Tinggalkan komentar

Pembunuhan Di LP Cebongan Bukan Pemberantasan Preman, Rezim Neoliberal Memelihara Premanisme.


(Tulisan ini merupakan Pernyataan Sikap KP-PRP)

Salam rakyat pekerja

Sudah beberapa hari belakangan ini kasus pembunuhan terhadap 4 orang tahanan titipan di Lembaga Pemasyarakatan (LP) Kelas II-B Cebongan, Sleman, Yogyakarta menjadi menjadi berita hangat. Pelaku pembunuhan tersebut pun telah diumumkan oleh Ketua Tim Investigasi TNI AD, Birgjen Unggul Yudhoyono yang menyatakan, bahwa pelaku pembunuhan tersebut adalah 11 orang anggota Grup II Kopassus Kandang Menjangan, Kartasura, Jawa Tengah.

Komandan Jenderal Komando Pasukan Khusus (Danjen Kopassus), Mayjend Agus Sutomo telah menyatakan, bahwa penyerangan dan pembunuhan tersebut dilatarbelakangi oleh balas dendam yang dilandasi jiwa korps satuan (korsa). Dengan semangat jiwa korsa tersebut, maka para anggota Kopassus kemudian melakukan penyerangan dan pembunuhan terhadap kelompok tersangka pembunuh salah satu anggota Kopassus di LP Cebongan.

Namun menariknya, saat ini ada pergeseran isu dari pembunuhan terhadap para tersangka di LP Cebongan menjadi pemberantasan preman. Komisi III DPR RI bahkan secara tegas menyebutkan, bahwa pemicu pelaku pembunuhan para tersangka tersebut adalah kasus premanisme. Puja puji kepada para anggota Kopassus yang melakukan penyerangan LP Cebongan dan pembunuhan di dalam institusi tersebut mengalir deras, baik dari para pemerintah, militer, hingga masyarakat. Mereka seakan-akan dianggap sebagai pahlawan, karena telah melakukan operasi pemberantasan preman. Bahkan sempat ada usulan dari mantan Kepala BIN, AM Henroproyono, untuk memberikan tanda jasa kepada para anggota Kopassus tersebut.

Pergeseran isu dari pembunuhan menjadi pemberantasan preman hingga pujian kepada para anggota Kopassus seperti menjadi pembenaran atas tindakan pembunuhan para tahanan titipan di LP Cebongan. Padahal jelas yang terjadi di LP Cebongan adalah pembunuhan tahanan kepolisian oleh anggota Kopassus dengan menggunakan senjata yang dibeli dari pajak rakyat.

Tidak ada alasan apapun yang dapat membenarkan suatu pembunuhan, apalagi pembunuhan tersebut dilakukan oleh aparat keamanan terhadap rakyatnya. Para tahanan tetap memiliki hak untuk dilindungi oleh negara serta dijamin haknya di dalam konstitusi. Apalagi mereka, para tahanan titipan itu, belum divonis bersalah oleh pengadilan.

Ironisnya, jika pembunuhan yang dilakukan oleh para anggota Kopassus tersebut dianggap sebagai pemberantasan preman serta diberikan pujian atau bahkan pengharagaan, di sisi lain, kriminalisasi terhadap rakyat terus berlangsung hingga hari ini. Para petani yang mempertahankan lahannya dari serbuan pemilik modal pada akhirnya dikriminalisasi oleh rezim neoliberal. Begitu juga para buruh yang dianggap melawan kebijakan pengusaha atau pemerintah yang tidak pro terhadap nasib buruh, akhirnya juga banyak yang dikriminalisasi.

Jika premanisme tidak bisa diberantas oleh para aparat keamanan, hal ini sebenarnya malah menunjukkan bahwa rezim neoliberal saat ini tidak bisa dan tidak mampu untuk memberantas premanisme yang telah meresahkan masyarakat. Artinya, rezim neoliberal telah gagal untuk melindungi rakyatnya agar mendapatkan rasa aman dan terbebas dari rasa takut. Namun hal ini tidak aneh, mengingat rezim neoliberal memang selalu melindungi berbagai bentuk premanisme demi kepentingannya maupun kepentingan para pemilik modal. Rezim neoliberal dengan sengaja memelihara pasukan preman untuk meredam aksi-aksi gerakan buruh, gerakan tani, dan gerakan rakyat lainnya, atau bahkan menghambat kebebasan rakyat untuk melakukan ibadah sesuai dengan keyakinannya.

Maka dari itu, kami dari Partai Rakyat Pekerja menyatakan sikap:

Pembunuhan terhadap tahanan titipan di LP Cebongan bukanlah aksi pemberantasan preman. Tindakan tersebut murni pembunuhan yang dilakukan oleh aparat keamanan, dimana menggunakan peralatan persenjataan milik negara yang dibeli dari pajak rakyat;

Rezim neoliberal telah gagal untuk memberikan rasa aman bagi rakyatnya, karena tidak mampu dan tidak mau memberantas aksi-aksi premanisme di Indonesia;

Bangun persatuan seluruh gerakan rakyat untuk melawan seluruh kebijakan rezim neoliberal yang telah menyengsarakan dan memiskinkan rakyat;

Bangun kekuatan politik alternatif dari seluruh gerakan rakyat untuk menggulingkan rezim neoliberal dan menghapuskan sistem neoliberalisme di Indonesia;

Kapitalisme-neoliberal telah gagal untuk mensejahterakan rakyat dan hanya dengan SOSIALISME lah maka rakyat akan sejahtera

Iklan

Tinggalkan Komentar, Komentar anda akan kami moderasi terlebih dahulu. Harap jangan mengirimkan link yang tidak perlu, khususnya link yang mengandung iklan dan spam

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: