tapi sebagai pekerja  upahan. Mereka berasal dari petani yang melarikan diri akibat perang persaingan antar bangsawan. Hal ini membuat mereka tak punya apa-apa lagi kecuali tenaga kerjanya, dan merekalah cikal bakal proletariat dalam formasi sosial kapitalis. Mereka dijadikan komoditi yang diperjual belikan yang dikarenakan represifitas kekuasaan pada masa itu, mau tak mau mereka harus menjual tenaga kerja mereka sekecil apapun upahnya. Bahkan dalam kasus yang ditemukan Karl Marx, mereka hanya diberikan makan dan minum saja! Sementara kelas industrialis yang meraup laba besar dari penghisapan brutal seperti ini hidup bergelimang harta dengan rentangan waktu yang cukup luas untuk melahirkan ilmuwan, filsuf, dan seniman ulung. Di titik inilah kapitalisme muncul sebagai corak produksi dominan yang berdiri di atas reruntuhan ekonomi feodal.

Negara dan Perjuangan Kelas Dalam Pandangan Antropologi

Dalam antropologi, teori Marx dan Engels sering disebut dengan teori konflik. Pandangan Marx yang klasik mengatakan bahwa negara adalah suatu badan politik yang terutama berfungsi melindungi kepentingan ekonomi-politik kelas sosial yang mendominasi.

Berlangsungnya suatu negara sama sekali tidak berlandaskan pada kehendak individual. Negara hasil perjuangan kelas memperebutkan kepentingan material yang berujung pada pemaksaan kelas pemenang atas kelas yang lain. Hal ini dibenarkan ahli antropolog politik, Morton Fried, bahwa lahirnya negara cenderung karena adanya pelapisan sosial. Ini karena adanya kelompok-kelompok yang bisa mempunyai hak-hak istimewa dan harus dijamin dan dilindungi dari golongan orang yang tidak mempunyai hak-hak istimewa agar tidak diambil dengan penguasa yang memegang kekuasaan sebagai unsur pertama dan terpenting.

Bukti-bukti dari Mesopotamia dan Mesir kuno mendukung banyak sisi penjelasan Marxis atas terbentuknya negara. Ketimpangan kekayaan begitu besar. Demikian juga perbudakan ada dalam kehidupan ekonomi dalam wujud kerja-kerja pembangunan monumen, perang irigasi, dan jaringan perdagangan. Arkeolog Kipp dan Schortman, misalnya, berpendapat bahwa faktor penting dalam banyak kasus pembentukan negara adalah dampak ketidakstabilan dari pasar-pasar barang mewah terhadap tatanan ekonomi masyarakat. Selain itu, ada lembaga yang paling penting ketika masyarakat yang tadinya berpindah-pindah menjadi menetap, yakni peperangan. Peperangan mempengaruhi kependudukan masyarakat pengolahan lahan pertama. Penilaian tinggi terhadap laki-laki dan penistaan perempuan meningkatkan tekanan pada pertumbuhan penduduk. Oleh karena itu, penyerbuan terhadap desa-desa tetangga dan menambah tawanan merupakan jalan keluar kelangsungan produksi. Kondisi ini memunculkan ‘orang besar’ yang menjadi pemimpin berpengaruh. Pemimpin bertindak sebagai ”simpul” dari tiga lembaga menuju masyarakat kompleks, yakni peningkatan produksi, pengambilan dan penyebaran kelebihan hasil produksi dan komoditi, serta penggunaan hak istimewa dan kedudukan untuk memimpin pertempuran atau perdagangan dengan desa-desa tetangga.

Negara kapitalis berlandaskan pada ideal-ideal borjuis modern: kebebasan, persamaan, dan persaudaraan yang bersandarkan pada masyarakat kapitalis yang bebas. Namun, menurut Lenin, kebebasan ini semu belaka. Berlandaskan kepemilikan pribadi atas sarana-sarana produksi dan kekuatan kapital di tangan segelintir orang, masyarakat kapitalis sesungguhnya menyuguhkan kebebasan hanya bagi si pemilik sarana produksi dan penguasa kapital. Orang lainnya harus tunduk pada aturan si pemilik untuk memperoleh akses ke sarana produksi. Orang-orang yang tidak mempunyai sarana produksi tidak bebas untuk menentukan aturan ini. Dan untuk mendukung aturan-aturan tersebut negara berperan penting, dengan segala daya yang dimiliki negara dicurahkan untuk kelas kapitalis.

Dalam kapitalisme, seperti juga ragam-corak produksi lain, harus ada organisasi dan lembaga-lembaga yang mengendalikan semua aspek formasi sosial, entah menyangkut kehidupan material, keadilan atau ketertiban sosial, adat, dan kepercayaan. Dalam corak produksi primitif, asas pengorganisasian itu adalah sistem kekerabatan dengan jaringan timbal-baliknya. Dalam perupetian, asas itu adalah pengusaan terpusat dengan hierarki aristokrat dan kependetaan yang terkait dengannya. Dalam kapitalisme, azas itu adalah kapital dengan segala kelakuan dan sifatnya. Negara modern melaksanakan tugas-tugas formal pemerintahan, yaitu menegakkan ketertiban dan melanggengkan landasan terpenting yaitu kepemilikan pribadi. Pengaruh wilayah ekonomis (kepentingan kelas) pada wilayah politik dan sosial (kepentingan negara) yang terjalin dengannya karena itu tidak melibatkan sesuatu keterhubungan mekanis dan kepasifan.

Namun, dalam suatu kelas dominan, pasti akan ada faksi-faksi dengan kepentingan-kepentingan berlainan di dalamnya. Faksi-faksi ini tidak jarang bertarung demi kepentingan layaknya lembaga mandiri. Negara akan melindungi kepentingan sesuai kepentingan layaknya lembaga mandiri. Negara akan melindungi kepentingan jangka panjang kelas dominan dan mengendalikan setiap ancaman dari kelas pekerja serta ancaman dari kelas atau faksi-faksi dalam kelas dominan sendiri yang karena keterpinggiran politik dan ekonominya dapat bertindak menentang negara.

Menurut Engels, ada kemungkinan kasus yang terkait dengan hubungan perkembangan ekonomi dan negara yaitu: 1) kekuasaan negara bisa mempercepat perkembangan ekonomi. 2) kekuasaan negara memperlambat atau menekan perkembangan. 3) kekuasaan tersebut mengubah arah dan ciri perkembangan ekonomi. Ini keduanya mempunyai hubungan tak setara di mana perkembangan ekonomi bisa bertahan lebih lama ketimbang kekuasaan negara. Tapi, sekali lagi Engels tak menolak tataran politik negara dan menyatakan bahwa di antara kasus dua dan tiga kekuatan politik bisa sungguh-sungguh merusak perkembangan ekonomi dan menguras daya dan material.

Quo Vadis Antropologi?

Antropologi adalah sebuah disiplin keilmuan yang dilahirkan rahim revolusi borjuis Eropa dan tumbuh dewasa dalam penjajahan. Sedangkan Marxisme meski dilahirkan oleh ibu yang sama namun ia diasuh oleh perlawanan terhadap kodrat menindas kapitalisme. Oleh itulah, ketika antropologi menjadi pemandu para penjajah menegakan nilai-nilai kapitalisme di dunia, Marxisme justru menjadi pegangan dalam perlawanan terhadap cengkeraman kapitalisme, di manapun sistem itu berada.

Di Indonesia, antropologi digunakan untuk mengabdi pada pembangunan, serta melapangkan geraknya kapital ke manapun berada, dengan cara mengumpulkan data-data etnografi yang dianggap penting oleh kekuasaan. Para antropolog dibiayai ke luar negeri studinya, selalu saja pulang membawa tentang orang kampungnya sendiri yang salinannya disimpan di Library of Congress sambil meyakini sepenuh hati netralitas pengetahuan.

Bila bukan haram, pemanfaatan konsep Mmarx dianggap makruh, artinya orang akan berpahala bila meninggalkannya meski tidak akan berdosa bila menggunakannya. Hilmar Farid mengamati lenyapnya konsep kelas Marxian dalam daftar konsep-konsep ilmu sosial indonesia. Lewat konsep kelasnya, Marx memandang bahwa konflik bukan hanya bentuk interaksi sosial, tetapi merupakan satu-satunya bentuk interaksi hakiki dalam setiap masyarakat berkelas.

Antropologi merupakan bagian tak terpisahkan dari gelombang besar revolusi-revolusi sosial di Indonesia. Antropologi menjadi amat revolusioner ketika dia mampu membongkar tentang asal-usul masyarakat berdasarkan hubungan kekerabatan. Teori evolusi yang merupakan prinsip awal antropologi, mampu dibaca oleh Engels dan Marx untuk digunakan sebagai senjata perjuangan kelas. Penulis mengunakan realitas masyarakat sebagai pengungkapan tentang relasi yang kuat antara Marxisme yang berlandaskan teori tentang perjuangan dalam suatu masyarakat dengan antropologi yang berlandaskan pada hubungan kekerabatan, yang merupakan inti dari suatu masyarakat. Kini tinggal para antropolog indonesia selain Dede Mulyanto, mau menjadikan apa antropologi Indonesia.

Iklan

Tinggalkan Komentar, Komentar anda akan kami moderasi terlebih dahulu. Harap jangan mengirimkan link yang tidak perlu, khususnya link yang mengandung iklan dan spam

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: