Tinggalkan komentar

Demokrasi Dibajak Partai Politik Korup, Pengemplangan Pajak oleh Elit Politik Menyengsarakan Rakyat!


(Tulisan ini Merupakan Pernyataan Sikap Partai Rakyat Pekerja)

Salam rakyat pekerja,

Korupsi daging sapi impor oleh kader Partai Keadilan Sejahtera (PKS) semakin menunjukkan partai-partai politik yang duduk di parlemen saat ini hanyalah mementingkan kepentingan politiknya saja, tanpa pernah memikirkan kepentingan rakyat Indonesia. Sudah beberapa nama elit-elit partai politik terjebak dalam berbagai kasus korupsi. Sebelumnya, beberapa kader partai politik yang lainnya juga telah dipanggil oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) untuk berbagai kasus korupsi yang pernah mencuat di Indonesia. Artinya, partai-partai politik yang lain juga terlibat dalam praktik korupsi yang sedang menjadi trend ini.

Hal ini sebenarnya tidak aneh, mengingat kepentingan partai politik yang saat ini berkuasa hanyalah ingin menjaga perolehan suara partai tersebut dengan menerapkan politik uang di Pemilihan Umum (Pemilu) dan Pemilihan Kepala Daerah (Pemilukada). Dengan alasan biaya politik untuk turut serta dalam kontes Pemilu di Indonesia membutuhkan biaya yang tinggi, maka elit-elit partai politik tersebut melakukan berbagai korupsi untuk kepentingan partai politiknya. Untuk menutupi kebutuhan biaya politik yang tinggi, maka partai-partai politik akan memanfaatkan kader-kadernya yang duduk di kementerian, lembaga-lembaga pemerintahan, DPR, dan instansi lainnya, baik di pusat maupun daerah, untuk mendulang modal politik dalam menghadapi kontes Pemilu dan Pemilukada.

Korupsi yang dilakukan oleh kader-kader partai politik tersebut jelas bukan hanya kesalahan oknum atau individu saja. Namun korupsi yang dilakukan oleh kader-kader partai politik tersebut memang merupakan strategi yang diterapkan oleh partai politik dalam menambah pundi-pundi keuangannya. Fenomena ini jelas akan semakin menjerumuskan rakyat Indonesia ke dalam jurang kemiskinan. Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK) mengungkapkan, bahwa 70 persen anggaran telah dikorupsi oleh elit-elit politik. Padahal anggaran tersebut seharusnya dapat dinikmati oleh rakyat Indonesia.

Untuk itu, juga tidak aneh jika partai-partai politik yang berada di dalam parlemen pusat dan daerah akan memainkan politik anggaran yang menguntungkan bagi kepentingan partai-partai politik tersebut. Partai-partai politik akan memperjuangkan porsi anggaran yang besar untuk suatu pos tertentu sehingga nantinya dapat dikorupsi oleh kader-kadernya. Hal ini dapat dibuktikan dari ketidakefektifan porsi anggaran yang tercantum dalam APBN dari tahun ke tahun. Porsi anggaran yang besar dalam APBN pada kenyataannya tidak pernah diperuntukkan bagi kepentingan rakyat Indonesia.

Partai-partai politik tersebut juga akan meloloskan berbagai kebijakan yang menguntungkan para pemilik modal, dengan harapan para pemilik modal tersebut akan memberikan sumbangan atau bantuan dana untuk kepentingan operasional partai politik dan kampanye dalam Pemilu serta Pemilukada. Hal ini juga lah yang akhirnya menyebabkan berbagai produk kebijakan yang dimunculkan oleh partai-partai politik melalui parlemen, kerap kali tidak pernah berpihak kepada rakyat, namun lebih berpihak kepada kepentingan para pemilik modal, seperti UU Ketenagakerjaan, UU Penanaman Modal, UU Migas, dan produk kebijakan lainnya.

Sementara di sisi lain, korupsi yang dilakukan oleh elit-elit politik tersebut, bukan hanya akan dinikmati oleh partai politik saja, namun juga akan dinikmati oleh elit politik yang melakukan praktik korupsi tersebut. Limpahan dana yang besar dari praktik tersebut akan memakmurkan kehidupan para elit politik. Kekayaan para elit politik tersebut juga sangat jarang dilaporkan sehingga mereka juga kerap kali terbebas dari kewajiban membayar pajak.

Keluarga SBY pun diketahui tidak pernah melaporkan sumber kekayaannya, sehingga mereka selama ini terbebas dari kewajibannya membayar pajak. Seperti yang diungkap oleh harian Jakarta Post pada 30 Januari 2013, dalam Surat Pemberitahuan Tahunan (SPT) tahun 2011 tertulis SBY memperoleh penghasilan Rp 1,37 miliar selama setahun sebagai Presiden dan tambahan Rp 107 juta dari sejumlah royalti. Namun SBY tidak pernah menyebutkan detail sejumlah penghasilan yang didapatkan sepanjang tahun 2011 tersebut. Dalam dokumen yang sama juga terungkap, bahwa pada tahun 2011 SBY membuka sejumlah rekening bank yang total nilainya mencapai Rp 4,98 miliar dan US$ 589.188 atau sekitar Rp 5,7 miliar. Tetapi hal ini juga tidak disebutkan detail sumber dana sebanyak itu.

Sementara SPT Agus Harimurti (anak Presiden SBY) tahun 2011 memperlihatkan, Agus memperoleh penghasilan tahunan Rp 70,2 juta. Namun dalam dokumen pajak tersebut juga disebutkan, bahwa Agus membuka empat rekening bank berbeda dan sebuah akun deposito dengan total Rp 1,63 miliar. Sementara tidak pernah ada informasi di dokumen tersebut mengenai sumber-sumber dana tersebut, padahal dokumen resmi hanya menyebutkan penghasilan tahunan Agus hanya Rp 70,2 juta. Lain lagi dengan Edhie Baskoro atau Ibas, yang dalam SPT tahun 2011, disebutkan memperoleh penghasilan Rp 183 juta sebagai anggota DPR. Selain itu ia juga memiliki investasi sebesar Rp 900 juta di PT Yastra Capital, deposito sebesar Rp 1,59 miliar dan uang tunai yang totalnya mencapai Rp 1,57 miliar. Namun Ibas tidak menyebutkan dalam SPT mengenai pendapatan lainnya seperti pembayaran dividen, donasi, saham atau jenis investasi lainnya. Hal ini menjadi sebuah kejanggalan karena selama ini besaran pajak yang dibayarkan Ibas kepada negara hanya Rp 20 juta. Padahal total aset Ibas (dalam SPT tahun 2010) sebesar Rp 6 miliat, yang termasuk sebuah mobil Audi Q5 SUV dengan harga Rp 1,16 miliar.

Dari laporan tersebut dapat diindikasikan bahwa selama ini SBY beserta kedua anaknya telah melakukan penggelapan pajak. Menjadi tidak aneh, jika beberapa perusahaan multinasional dan elit-elit politik lainnya juga melakukan penggelapan pajak yang serupa seperti yang dilakukan oleh keluarga SBY. Sementara di sisi lain, rakyat Indonesia secara sadar atau tidak sadar selalu saja dibebankan oleh kewajiban membayar pajak untuk kepentingan pembangunan. Namun lagi-lagi hal ini menunjukkan bahwa perilaku partai politik, elit politik, penguasa hingga para pemilik modal memang hanya mencari keuntungan dari hasil keringat rakyat Indonesia.

Dari berbagai perilaku partai-partai politik, elit politik, penguasa hingga para pemilik modal di atas, sudah saatnya rakyat Indonesia untuk menggugat dan menuntut hak-haknya sebagai warga negara. Sudah saatnya rakyat Indonesia untuk mendepak dan tidak mempercayai partai-partai politik borjuis dan elit-elit politiknya yang telah nyata-nyata hanya menyengsarakan rakyat. Sudah saatnya juga, rakyat Indonesia untuk mulai bersatu dan membangun kekuatan politik alternatif baru untuk melawan dan menghancurkan partai-partai politik tersebut, serta penguasa rezim neoliberal selama ini.

Maka dari itu, kami dari Partai Rakyat Pekerja menyatakan sikap:

Menyerukan kepada seluruh rakyat Indonesia untuk menyatakan ketidakpercayaan terhadap partai-partai dan elit-elit politik korup yang selama ini telah membajak hak-hak rakyat Indonesia, dengan melalui penggalangan mosi tidak percaya terhadap pemerintahan Indonesia saat ini.

Bangun persatuan gerakan rakyat untuk melawan seluruh kebijakan-kebijakan rezim neoliberal yang memiskinkan dan menyengsarakan rakyat Indonesia;

Bangun kekuatan politik alternatif dari seluruh gerakan rakyat untuk menggulingkan rezim neoliberal dan menghancurkan sistem neoliberalisme di Indonesia;

Kapitalisme-neoliberal telah gagal untuk mensejahterakan rakyat dan hanya dengan Sosialisme lah maka rakyat akan sejahtera.

Jakarta, 5 Pebruari 2013

Komite Pusat – Partai Rakyat Pekerja (KP-PRP)

Iklan

Tinggalkan Komentar, Komentar anda akan kami moderasi terlebih dahulu. Harap jangan mengirimkan link yang tidak perlu, khususnya link yang mengandung iklan dan spam

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: